Sunday, September 13, 2020
Kabupaten Bojonegoro
Kabupaten Bojonegoro merupakan salah satu kabupaten yang berada di wilayah administrasi Provinsi Jawa Timur. Apabila dilihat secara geografis kabupaten ini terletak pada koordinat 111º25' BT - 112º09' BT dan 6º59' LS - 7º37' LS. Secara administrasi terdiri dari 28 kecamatan. Kabupaten yang berjarak ± 110 Km dari ibukota Propinsi Jawa Timur ini memiliki luas 230.706 Ha, yang terbagi dalam 27 kecamatan, terpecah menjadi 419 desa dan 11 kelurahan.
Kecamatan yang ada di Kabupaten Bojonegoro antara lain : Kecamatan Margomulyo, Kecamatan Ngarho, Kecamatan Tambakrejo, Kecamatan Ngambon, Kecamatan Sekar, Kecamatan Bubulan, Kecamatan Gondang, Kecamatan Temayang, Kecamatan Sugihwaras, Kecamatan Kedungadem, Kecamatan Kepohbaru, Kecamatan Baureni, Kecamatan Kanor, Kecamatan Sumberejo, Kecamatan Balem, Kecamatan Sukosewu, Kecamatan Kapas, Kecamatan Bojonegoro, Kecamatan Trucuk, Kecamatan Dander, Kecamatan Ngasem, Kecamatan Kulitidu, Kecamatan Malo, Kecamatan Purwosari, Kecamatan Padangan, Kecamatan Kasiman, Kecamatan Kadewan dan Kecamatan Gayam.
Adapun batas-batas administrasi Kabupaten Bojonegoro adalah sebagai berikut:
Sebelah Utara : Kabupaten Tuban
Sebelah Timur : Kabupaten Lamongan
Sebelah Selatan : Kabupaten Madiun, Nganjuk dan Jombang
Sebelah Barat : Kabupaten Ngawi dan Blora (Jawa Tengah)
Topografi Kabupaten Bojonegoro
Topografi Kabupaten Bojonegoro banyak dipengaruhi oleh sungai Bengawan Solo yang membelah wilayahnya. Di sepanjang daerah aliran sungai Bengawan Solo sebelah utara (Pegunungan Kapur Utara) merupakan daerah dataran rendah, sedangkan di bagian Selatan didominasi oleh dataran tinggi disepanjang kawasan Gunung Pandan, Kramat dan Gajah (Pegunungan Kapur Selatan). Untuk kemiringan tanah, wilayah Kabupaten ini didominasi oleh lahan dengan kemiringan kurang dari 2% yaitu sebesar 55,10%, adapun kemiringan di atas 40% sebesar 1,24% dari luas wilayah keseluruhan.
Jenis Tanah Kabupaten Bojonegoro
Grumosol merupakan jenis tanah yang paling banyak terdapat di wilayah kabupaten ini, yaitu seluas 88.937 Ha yang umumnya berada di bagian selatan. Sedangkan di bagian utara yang merupakan daerah pesisir didominasi oleh tanah alluvial dengan luas 46.349 Ha. Di bagian hutan berupa lapisan mediteranian yang terdiri atas batu cadas seluas 44.549 Ha. Sisanya berupa litosol yang memiliki luas 50.871 Ha.
Klimatologi Kabupaten Bojonegoro
Secara umum, curah hujan di Kabupaten Bojonegoro tidak terlalu tinggi, dimana kecamatan yang mempunyai curah hujan rata-rata paling tinggi yaitu Kecamatan Baureno dan Sukosewu Penyinaran tertinggi terjadi pada bulan Agustus atau September, sedangkan penyinaran terendah terjadi pada bulan Desember - Februari. Dari 15 kecamatan, hujan paling sering terjadi di Kecamatan Sukosewu yaitu sebanyak 127 hari, hujan paling sedikit muncul di Kecamatan Ngraho yaitu hanya 48 hari.
Pola Penggunaan Lahan Kabupaten Bojonegoro
Hutan yang terdiri dari hutan lindung, hutan produksi dan hutan rakyat merupakan penggunaan lahan terluas di Kabupaten ini pada tahun 2010. Dilanjutkan dengan lahan pertanian berupa sawah dan tegalan/ ladang, permukiman serta perkebunan.
Wednesday, September 5, 2018
Kabupaten Penajam Paser Utara merupakan daerah pemekaran dari Kabupaten Paser, sesuai dengan diterbitkannya UU No.7 Tahun 2002 tanggal 10 April 2002 tentang “Pembentukan Kabupaten Penajam Paser Utara” dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :
Sebelah Utara : Kecamatan Loa Kulu dan Kecamatan Loa Janan Kabupaten Kutai Kertanegara
Sebelah Timur : Kecamatan Semboja Kabupaten Kutai Kertanegara, Kota Balikpapan dan Perairan
Sebelah Selatan : Kecamatan Long Kali Kabupaten Pasir dan Perairan Selat Makassar
Sebelah Barat : Kecamatan Bongan Long Kali kabupaten Kutai Barat dan Kecamatan Long
Sejarah Kabupaten Penajam Paser UtaraWilayah Penajam Paser Utara, dulunya merupakan kawasan yang dihuni oleh Suku Paser Tunan dan Suku Paser Balik, dimana kedua suku tersebut berasal dari Suku Paser yang saat ini tinggal di Kabupaten Paser. Pada awalnya, kelompok suku-suku tersebut hidup berpencar-pencar yang selanjutnya mendirikan kerajaan-kerajaan kecil yang kemudian disebut Kerajaan Adat. Seiring berjalannya waktu, kerajaan kerajaan adat tersebut selanjutnya bergabung dengan kerajaan yang lebih besar yaitu Kerajaan Paser dan Kerajaan Kutai Kartanegara.
Luas Wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara
Luas wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara adalah 3.333,06 Km2, terdiri dari 3.060,82 Km2 luas darat dan 272,24 Km2 luas lautan. Secara administratif, kabupaten ini terdiri dari 4 kecamatan, yaitu Kecamatan Penajam, Kecamatan Waru, Kecamatan Babulu dan Kecamatan Sepaku. Jarak ibukota kecamatan yang terjauh dari ibukota Kabupaten adalah ibu kota Kecamatan Sepaku yang berjarak 87 Km, menyusul ibukota Kecamatan Babulu dan Waru masing-masing 50 Km dan 30 Km, sedangkan yang terdekat adalah ibukota Kecamatan Penajam 0.5 Km.
Topografi Kabupaten Penajam Paser Utara
Secara umum wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara berada pada ketinggian 0 – 500 m diatas permukaan laut yang meliputi wilayah dataran rendah dan dataran tinggi, dengan bentuk relief wilayah berupa datar hingga terjal. Wilayah datar dengan kemiringan lereng 0 - 3% terdapat di wilayah sepanjang pantai dengan luas 25.996 hektar atau 8% dari total luas wilayah, yang meliputi desa-desa yang ada di pesisir Kecamatan Babulu, Waru, Penajam dan Sepaku. Pada bagian barat dan utara memiliki kontur bergelombang, berbukit dan bergunung. Wilayah ini mengelompok membentuk daerah pegunungan diantaranya Gunung Beratus, Gunung Kumut, Gunung Patinjan, Gunung Ketamu, Gunung Buang dan Gunung Bawang. Wilayah tersebut dapat dikatakan sebagai daerah pedalaman karena terbatasnya aksesibilitas wilayah. Wilayah bagian timur – selatan memiliki bentuk wilayah datar sampai landai. Wilayah ini membentang sepanjang pantai dari arah selatan ke utara. Dataran rendah sepanjang pantai umumnya merupakan hutan mangrove yang ditumbuhi bakau, api-api dan nipah. Semua kecamatan di Kabupaten Penajam Paser Utara memiliki pesisir.
Wednesday, July 25, 2018
Monday, January 29, 2018
Sebelah Utara : Kabupaten Kendal dan Kabupaten Semarang,
Sebelah Timur : Kabupaten Semarang dan Kabupaten Magelang,
Sebelah Selatan : Kabupaten Magelang
Sebelah Barat : Kabupaten Wonosobo.
Kabupaten yang dikenal dengan Kota Tembakau ini terdiri dari 20 Kecamatan dan 266 Desa serta 23 Kelurahan. Adapun kecamatan-kecamatan tersebut antara lain: Kecamatan Parakan, Kecamatan Kledung, Kecamatan Bansari, Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, Kecamatan Tlogomulyo, Kecamatan Tembarak, Kecamatan Selopampang, Kecamatan Kranggan, Kecamatan Pringsurat, Kecamatan Kaloran, Kecamatan Kandangan, Kecamatan Kedu, Kecamatan Ngadirejo, Kecamatan Jumo, Kecamatan Gemawang, Kecamatan Candiroto, Kecamatan Bejen, Kecamatan Tretep dan Kecamatan Wonoboyo. Dengan kondisi wilayah yang mempunyai hawa sejuk, sangat cocok untuk usaha pertanian sehingga mayoritas penduduknya (61.3%) memiliki mata pencaharian sebagai petani dan sekotor lain yang masih ada kaitannya dengan dunia tanam menanam. Kabupaten Temanggung terutama terkenal sebagai penghasil tembakau dengan area penanaman tersebar hampir di semua Kecamatan, namun yang menjadi salah satu sentra dari tembakau adalah Kecamatan : Bulu, Kledung, Ngadirejo dan Kedu.
Topografi Kabupaten Temanggung
Topografi yang berupa dataran tinggi berbukit-bukit dan dataran landai mirip cekungan raksasa yang terbuka di bagian tenggara, terletak di ketinggian 500 – 1450 m diatas permukaan air laut. Apabila dilihat dari bentang alamnya, wilayah kabupaten temanggung terdiri dari daerah dataran yang terletak pada bagian tengah dan daerah perbukitan yang terletak di bagian hampir di setiap penjuru. Kondisi bentang alam relatif membujur dari utara ke sebelah selatan.
Klimatologi Kabupaten Temanggung
Kabupaten yang berada di simpul tranportasi utama Jawa Tengah bagian tengah ini memiliki 2 musim, yaitu: musim kemarau antara bulan April sampai dengan Sepetember dan musim penghujan antara bulan Oktober sampai dengan bulan Maret dengan curah hujan berkisar antara 1000 – 3100 mm per tahun. Curah hujan pada dataran rendah lebih kecil dibandingkan pada dataran tinggi. Kepadatan tanah 50% dataran tinggi dan 50% dataran rendah. Daerah Kabupaten Temanggung pada umumnya berhawa dingin dimana udara pegunungan berkisar antara 20°C-30°C. Daerah berhawa sejuk terutama di daerah Kecamatan Tretep, Kecamatan Bulu (lereng Gunung Sumbing), Kecamatan Tembarak, Kecamatan Ngadirejo, dan Kecamatan Candiroto.
Jenis tanah di Kabupaten Temanggung :
Jenis tanah latosol coklat meliputi lahan seluas 26.563,47 Ha (32,13%) membentang di tengah-tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah Barat Laut ke Tenggara.
Tanah Latosol Coklat Kemerahan
Jenis tanah latosol coklat kemerahan meliputi lahan seluas 7.879,93 Ha (9,53%) membentang sebagian besar di bagian Timur – Tenggara.
Tanah Latosol Merah Kekuningan
Jenis tanah latosol merah kekuningan meliputi lahan seluas 29.209,08 Ha (35,33%) membentang di bagian Timur dan Barat.
Jenis tanah regosol meliputi lahan seluas 16.873,97 Ha(20,14%) membentang sebagian di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal.
Tanah Andosol
Jenis tanah andosol meliputi lahan seluas 2.149,55 Ha (2,60%) membentang di aluvial antar bukit.
Jenis Batuan Kabupaten Temanggung
Jenis batuan yang ada di kabupaten ini antara lain: Batuan Andesit, Batu gamping, Batu kali, Batu tras, Bentonit, Diatomae, Kerikil, dan Pasir
Sunday, November 5, 2017
Adapun batas-batas wilayah Kecamatan Bandungan antara lain:
Sebelah Barat : Kecamatan Sumowono
Sebelah Timur : Kecamatan Bergas, Kecamatan Bawen
Sebelah Utara : Kabupaten Kendal
Sebelah Selatan : Kecamatan Ambarawa
Kecamatan Bandungan termasuk salah satu kecamatan yang berada di titik paling tinggi di abupaten Semarang dengan ketinggian rata-rata desanya 831m diatas permukaan air laut. Kecamatan ini dibagi menjadi 9 Desa dan 1 Kelurahan antara lain: Desa Milir, Desa Duren, Desa Jetis, Kelurahan Bandungan, Desa Kenteng, Desa Candi, Desa Banyukuning, Desa Jimbaran, Desa Pakopen dan Desa Sidomukti. Wilayah terluas berdasarkan data statistik adalah Desa Candi sedangkan desa dengan luas wilayah tersempit adalah Desa Jimbaran. Kode Pos Kecamatan Bandungan adalah 50614, 50661 dan 50663.
Sampai dengan saat ini, lahan pertanian di kawasan Bandungan masih luas dan pada umumnya ditanami jenis tanaman pangan dan hortikultura seperti sayur-sayuran yang merupakan komoditi utama. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan apabila kecamatan ini menjadi salah satu daerah sentra produk agribisnis, baik produk segar maupun produk olahan. Potensi tersebut difasilitasi oleh adanya terminal agribisnis yang merupakan pusat kegiatan ekonomi bagi pelaku usaha di sektor pertanian.
Topografi Kecamatan bandungan
Kemiringan lereng di kecamatan ini dibedakan menjadi 5, yaitu kemiringan lereng 3%-8% (B), 8%-15% (C), 15%-30% (D), 30%-45% (E) dan 45%-60% (F). Sebagian besar wilayah termasuk kategori lereng C dan D
Klimatologi Kecamatan Bandungan
Berdasarkan hasil perhitungan temperatur yang dilakukan pihak terkait, temperatur tertinggi adalah 22,64 derajat C dan temperatur terendah adalah 13,91 derajat C . Berdasarkan perhitungan tersebut maka diketahui bahwa secara umum kecamatan yang banyak dijadikan sebagai tempat istirahat ini termasuk wilayah yang memiliki curah hujan tipe C.
Geomorfologi Kecamatan Bandungan
satuan morfologi utama yang ada di kecamatan ini adalah morfologi Gunung Ungaran Tua, Gunung Ungaran Muda (daerah puncak, lereng dan kaki), daerah manifestasi panasbumi dan dataran aluvial. Morfologi Gunung Ungaran Tua telah mengalami runtuhan yang terbentuk akibat proses volcano-tectonic depression (Bammelen dalam Syabarudin, 2003). Satuan morfologi ini dapat ditemukan di sebelah baratdaya, yaitu Banyukuning. Satuan morfologi Gunung Ungaran Muda merupakan sebagian besar satuan morfologi di daerah penelitian, dengan sub satuan yaitu daerah puncak, lereng dan kaki. Daerah puncak yang memiliki beda tinggi lebih dari 100m dan slope lebih dari 35o yang dapat dijumpai adanya kenampakan kawah akibat proses letusan Gunung Ungaran dengan produk berupa aliran lava dan endapan piroklastik aliran. Daerah lereng memiliki beda tinggi antara 20-100 m dengan slope berkisar antara 10o-32o. Dan daerah kaki memiliki beda tinggi 1-15 m dengan slope kurang dari 10o.
Kondisi Geologi Kecamatan Bandungan
Kecamatan Bandungan didominasi material proses Vulkan Ungaran dengan formasi batuan penyusun terdiri dari:
- Lava Gunung Sumbing (Qls), merupakan aliran lava dan kubah yang terdiri dari horenblenda augit yang ditemukan di Gunung Sumbing. Aliran puncak di Gunung Ungaran berkomposisi andesit horenblenda augit. Aliran lereng di Gunung Ungaran dikuasai lahar andesit dan aliran gunungapi muda. Endapan lahar ini terdiri dari bongkah-bongkah tak terpisahkan menyudut tanggung dan membundar tanggung serta bergaris tengah 2 meter. Formasi batuan penyusun ini berada di bagian puncak Tenggara sampai Barat Daya.
- Batuan Gunungapi Gajahmungkur (Qhg), berada di lereng atas sampai lereng bawah yang menyebar di seluruh sisi. Formasi batuan ini mendominasi wilayah Kecamatan Bandungan yang terdiri dari andesit horenblenda augit yang umumnya merupakan aliran lava.
- Formasi Kaligetas (Qpkg) berada di sisi selatan dari Kecamatan Bandungan yang merupakan breksi vulkanik, aliran lava, tuf, batupasir tufan dan batulempung. Breksi aliran dan lahar dengan sisipan lava dan tuf halus sampai kasar. Setempat di bagian bawahnya ditemukan batulempung mengandung moluska dan batu pasir tufan. Batan gunungapi yang melapuk berwarna coklat-kemerahan dan sering membentuk bongkah-bongkah besar yang memiliki ketebalan berkisar antara 50 m sampai dengan 200 m.
- Batuan Terobosan Andesit (Tma), merupakan Andesit horenblenda augit tersingkap. Formasi batuan ini ditemukan di beberapa tempat, seperti Gunung Turun, Gunung Kendalosoro, Gunung Siwakul, Gunung Kalong, Gunung Mabang, Gunung Gugon, Gunung Puntang dan Gunung Pertapan
Jenis Tanah Kecamatan Bandungan
Di kecamatan ini, terdapat 4 satuan jenis tanah yaitu Andosol Coklat T, Latosol Coklat T, Litosol Coklat K dan Mediteran Coklat.
Saturday, September 16, 2017
Kabupaten Wonosobo merupakan salah satu dari 35 (tiga puluh lima) kabupaten/ kota di Provinsi Jawa Tengah dengan luas wilayah 98,468 ha. Secara geografis Kabupaten Wonosobo terletak antara 7˚11’ dan 7˚36’ Lintang Selatan, 109˚43’ dan 110˚04’ Bujur Timur. Jarak ibukota Kabupaten Wonosobo ke ibukota Provinsi Jawa Tengah berjarak 120 Km dan 520 Km dari ibu kota negara. Kabupaten wonosobo merupakan daerah pegunungan dengan ketinggian berkisar antara 275 m sampai dengan 2.250 meter di atas permukaan laut.
Dalam lingkup wilayah provinsi, kabupaten yang terletak di dataran tinggi ini berada di bagian tengah yang berbatasan dengan kabupaten lainnya. Secara administrasi, Kabupaten Wonosobo berbatasan dengan :
Sebelah Utara : Kabupaten Kendal dan Kabupaten Batang
Sebelah Timur : Kabupaten Temanggung dan Kab. Magelang
Sebelah Selatan : Kab. Kebumen dan Kab. Purworejo
Sebelah Barat : Kab. Banjarnegara dan Kab Kebumen
Secara administratif kabupaten ini dibagi menjadi 15 Kecamatan. 236 desa dan 29 kelurahan. Jarak kecamatan ke ibukota kabupaten terjauh adalah Kecamatan Wadaslintang dengan jarak 37 km, dan jarak terdekat adalah Kecamatan Wonosobo karena terletak di ibukota kabupaten, disusul Kecamatan Mojotengah yang berjarak 4 km. Lokasi tertinggi berada di Kecamatan Kejajar yaitu 1.378 m dpl sedangkan yang terendah berada di Kecamatan Wadaslintang 275 m dpl.
Topografi Kabupaten Wonosobo
Apabila dilihat dari segi topografi, wilayah Kabupaten Wonosobo memiliki ciri yang berbukit dan bergunung, terletak pada ketinggian antara 200 sampai 2.250 m di atas permukaan laut. Kelerengan merupakan suatu kemiringan tanah dimana sudut kemiringan dibentuk oleh permukaan tanah dengan bidang horizontal dan dinyatakan dalam persen. Kabupaten Wonosobo dibagi menjadi 6 wilayah kemiringan, yaitu:
- Wilayah dengan kemiringan antara 0,00-2,00 % seluas 1052,263 ha atau 1,04 % dari seluruh luas wilayah, banyak dijumpai di Kecamatan Selomerto dan Kecamatan Kertek;
- Wilayah dengan kemiringan antara 2,00-5,00 % seluas 22.969,5 ha atau 22,89 % dari luas seluruh wilayah, banyak terdapat di 13 Kecamatan selain Kecamatan Watumalang dan Kecamatan Kalibawang;
- Wilayah dengan kemiringan antara 5,00-8,00 % seluas 8.143,769 ha atau 8,11 % dari luas wilayah total, tersebar merata di 14 Kecamatan selain Kecamatan Watumalang;
- Wilayah dengan kemiringan antara 8,00-15,00 % seluas 55.434,85 ha atau 55,2 % dari seluruh luas wilayah tersebar secara merata di semua kecamatan;
- Wilayah dengan kemiringan antara 15,00-25,00 % seluas 11.101,6 ha atau 11,06 % dari seluruh luas wilayah terdapat di semua kecamatan kecuali Kecamatan Wonosobo.
- Wilayah dengan kemiringan antara 25,00-40,00 % seluas 1.479,631 ha atau 1,47 % dari luas wilayah total, terdapat di Kecamatan Kejajar, Garung dan Kalikajar; dan
- Wilayah dengan kemiringan lebih dari 40,00 % seluas 142,362 ha atau 0,14 % dari luas wilayah total, terdapat di Kecamatan Kejajar.
Fisiografi Kabupaten Wonosobo
Secara fisiografi, Wonosobo terletak pada ujung timur Depresi Serayu yang terbentuk oleh proses orogenesa dan epirogenesa, kemudian diikuti oleh kegiatan vulkanisme dan denudasional yang cepat. Di sebelah timur Depresi Serayu dibatasi oleh Gunung Sumbing dan Sindoro yang terbentuk pada jaman Kuarter (±1,8 juta tahun yang lain), rangkaian gunung api tersebut terus berlanjut dan bersambung dengan kompleks gunung api Dieng dan Rogojembangan.
Di Kawasan Dieng banyak dijumpai depresi yang terbentuk oleh pusat erupsi vulkanik pada jaman Pleistocene yang kemudian terisi oleh endapan dan sisa tumbuhan. Di samping itu terdapat hulu sungai serayu dengan anak sungai yang berada di bagian selatan, yakni di ujung timur Pegunungan Serayu Selatan yanair minumg dibatasi oleh Zone Patahan. Banyaknya gunung di Wonosobo juga menjadi sumber mata air yang mengalir ke sungai Serayu, Bogowonto, Kali Galuh, Kali Semagung, Kali Sanggrahan dan Luk Ulo.
Kondisi Geologi Kabupaten Wonosobo
Berdasarkan pembagian zona fisiografi Pulau Jawa oleh Van Bemmelen (1949), Wilayah Kabupaten Wonosobo termasuk dalam jalur fisiografi Pegunungan Serayu Selatan Bagian Utara dan menempati bagian tengah zona fisiografi tersebut. Zona ini didominasi oleh endapan gunungapi kuarter. Endapan gunungapi kuarter masih dapat diamati kenampakan kerucut vulkaniknya seperti Gunung Sundoro dan Gunung Sumbing, sedangkan dibagian lain gunung api Dieng yang berumur lebih tua meninggalkan sisa erupsi yang membentuk plateau (dataran tinggi).
Geomorfologi Kabupaten Wonosobo
Secara geomorfologi, bentang lahan didominasi oleh bentanglahan bentukan dari proses vulkanik. Bentanglahan lainnya berasal dari bentukan denudasional, bentanglahan struktural, bentanglahan fluvial (aliran sungai). Bentukan bentang lahan proses vulkanik yang ada yaitu kubah lava, kerucut gunung api, lereng gunung api, kaki gunung api, perbukitan intrusif batuan gunung api, pegunungan medan lava, perbukitan medan lava, kaldera, danau kaldera, lembah antar gunungapi material piroklastik
Klimatologi Kabupaten Wonosobo
Wonosobo beriklim tropis dengan dua musim dalam setahun yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Rata rata suhu udara di Wonosobo antara 14,3 – 26,5 derajat Celcius dengan curah hujan rata-rata per tahun berkisar antara 1713 - 4255 mm/tahun. Dengan kondisi tersebut Kabupaten Wonosobo sangat baik untuk pertanian sehingga sektor pertanian merupakan sektor dominan dalam perekonomian.
Wednesday, April 19, 2017
Sebelah Timur : Kecamatan Ungaran Timur;
Sebelah Utara : Kota Semarang;
Sebelah Selatan : Kecamatan Bergas.
Luas wilayah Kecamatan Ungaran Barat yaitu 1.352,76 hektar, dimana Desa Nyatnyono menjadi kelurahan terluas yaitu 425,00 hektar dengan persentase 15,00% luas wilayah kota ungaran secara keseluruhan. Sedangkan desa Genuk menempati wilayah terkecil dengan luas 157,85 hektar dengan persentase sebesar 5,57% luas wilayah kota Ungaran secara keseluruhan
Wilayah kecamatan yang merupakan pecahan dari Kecamatan Ungaran ini merupakan daerah dataran tinggi yang bergelombang sampai bergunung dengan ketinggian antara 321 –573 mdpl dengan prosentase sebagai berikut :
a. Daerah bergelombang berbukit : 45 %
b. Daerah berbukit bergunung : 40 %
c. Datar berombak : 15 %
- Daerah kemiringan 0 – 3 % dengan luas 225 Ha yaitu berada di Kelurahan Bandarjo
- Daerah kemiringan 3 – 8 % dengan luas 490,7 Ha meliputi : Kelurahan Langensari, Kelurahan dan Kelurahan Ungaran
- Daerah kemiringan 8 – 15 % seluas 1.650,9 Ha yang terdiri dari Kelurahan Candirejo, Desa Nyatnyono, Desa Gogik, Desa Keji dan Desa Lerep
- Daerah kemiringan 25 – 45 % dengan luas 1229,12 Ha meliputi Desa Kalisidi dan Desa Branjang
Klimatologi Kecamatan Ungaran Barat
Wednesday, March 1, 2017
Kecamatan Ambarawa memiliki luas wilayah 2.822 Ha yang terdiri dari 10 desa/ kelurahan yaitu Kelurahan Baran, Desa Bejalen, Kelurahan Kranggan, Kelurahan Kupang, Kelurahan Lodoyong, Kelurahan Ngampin, Kelurahan Panjang, Desa Pasekan, Kelurahan Pojoksari dan Kelurahan Tambakboyo. Kode Pos Kecamatan Ambarawa antara lain: 50611, 50612, 50613 dan 50614.
Adapun batas wilayah Kecamatan Ambarawa adalah sebagai berikut:
Sebelah Barat : Kecamatan Bandungan
Sebelah Timur : Kecamatan Bawen
Sebelah Utara : Kecamatan Bandungan
Sebelah Selatan : Kecamatan Banyubiru, Rawa Pening
Kecamatan Ambarawa didominasi oleh rawa dan beberapa bukit-bukit rendah menyebabkan Kecamatan Ambarawa berada dalam kategori daerah dengan ketinggian sedang (Rata-rata ketinggian 536 meter di atas permukaan laut). Kondisi Kecamatan yang berada di dataran tinggi menyebabkan suhu udara dan kelembaban udara di kawasan ini sedikit lebih tinggi apabila dibandingkan dengan kawasan lain yang berada di Kabupaten Semarang
Jenis tanah yang ada di Kecamatan Ambarawa antara lain:
Tanah grumosol, yaitu tanah yang memiliki tekstur lempung berliatliat yang berwarna kelabu sampai hitam, memiliki daya yang cukup baik untuk menahan air sehingga cocok untuk pertanian maupun perkebunan.
Tanah Latosol, dengan ciri umumnya berwarna merah,coklat hingga kuning yang mana pada lapisan tanah atas hingga ke bawah bertekstur liat. Jenis tanah ini memiliki kelebihan dapat menahan air sehingga cukup baik apabila digunakan untuk budidaya pertanian.
Tanah regosol, yaitu tanah yang berasal dari material gunung berapi yang mana tanahnya berbutir kasar. Tanah regosol merupakan tanah aluvial yang baru diendapkan. Sifat dari tanah regosol yaitu subur, peka terhadap erosi, berwarna keabuan, kaya unsur hara seperti P dan K yang masih segar, memiliki kemampuan menyerap air tinggi sehingga cukup baik apabila digunakan untuk budidaya pertanian.
Monday, February 13, 2017
Adapun batas wilayah Kabupaten Banyumas antara lain:
Sebelah Utara : Kabupaten Tegal dan Kabupaten Pemalang
Sebelah Selatan : Kabupaten Cilacap
Sebelah Barat : Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Brebes
Sebelah Timur : Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Kebumen
Luas wilayah Kabupaten Banyumas 132.759,56 Ha dengan jarak bentang terjauh dari Barat ke Timur 96 Km, dan dari Utara ke Selatan sejauh 46 Km. Secara administratif wilayah Kabupaten Banyumas meliputi 27 Kecamatan dengan 301 desa dan 30 kelurahan. Adapun kecamatan-kecamatan tersebut antara lain Kecamatan Lumbir, Wangon, Jatilawang, Rawalo, Kebasen, Kemranjen, Sumpiuh, Tambak, Somagede, Kalibagor, Banyumas, Patikraja, Purwojati, Ajibarang, Gumelar, Pekuncen, Cilongok, Karang lewas, Kedungbanteng, Baturaden, Sumbang, Kembaran, Sokaraja, Purwokerto selatan, Purwokerto barat, Purwokerto timur dan Purwokerto utara
Topografi Kabupaten Banyumas
Kondisi topografi Kabupaten ini antara lain:
- Dataran rendah dengan ketinggian 0 – 25 meter di atas permukaan laut (dpl) memiliki luas 26.724,4 ha atau 20,13% dari luas wilayah Kabupaten Banyumas. Wilayah yang berada pada ketinggian ini meliputi Kecamatan Jatilawang, Kecamatan Kebasen, Kecamatan Rawalo, Kecamatan Tambak, sebagian Kecamatan Kalibagor, sebagian Kecamatan Karanglewas, sebagian kecamatan Kemranjen, sebagian Kecamatan Sokaraja, dan sebagian Kecamatan Sumpiuh.
- Dataran perbukitan dengan ketinggian >25 - 100 meter dpl memiliki luas 42.310,30 ha atau 31,87% dari luas wilayah Kabupaten Banyumas. Wilayah yang berada pada ketinggian ini meliputi Kecamatan Kembaran, Kecamatan Lumbir, Kecamatan Patikraja, Kecamatan Purwojati, Kota Purwokerto, Kecamatan Wangon, sebagian Kecamatan Kalibagor, sebagian Kecamatan Kedungbanteng, sebagian Kecamatan Karanglewas, sebagian Kecamatan Somagede, sebagian Kecamatan Sumbang, dan sebagian Kecamatan Sokaraja.
- Dataran tinggi dengan ketinggian >100 – 500 meter dpl memiliki luas 40.385,3 ha atau 30,42% dari luas wilayah Kabupaten Banyumas. Wilayah yang berada pada ketinggian ini meliputi Kecamatan Ajibarang, Banyumas, sebagian Kecamatan Baturraden, sebagian Kecamatan Cilongok, sebagian Kecamatan Pekuncen, dan sebagian Kecamatan Somagede.
- Dataran dengan ketinggian >500 – 1000 meter dpl memiliki luas 17.364,9 ha atau 13,08% dari luas wilayah Kabupaten Banyumas. Wilayah yang berada pada ketinggian ini meliputi sebagian Kecamatan Gumelar, sebagian Kecamatan Kedungbanteng, sebagian Kecamatan Pekuncen, sebagian Kecamatan Cilongok, sebagian Kecamatan Baturraden dan sebagian Kecamatan Sumbang.
- Dataran dengan ketinggian >1000 meter dpl memiliki luas 5.974,1 ha atau 4,50% dari luas wilayah Kabupaten Banyumas. Wilayah yang berada pada ketinggian ini meliputi sebagian Kecamatan Baturraden, sebagian Kecamatan Cilongok, sebagian Kecamatan Pekuncen dan sebagian Kecamatan Sumbang.
Kemiringan Lahan Kabupaten Banyumas
Berdasarkan kemiringan tanahnya wilayah Kabupaten ini terbagi dalam beberapa kelas kemiringan lahan, antara lain:
- Kemiringan 0 – 2% meliputi areal seluas 42.629,09 ha atau 32,11 % dari luas wilayah Kabupaten Banyumas. Wilayah dengan kemiringan ini meliputi Kota Purwokerto, Kecamatan Sokaraja, Kecamatan Kembaran, bagian selatan Kabupaten Banyumas antara lain Kecamatan Tambak, Kecamatan Sumpiuh, Kecamatan Kemranjen, Kecamatan Kebasen, Kecamatan Rawalo, Kecamatan Kalibagor bagian timur, sebagian Kecamatan Patikraja, dan disekitar Sungai Serayu.
- Kemiringan >2 – 8% meliputi areal seluas 19.940,49 ha atau 15,02 % dari luas wilayah Kabupaten Banyumas. Wilayah dengan kemiringan ini adalah sebagian Kecamatan Pekuncen, Kecamatan Cilongok, Kecamatan Karanglewas, Kecamatan Sumbang, Kecamatan Wangon sebelah selatan.
- Kemiringan >8 – 15% meliputi areal seluas 13.979,58 ha atau 10,53 % dari luas wilayah Kabupaten Banyumas. Wilayah ini meliputi sebagian Kecamatan Ajibarang, Kecamatan Pekuncen, Kecamatan Cilongok dan Kecamatan Kalibagor.
- Kemiringan >15 – 25% meliputi areal seluas 16.820,64 ha atau 12,67 % dari luas wilayah Kabupaten Banyumas. Wilayah ini meliputi Kecamatan Gumelar, Kecamatan Lumbir, Kecamatan Wangon bagian utara, Kecamatan Pekuncen bagian barat, Kecamatan Sumbang bagian timur.
- Kemiringan >25 - 40% meliputi areal seluas 13.740,61 ha atau 10,35 % dari luas wilayah Kabupaten Banyumas. Wilayah ini meliputi sebagian Kecamatan Rawalo, Kecamatan Kemranjen, Kecamatan Gumelar, Kecamatan Wangon, Kecamatan Kedungbanteng dan Kecamatan Baturraden.
- Kemiringan >40% meliputi areal seluas 25.649,15 ha atau 19,32% dari luas wilayah Kabupaten Banyumas. Wilayah ini meliputi Lereng Gunung Merak, sebagian Kecamatan Sumpiuh, Kecamatan Tambak, Kecamatan Somagede.
Geologi Kabupaten Banyumas
Secara stratigrafi, Kondisi geologi Kabupaten Banyumas dapat diuraikan sebagai berikut:
- Endapan Aluvial/Aluvium merupakan formasi endapan aluvial atau aluvium menempati porsi yang cukup besar di wilayah selatan Kabupaten Banyumas dengan wilayah penyebarannya meliputi di Kecamatan Kemranjen, Kecamatan Sumpiuh, Kecamatan Tambak, Kecamatan Rawalo, Kecamatan Jatilawang dan Kecamatan Wangon dengan luasnya sebesar 31.744 hektar.
- Endapan Gunung Api merupakan formasi endapan gunung api dapat dipisahkan menjadi tiga kelompok satuan batuan yaitu: Endapan Lahar Gunung Api, terdiri dari bahan-bahan tak mengeras mengandung bongkahbongkah batuan gunung api bergaris tengah 10 – 15 cm bersusun andesit sampai basalt meliputi daerah landai dan datar yang tersebar dari Ajibarang ke arah timur Pasirkidul sampai Sumbang 31.376 hektar. Endapan Lava Gunung Slamet, merupakan aliran lava andesit berongga rongga yang berasal dari Gunung Slamet terutama di lereng timur yang tersebar dari Baturraden ke arah utara hingga Gunung Slamet 4.960 hektar . Batuan gunung api tak terurai, terdiri dari breksi, lava, lapili dan tufa dari gunung api dan pusat-pusat erupsi di sebelah barat membentuk dataran dan bukit-bukit tinggi yang tertutup oleh tanah berwarna abu-abu tua sampai coklat dan kuning kemerahan yang tersebar secara luas dari Pekuncen sampai Baturraden ke arah Utara sampai perbatasan dengan Kabupaten Brebes 17.584 hektar.
- Formasi Tapak terdiri dari batupasir berbutir kasar berwarna kehijauan dan konglomerat di beberapa tempat terdapat breksi. Di bagian atas terdiri dari batupasir gampingan dan napal berwarna hijau yang mengandung pecahan moluska dan berumur Pliosen Tengah sampai Pliosen Atas. Formasi ini terletak di pegunungan sebelah selatan Kalibagor dan Gebangsari seluas 17.584 hektar .
- Formasi Kumbang terdiri dari breksi, lava andesit, tufa dan di beberapa tempat terdapat breksi batuapung dan tufa pasiran. Formasi ini berumur Miosen Tengah sampai Pliosen Tengah dan menempati bukit-bukit antikilin di sebelah selatan Kota Banyumas seluas 96 hektar.
- Formasi Halang merupakan penyebaran formasi halang menempati areal yang sangat luas memanjang pegunungan lipatan, mulai dari daerah Lumbir hingga Banyumas. Perselingan batupasir, batulempung, napal dan tufa, dengan sisipan breksi dipengaruhi oleh turbid fan pelengseran bawah laut. Formasi batuan mempunyai kisaran umur Miosen Tengah hingga Pliosen Atas seluas 40.343,56 hektar.
- Anggota Batugamping Formasi Halang merupakan anggota batugamping formasi halang menempati porsi yang relatif kecil dan penyebarannya di wilayah Kecamatan Banyumas dan Kecamatan Kebasen seluas 144 hektar.
- Anggota Breksi Formasi Halang merupakan anggota breksi formasi halang terdiri dari breksi gunung api dengan komponen basal dan sebagian andesit yang bersisipan dengan batupasir seluas 10.080 hektar .
- Formasi Rambatan merupakan formasi yang terdiri dari batupasir gampingan bersisipan napal, batu lempung dan breksi, umumnya berstruktur turbidit. Penyebaran formasi ini di Kabupaten Banyumas tidak begitu luas, yaitu di sebelah selatan Kabupaten Banyumas dan mempunyai kisaran umur Miosen Bawah-Tengah seluas 2.016 hektar.
Hidrologi Kabupaten Banyumas
Air permukaan yang ada di wilayah Kabupaten ini berasal dari sungai dan mata air. Sungai-sungai yang ada mempunyai debit (Q) sebesar 45.456.342 m3 /hari atau 16.591.564.830 m3 /tahun yang berasal dari sungai besar, seperti Sungai Serayu, Tajum, Kranji, Pelus, Banjaran, Logawa serta sungai-sungai kecil lainnya. Sedangkan Mata air yang di wilayah Kabupaten Banyumas adalah sebagai berikut:
1. Mata air Kawungcarang, Gandatapa dan Kepetek di Kecamatan Sumbang
2. Mata air Kedungpete, Kaliraga dan Baturraden di Kecamatan Baturraden
3. Mata air Pugak di Kecamatan Banyumas
4. Mata air Sikampret dan Sirah di Kecamatan Karanglewas
5. Mata air Cideng, Rancah dan Legok di Kecamatan Pekuncen
6. Mata air Pancasan di Kecamatan Ajibarang
7. Mata air Karangtengah di Kecamatan Cilongok
Kabupaten Banyumas termasuk dalam Daerah Aliran Sungai (DAS) Serayu dan DAS Ijo dan DAS Bengawan. Ketiga DAS ini mencakup beberapa sungai dan anak sungai yang ada di wilayah Kabupaten Banyumas. Daerah Aliran Sungai (DAS) Serayu terbagi dalam beberapa sub DAS dan sub-sub DAS, yaitu sub DAS Tajum, sub DAS Logawa dan sub DAS Serayu Ilir. Dari tiap-tiap sub DAS terbagi lagi menjadi sub-sub DAS, yaitu :
- Sub DAS Tajum terbagi dalam sub-sub DAS Tajum Hulu, sub-sub DAS Trenggulun, sub-sub DAS Datar, sub-sub DAS Tajum Hilir, sub-sub DAS Lopasir dan sub-sub DAS Cihaur
- Sub DAS Logawa terbagi dalam sub-sub DAS Banjaran, sub-sub DAS Pelus dan sub-sub DAS Mengaji
- Sub DAS Serayu Hilir terbagi dalam sub-sub DAS Gawe
Jenis Tanah Kabupaten Banyumas
Berdasarkan hasil penelitian Lembaga Penelitian Tanah (LPT) Bogor tahun 1983 dapat diketahui jenis tanah di Kabupaten ini terdapat 7 jenis tanah, yaitu Aluvial, Glei Humus Rendah, Regosol, Litosol, Andosol, Latosol dan Podsolik.
Iklim Kabupaten Banyumas
Kondisi klimatologi wilayah Banyumas mempunyai iklim tropis basah seperti umumnya wilayah-wilayah di Indonesia. Rata-rata suhu udara bulanan 26,3ºC, dengan suhu minimum tercatat 24,4ºC dan suhu maksimum 30,9ºC. Sedangkan curah hujan di wilayah Kabupaten Banyumas pada tahun 2000 rata-rata sebesar 2.750 mm/tahun. Angka ini menunjukkan bahwa di wilayah Kabupaten Banyumas memiliki curah hujan yang cukup tinggi. Tingginya curah hujan ini didukung oleh kondisi geografi wilayah Kabupaten Banyumas yaitu terletak di lereng Gunung Slamet.
Saturday, January 7, 2017
Sebelah Utara : Kecamatan Ngargoyoso, Kecamatan Jenai
Sebelah Timur : Provinsi Jawa Timur
Sebelah Selatan : Kecamatan Jatiyoso
Sebelah Barat : Kecamatan Matesih dan Kecamatan Karangpandan.
Kecamatan yang berada di ujung Timur Kabupaten Karanganyar ini terbagi atas 3 kelurahan dan 7 Desa, yaitu: Kelurahan Tawangmangu, Kelurahan Blumbang, Kelurahan Kalisoro Desa Bandardawung, Desa Gondosuli, Desa Karanglo, Desa Nglebak, Desa Plumbon, Desa Sepanjang dan Desa Tengklik.
Jenis Tanah Kecamatan Tawangmangu beraneka ragam, antara lain, Alluvial Kelabu, Assosiasi Alluvial Kelabu, Alluvial Mediteran Coklat, Assosiasi Grumosol Kelabu tua dan Mediteran. Peruntukan lahan kecamatan ini didominasi oleh hutan, kebun/ tegalan, sawah, bangunan/ pekarangan serta peruntukan lainnya. Sebagian besar penduduk Kecamatan Tawangmangu merupakan petani karena lahan pertaniannya yang cukup luas. Posisi kedua adalah pedagang dilanjut buruh, baik itu buruh bangunan atau buruh industri.
Kecamatan Tawangmangu yang berada di perbatasan dengan Provinsi Jawa Timur terkenal dengan banyaknya obyek wisata yang ada, baik itu wisata alam maupun buatan. Adapun obyek wisata yang ada di kecamatan ini antara lain: Bumi Perkemahan Kalisoro-Sekipan, Camping Lawu Resort, Grojogan Sewu, Grojokan Pringgondani, Grojogan telaga Gondang, Grojogan Telaga Mulya, Jabal Kanil, Komplek Prtapaan Pringgondani, Puncak Lawu yang bisa dicapai dari Pos Pendakian Cemoro Kandang, Sendang Cumpleng, Situs Menggung, Taman Ria Balekambang, Taman Semar, Bukit Sekipan dan obyek wisata lainnya yang terus bertambah.
Saturday, September 17, 2016
• Sebelah utara : wilayah Kabupaten Jepara dan Laut Jawa
• Sebelah barat : wilayah Kabupaten Kudus dan Kabupaten Jepara
• Sebelah selatan : wilayah Kabupaten Grobogan dan Kabupaten. Blora
• Sebelah timur : wilayah Kabupaten Rembang dan Laut Jawa
Kabupaten Pati terdiri dari 21 kecamatan, 401 desa dan 5 kelurahan. Ke 21 kecamatan tersebut antara lain: Kecamatan Sukolilo, Kecamatan Kayen, Kecamatan Tambakromo, Kecamatan Winong, Kecamatan Pucakwangi, Kecamatan Jaken, Kecamatan Batangan, Kecamatan Juwana, Kecamatan Jakenan, Kecamatan Pati, Kecamatan Gabus, Kecamatan Margorejo, Kecamatan Gembong, Kecamatan Tlogowungu, Kecamatan Wedarijaksa, Kecamatan Trangkil, Kecamatan Margoyoso, Kecamatan Gunungwungkal, Kecamatan Cluwak, Kecamatan Tayu dan Kecamatan DukuhsetiWilayah Kabupaten Pati terletak pada ketinggian antara 0 - 1.000 m di atas permukaan air laut rata-rata dan terbagi atas 3 relief daratan, yaitu :
- Lereng Gunung Muria, yang membentang sebelah barat bagian utara Laut Jawa dan meliputi Wilayah Kecamatan Gembong, Kecamatan Tlogowungu, Kecamatan Gunungwungkal, dan Kecamatan Cluwak.
- Dataran rendah membujur di tengah sampai utara Laut Jawa, meliputi sebagian Kecamatan
- Dukuhseti, Tayu, Margoyoso, Wedarijaksa, Juwana, Winong, Gabus, Kayen bagian Utara, Sukolilo bagian Utara, dan Tambakromo bagian utara.
- Pegunungan Kapur yang membujur di sebelah selatan meliputi sebagian kecil wilayah
- Sukolilo, Kayen, Tambakromo, Winong, dan Pucakwangi.
Jenis tanah terbagi menjadi dua bagian yaitu daerah bagian utara dan daerah bagian selatan. Jenis tanah di daerah bagian utara meliputi tanah red yellow, latosol, aluvial, hidromer, dan regosol. Sedangkan di bagian selatan terdiri dari tanah aluvial, hidromer, dan gromosol.
Hidrogeologi Kabupaten Pati
Secara hidrogeologi kabupaten ini dikelompokkan ke dalam beberapa akuifer sebagai berikut:
a. Akuifer dengan aliran melalui ruang antar butir
Kondisi akuifer produktif dengan penyebaran luas, berlapis banyak dengan keterusan sedang, muka air tanah beragam umumnya dekat dengan permukaan tanah dengan debit sumur antara 5 - 10 Liter/ detik. Penyebarannya meliputi kawasan dataran rendah yang meliputi Kecamatan Pati, Gabus, Juwana, Batangan, sebagian Kecamatan Margorejo dan Wedarijaksa.
Kondisi akuifer produktif sedang dengan penyebaran luas, mempunyai keterusan sangat beragam, kedalaman muka air tanah umumnya dalam, dan debit sumur umumnya kurang dari 5 liter/ detik, muncul terutama pada daerah lekuk lereng.
Penyebarannya meliputi kawasan kaki gunung muria yaitu Kecamatan Gembong, Tlogowungu, Gunungwungkal dan Cluwak. Selain itu beberapa wilayah yaitu Kecamatan Wedarijaksa, Trangkil, Margorejo, Margoyoso, Tayu dan Dukuhseti.
Aliran air tanah melalui zona celahan, rakahan dan saluran pelarutan, debit sumur beragam, pada tempat yang serasi mencapai lebih dari 10 l/dt, mata air karst banyak dijumpai, beberapa diantaranya berdebit lebih dari 500 l/dt. Selain itu.
Penyebarannya yaitu di sekitar kawasan Karst yaitu Kawasan pegunungan kendeng/batu kapur yang meliputi wilayah Kecamatan Sukolilo, Kayen, Tambakromo, Winong dan Pucakwangi.
Akuifer batu gamping karst dengan keterusan sangat tinggi ditutupi oleh endapan lempungan yang secara nisbi keterusannya rendah dan bertindak sebagai lapisan perlambat. Debit sumur yang menyadap akuifer tersebut dapat mencapai lebih dari 25 l/dt. Penyebarannya meliputi wilayah di kawasan pegunungan kendeng/kawasan karst dan sekitarnya yang meliputi Kecamatan Sukolilo, Kayen, Tambakromo, Winong, Pucakwangi, Jaken dan Batangan.
Kabupaten Pati memiliki sungai-sungai yang cukup besar jumlahnya. Di Kabupaten Pati terdapat 93 buah sungai/kali yang tersebar merata di seluruh wilayah. Pada umumnya sungai-sungai di kabupaten ini berpola kipas atau pohon, dengan muara sungai pada umumnya ke Laut Jawa. Sungai di Kabupaten Pati pada umumnya berfungsi dalam pengairan atau irigasi. Sayangnya, pada musim kemarau, kebanyakan dari sungai-sungai yang ada mengalami kekeringan sedangkan pada musim penghujan, beberapa sungai justru meluap.
Ada beberapa sungai yang memiliki sumber mata air, akan tetapi banyak juga yang tidak, yaitu bersumber dari aliran drainase kota saja. Mata air di Kabupaten Pati pada umumnya bersumber dari mata air Gunung Muria, khususnya sungai-sungai yang terdapat pada wilayah Utara Kabupaten Pati.
Tuesday, August 2, 2016
Sebelah Barat : Kab. Barito Selatan dan Kec. Paju Epat
Sebelah timur : Kec. Benua Lima dan Kec. Patangkep Tutui
Sebelah utara : Kec. Awang dan Kec. Karusen Janang
Sebelah selatan : Kec. Benua Lima dan Kab. Tabalong (Provinsi Kalimantan Selatan)
Kecamatan yang merupakan kecamatan terluas di Kabupaten Barito Timur ini memiliki luas 867,70 km2 atau 22,63 % dari luas Barito Timur. Desa dengan wilayah terluas adalah Desa Pulau Patai dengan luas 182,25 km2atau 21,00% dari luas Kecamatan Dusun Timur, sedangkan desa dengan luas wilayah terkecil adalah Desa Sumur dengan luas sebesar 20 km2 atau 2,30% dari luas kecamatan.
Secara geografis, Kecamatan Dusun Timur rata-rata berada pada ketinggian 28 m dari permukaan laut dengan tingkat kemiringan landai (kurang dari 15 derajat). Kondisi kemiringan lereng yang landai tersebut, memiliki tingkat kerawanan bencana yang rendah. Kondisi klimatologi rata-rata di tahun 2015 dapat diketahui dari temperatur, kelembaban, dan tekanan udara. Temperatur rata-rata pada tahun 2015 yaitu 21,95 o_(C )(minimal) dan 34,94 (maksimal), kelembaban 50,00% (minimal dan 98,92 % (maksimal), sedangkan tekanan udara yaitu sebesar 1.007,20 Mb (minimal) dan 1.016,90 Mb (maksimal). Rata – rata curah hujan tahun 2015 sekitar 201,51 mm dengan rata – rata hari hujan adalah 15 hari (menurut Bps Kabupaten Barito Timur, 2016). Didalam hal ini berarti terdapat bulan Januari ialah bulan dimana puncak-puncak musim hujan dengan intensitas tertingginya, sedangkan dibulan September adalah bulan yang memiliki intensitas curah hujan yang minimum
Penggunaan dan penyedia sumber air bawah tanah yang terdapat Kecamatan Dusun Timur ini dapat dilihat berdasarkan adanya sungai yang mengalir di setiap desa atau kelurahan. Dilihat dari kondisi hidrologinya maka pada daerah tersebut cocok untuk pertanian karena memiliki cadangan air tanah yang cukup baik, yaitu dapat diketahui dari adanya air yang mengalir di sungai yang terdapat hampir merata di setiap desa atau kelurahan,hanya satu desa yang ridak dilintasi oleh aliran sungai yaitu desa Maragut.
Pada Tahun 2015, Kecamatan Dusun Timur menjadi kecamatan dengan jumlah penduduk tertinggi di Kabupaten Barito Timur sebanyak 27.621 jiwa. Jumlah rumah tangga sebanyak 7.350 rumah tangga. Kelurahan Tamiang Layang merupakan wilayah dengan jumlah penduduk dan rumah tangga tertinggi. Sebesar 36,16 persen (9.988 jiwa) penduduk dan 38,04 persen (2.796 ruta) rumah tangga disumbangkan oleh Kelurahan Tamiang Layang. Kondisi ini juga menjadikan Kelurahan Tamiang Layang sebagai wilayah dengan kepadatan penduduk tertinggi yakni mencapai 219 jiwa/km2. Sementara wilayah dengan jumlah penduduk dan rumah tangga terendah adalah Desa Harara. Sebesar 0,64 persen (176 jiwa) penduduk dan 0,65 persen (48 ruta) rumah tangga disumbangkan oleh Harara. Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin, Kecamatan Dusun Timur terdiri atas 14.003 jiwa laki-laki dan 13.618 jiwa perempuan sehingga didapatkan nilai sex ratio sebesar 102,83. Nilai tersebut dapat diartikan bahwa secara rata-rata terdapat sekitar 103 laki-laki untuk setiap 100 penduduk perempuan
Thursday, January 28, 2016
Sebelah Utara : Kecamatan Martapura (Kabupaten Banjar);
Sebelah Timur : Kecamatan Karang Intan (Kabupaten Banjar);
Sebelah Selatan : Kec. Banjarbaru Selatan dan Kec. Cempaka;
Sebelah Barat : Kecamatan Landasan Ulin.
Kecamatan Banjarbaru Utara merupakan bagian dari pusat kota (CBD) yang memiliki fungsi sebagai pusat pemerintahan, kawasan hankam, permukiman, serta perdagangan dan jasa. Kecamatan ini terdiri dari 4 kelurahan yaitu: Kelurahan Loktabat Utara yang memiliki luas 1.424 ha dan terdiri dari 47 RT serta 9 RW, Kelurahan Mentaos dengan jumlah RT 28 dan jumlah RW 6 seluas 162 Ha, Kelurahan Komet yang memiliki luas wilayah 244 ha (terbagi dalam 19 RT dan 6 RW) dan Kelurahan Sungai Ulin yang memiliki 28 RT dan 7 RW dengan luas wilayah 614 ha.
Apabila dilihat dari kelerangan lahannya, kecamatan Banjarbaru Utara didominasi oleh kawasan dengan kemiringan 0-2 % seluas 2.352 ha serta kemiringan 2-8 % dengan luas 171 Ha. Kondisi tersebut menjadikan kawasan permukiman ini cocok untuk dikembangkan sebagai kawasan budidaya baik itu berupa kegiatan permukiman, perdagangan dan jasa, perkantoran, pertanian dan lain sebagainya.
Pada tahun 2015, jumlah penduduk di kecamatan ini adalah 50.028 jiwa yang terdiri dari 25.556 jiwa penduduk pria dan 24.552 jiwa penduduk wanita. Kelurahan yang memiliki penduduk terbesar yaitu Kelurahan Loktabat Utara dengan jumlah penduduk 20,579 jiwa dan penduduk terendah berada di Kelurahan Komet yaitu berjumlah 4.705 jiwa.
Panjang jalan dengan lebar > 3 meter yang dimiliki oleh Kecamatan Banjarbaru Utara adalah sekitar 95,26 Km dengan kondisi jalan baik, sedang, rusak dan rusak berat. Apabila dilihat dari pengelolaannya, jalan di kecamatan tersebut terbagi dalam jalan kota, jalan provinsi dan jalan negara (jalan nasional). Fasilitas hotel dan penginapan yang ada di kecamatan ini antara lain: Hotel Rahayu (melati 3), Hotel Griya Duta (melati 2), Hotel Batas Kota (melati 1), hotel Karina, Hotel Eboni, Berlian Home Stay, Hotel Duta Wisma, Riyadh Guest House, Penginapan Viera, Hotel Roditha (Bintang 3) dan Safwah In.
Masyarakat yang tinggal dii Kecamatan Banjarbaru Utara juga memiliki hubungan dengan kesenian yang cukup kental. Sampai dengan tahun 2015, tercatat ada 13 organisasi kesenian yang ada di kecamatan tersebut, antara lain: Teater Banua Idaman (teater), Galuh Diang Merindu (Music Painting), Galuh Marikit (Tari), Balahindang Dance (tari), Kesenian Sunda (musik Calung), Sanggar Sumber Indah (musik keroncong), Sanggar Ganda Perwangi (Tari Mamanda), Olsa music Intertaintment (musik), Pelangi Intertaintment (musik), Sanggar Ruhui Rahayu (music painting), Sanggar Kembang Tigarun (tari), R&R (modelling) dan B-Gren Agency (modelling).
Thursday, January 7, 2016
Kabupaten Boyolali memiliki luas wilayah administrasi yang cukup besar, yaitu 101.510,20 Ha yang terbagi dalam 19 kecamatan. Adapun kecamatan-kecamatan tersebut antara lain: Kecamatan Selo, Kecamatan Ampel, Kecamatan Cepogo, Kecamatan Musuk, Kecamatan Boyolali, Kecamatan Mojosongo, Kecamatan Teras, Kecamatan Sawit, Kecamatan Banyudono, Kecamatan Sambi, Kecamatan Ngemplak, Kecamatan Nogosari, Kecamatan Simo, Kecamatan Karanggede, Kecamatan Klego, Kecamatan Andong, Kecamatan Kemusu, Kecamatan Wosonegoro, Kecamatan Juwangi
Topografi Kabupaten Boyolali
Sebagian besar wilayah di Kabupaten ini merupakan daerah yang bergelombang sehingga sebagian besar wilayahnya merupakan daerah pertanian lahan kering yang potensial. Berdasarkan topografinya, Kabupaten Boyolali terletak pada ketinggian 75 – 1500 meter di atas permukaan laut (mdpl). Kondisi ketinggian wilayah Kabupaten Boyolali secara lebih rinci dapat dilihat sebagai berikut:
- Ketinggian 74-400 mdpl : Mojosongo, Teras, Sawit, Banyudono, Sambi, Ngemplak, Simo, Nogosari, Karanggede, Andong, Klego, Kemusu, Wonosegoro, Juwangi dan sebagian Boyolali
- Ketinggian 400-700 mdpl : Boyolali, Musuk, Ampel, Cepogo
- Ketinggian 700-1000 mdpl : Musuk, Ampel, Cepogo
- Ketinggian 1000-1300 mdpl : Cepogo, Ampel, Selo
- Ketinggian 1300-1500 mdpl : Selo
Secara umum, Kabupaten Boyolali terbagi menjadi empat relief daratan, yaitu:
- Lereng Gunung Merbabu, membentang ke arah timur meliputi sebagian besar Kecamatan Ampel.
- Lereng Gunung Merapi (dari puncak ke kaki gunung), membentang ke arah timur meliputi sebagian besar Kecamatan Selo, Kecamatan Musuk, dan Kecamatan Cepogo.
- Dataran rendah, merupakan daerah terendah di Kabupaten Boyolali meliputi Kecamatan Boyolali, Mojosongo, Teras, Banyudono, Sawit, Sambi, Nogosari, dan Kecamatan Ngemplak.
- Daerah berbukit, merupakan daerah di sekitar Pegunungan Kendeng meliputi Kecamatan Simo, Wonosegoro, Klego, Andong, Kemusu, Karanggede, dan Juwangi.
Aspek geologi merupakan aspek yang penting untuk dibahas hubungannya dengan potensi sumberdaya tanah. Struktur geologi merupakan variabel pertumbuhan yang sangat penting dalam pengembangan wilayah, misalnya pengembangan daerah dengan kecepatan pembangunannya, permukiman, bendungan, pertanian dan lain-lain yang dalam pembangunan dan pengembangannya selalu menghindari daerah yang berbentuk struktur berlapis yang berulang, sehingga antara lapisan yang miring dengan lapisan yang kedap air dan tidak kedap air, daerah aktif tektonik dan aktif vulkanik dapat dipilah-pilah sesuai dengan kebutuhan pembangunan.
Batuan (jenis batuan) yang menyusun sebagian besar wilayah Kabupaten Boyolali antara lain :
• Endapan Bentonit, terdapat di Desa Bandung Kecamatan Wonosegoro.
• Endapan Fuller Bart, terdapat di Kecamatan Simo, Karanggede dan Klego.
• Kalsit, terdapat di Desa GunungSari Kecamatan Wonosegoro.
• Phyrit dan Wungkal, terdapat di Kecamatan Wonosegoro dan Kemusu.
• Gamping, terdapat di wilayah Juwangi.
• Pasir Besi, terdapat di wilayah Kecamatan Mojosongo.
• Pasir dan Batu Kali, di sepanjang aliran Sungai Gandul dan Pepe.
Jenis Tanah Kabupaten Boyolali
Asosiasi Litosol dan Grumosol : Kecamatan Kemusu, Klego, Andong, Karanggede, Wonosegoro, Juwangi.
Litosol dan Cokelat : Kecamatan Cepogo, Ampel, Selo.
Regosol Kelabu : Kecamatan Cepogo, Ampel, Boyolali, Mojosongo, Banyudono, Teras dan Sawit.
Litosol dan Regosol Kelabu : Kecamatan Cepogo, Musuk, Selo
Regosol Cokelat : Kecamatan Cepogo, Musuk, Mojosongo, , Teras dan Sawit, Banyudono
Andosol Cokelat : Kecamatan Cepogo, Ampel, Selo
Kompleks Regosol Kelabu dan Grumosol : Kecamatan Kemusu, Wonosegoro, Juwangi.
Grumosol Kelabu Tua : Kecamatan Andong, Klego, Juwangi.
Andosol Kelabu Tua dan Litosol : Kecamatan Cepogo, Ampel, Selo.
Asosiasi Grumosol Kelabu Tua dan Litosol : Kecamatan Simo, Sambi, Nogosari, dan Ngemplak.
Mediteran Cokelat Tua : Kecamatan Kemusu, Klego, Andong, Karanggede, Wonosegoro, Simo, Nogosari, Ngemplak, Mojosongo, Sambi, Teras, Banyudono.
Kondisi Hidrologi Kabupaten Boyolali
Berdasarkan aspek hidrologinya, terdapat sumber air yang sering digunakan masyarakat Kabupaten Boyolali, mata air yang sering digunakan adalah air tanah dan air permukaan. Sumber mata air yang digunakan berasal dari mata air Tlatar di Kecamatan Boyolali, Nepen di Kecamatan teras, Pengging di Kecamatan Banyudono, Pantaran di Kecamatan Ampel, Wonopedut di Kecamatan Cepogo, Mungup di Kecamatan Sawit.
Kondisi Bencana Kabupaten Boyolali
Di Kabupaten Boyolali terdapat beberapa lokasi wilayah yang sering mengalami bencana alam seperti banjir, banjir lahar, tanah longsor, letusan gunung berapi, kebakaran hutan, angin topan, kekeringan dan gempa bumi. Pada kawasan-kawasan seperti ini perlu dilindungi agar dapat menghindarkan masyarakat dari ancaman bencana yang ada tersebut. Berikut ini lokasi-lokasi yang rawan terdapat bencana di Kabupaten Boyolali :
- Daerah rawan banjir terdapat di Kecamatan Sawit, Ngemplak, Wonosegoro dan Juwangi.
- Daerah rawan banjir lahar dingin terdapat di Kecamatan Selo dan Cepogo, di mana letaknya berdekatan dengan Gunung Merbabu dan Merapi.
- Daerah rawan tanah longsor terdapat di Kecamatan Selo, Ampel, Cepogo dan Musuk.
- Daerah rawan kebakaran hutan terdapat di Kecamatan Selo, Ampel, Cepogo (Kawasan Taman Nasional Merapi-Merbabu), Wonosegoro dan Juwangi.
- Daerah rawan angin topan terdapat di Kecamatan Selo, Ampel, Cepogo, Musuk, Kemusu dan Wonosegoro.
- Daerah rawan kekeringan yaitu di Kecamatan Musuk, Wonosegoro dan Juwangi.
Thursday, December 3, 2015
![]() |
| Balai Desa Tlogopayung Kecamatan Plantungan |
Desa yang terletak di daerah pegunungan ini memiliki luas lahan nomor dua pada Kecamatan Plantungan, yaitu sekitar 6,24 Km2 atau sebesar 12,77%. Desa Tlogopayung terletak pada tengah-tengah Kecamatan Plantungan, dengan batas-batas sebagai berikut:
Batas utara : Desa Wonodadi
Batas timur : Desa Wonodadi, Desa Manggungmangu dan Desa Kediten
Batas selatan : Desa Kediten dan Desa Blumah
Batas barat : Kabupaten Batang dan Desa Blumah
Kondisi Fisik Alam Desa Tlogopayung
Topografi atau kelerengan pada Desa Tlogopayung terdiri dari berbagai macam, mulai dari landai pada bagian utara hingga curam pada bagian selatan. Berdasarkan kondisi eksisting pada bagian selatan Desa tolgopayung diperuntukan sebagai tegalan dan perkebunan. Hal tersbut didukung dengan jenis tanah yang ada pada bagian selatan Desa tersebut, yaitu asosiasi andosol. Kemudian pada bagian utara memilki kelerengan mulai dari landai (8-15%) hingga agak curam (15-25%). Pada bagian utara sebagian besar lahan digunakan sebagai kebun dan pertanian dan beberapa pusat aktivitas permukiman. Jenis tanah yang ada pada bagian utara Desa Tlogopayung adalah latosol coklat, dimana jenis tanah ini cocok untuk dijadikan sebagai kawasan pertanian.
Berdasarkan data diatas, diketahui bahwa Desa Tlogopayung memiliki kesesuaian lahan sebagai kawasan penyangga pada bagian selatan dan didmonasi kawasan budidaya pada bagian uatara. Desa Tlogopayung yang didominasi oleh kawasan budidaya sehingga cocok dikembangkan untuk pembangunan permukiman dan pembangunan sarana prasarana lainnya.
Sarana-Prasarana Desa Tlogopayung
Sarana pendidikan yang terdapat di desa ini sebanyak 7 unit, yang terdiri dari 1 unit PAUD yang
berlokasi di pikatan RT 001/004, 1 unit TK yang berlokasi di pikatan RT 001/004, 3 unit SDN/MI yaitu SDN 01, SDN 02 pikatan 001/004 dan SDN 03 bawukan RT 01/007, 1 unit SMP/MTS yang berlokasi di pikatan RT 002/ RW 004 dan 1 unit SMA yang berlokasi di pikatan RT 002/ RW 004.Sarana kesehatan yang ada sebanyak 6 unit yang terdiri 1 PUS-TU yang berlokasi di pikatan RW 004, 3 unit dukun bayi yang berlokasi di tlogo dan pikatan, dan 2 unit bidan yang berlokasi di pikatan RT004 dan tlogo RW 003.
Desa tlogopayung memiliki sarana peribadatan sebanyak 33 unit yang terdiri dari 8 unit masjid yang berlokasi di Tlogobaru, Tlogo, Kepayak, Pikatan Soban, Kalenggan, Bawukan, dan Watupaynung dan 25 unit musholla. Sarana perdagangan yang terdapat di desa ini hanya 2 unit yaitu 1 unit penggilingan padi dan 1 unit usaha lainnya. Di Tlogopayung terdapat beberapa unit lapangan diantaranya adalah 1 unit lapangan sepakbola yang terletak pada dusun pikatan rt 01/ rw 04, 4 unit lapangan bola volly yang terletak di dusun tlogo, pikatan, kalenggangan dan dusun bawukan, dan 2 unit lapangan bulu tangkis yang berlokasi di dusun pikatan. Selain itu terdapat pula 2 unit pemakaman yang berlokasi di dusun pikatan.
Tuesday, October 13, 2015
Kecamatan Brangsong merupakan salah satu kecamatan dari 20 kecamatan yang ada pada Kabupaten Kendal Provinsi Jawa Tengah. Letak geografis Kecamatan yang dilewati Jalan Pantura Jawa ini berada pada 1° 08’ 00” - 1° 20’ 00” LS dan 109° 2’ 24” - 110° 09’ 48” BT. Kecamatan Brangsong memiliki batas-batas wilayah antara lain :
Sebelah Utara : Laut Jawa
Sebelah Selatan : Kecamatan Kaliwungu Selatan dan Kecamatan Ngampel
Sebelah Timur : Kecamatan Kaliwungu
Sebelah Barat : Kecamatan Kendal dan Kecamatan Ngampel
Kecamatan Brangsong memiliki luas wilayah mencapai 35,54 Km2 atau 3.554 Ha yang terdiri dari 12 buah desa yaitu Tunggulsari, Sumur, Penjalin Kertomulyo, Blorok, Sidorejo, Tosari, Rejosari, Turunrejo, Purwokerto, Brangsong, dan Kebonadem. Dari seluruh desa yang ada, Desa Turunrejo merupakan desa yang terluas dengan luas wilayah sebesar 885 Ha. Sedangkan desa yang memiliki luasan terkecil adalah Desa Tosari yang hanya memiliki luas wilayah sebesar 93 Ha.
Kondisi topografi Kecamatan Brangsong memiliki kemiringan yang cenderung datar antara 0% - 20%. Pada Desa Turunrejo dan Purwokerto yang berada pada area bibir pantai memiliki kemiringan lahan 0% - 2%. Sebagian besar wilayah Desa Turunrejo dan Purwokerto memiliki kemiringan 3% - 7%. Desa Rejosari, Brangsong, Kebonadem, Sidorejo, Tosari, Kertomulyo, Penjalin, sebagian Desa Tunggulsari dan sebagian Desa Sumur memiliki kemiringan 8% - 13%. Sebagian lagi pada Desa Tunggulsari dan Sumur memiliki kemiringan 14% - 20%.Kecamatan ini memiliki empat jenis hidrologi yang tersebar di beberapa desa. Pada Desa Turunrejo sebagian kecil wilayahnya yang menjorok ke arah laut memiliki jenis akuifer produktif dengan penyebaran luas & daerah penggaraman. Jenis akuifer produktif dengan dengan penyebaran luas terdapat pada sebagian besar wilayah Desa Turunejo, Desa Purwokerto, Desa Rejosari, dan sebagian wilayah Desa Brangsong. Jenis akuifer produkif sedang dengan penyebaran luas terdapat pada sebagian wilayah Desa Brangsong, sebagian besar wilayah Desa Kebonadem, Desa Tosari, Desa Kertomulyo, dan sebagian wilayah Desa Tunggulsari. Jenis akuifer produktif dan setempat terdapat pada Desa Blorok, Desa Penjalin, sebagian besar wilayah Desa Tunggulsari dan Desa Sumur.
Jalur air yang besifat primer pada Kecamatan Brangsong terdapat dua buah sungai. Sungai yang pertama adalah Sungai Blorong yang terdapat pada batas barat wilayah Brangsong. Sungai yang kedua adalah Sungai Waridin yang terdapat pada batas timur.









