Recent Articles

Thursday, April 28, 2016

Wisma Perdamaian

Thursday, April 28, 2016 - by Blogger · - 0 Comments


Wisma PerdamaianWisma Perdamaian merupakan salah satu bangunan bersejarah yang menjadi cagar budaya di Kota Semarang. Gedung yang kini menjadi rumah dinas kedua Gubernur Jawa Tengah (setelah Puri Gedeh) ini terletak di Jalan Imam Bonjol No 209 Semarang, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, tepatnya berada di sebelah barat Tugu Muda yang menjadi landmark Kota Semarang. Wisma Perdamaian memiliki luas lahan kompleks +- 15.000 m2 dengan luas total bangunan + 6.500 m2. Dibangun dengan orientasi ke arah Tugu Muda (Tenggara). Bangunan ini terdiri dari tiga massa bangunan, yaitu bangunan induk yang difungsikan sebagai ruang kerja gubernur serta tempat penerimaan tamu-tamu resmi, bangunan rumah tinggal (rumah dinas), dan bangunan kantor tempat staff Wisma Perdamaian bekerja.
Wisma Perdamaian SemarangPada awalnya, gedung ini dirancang oleh Nicolaas Harting seorang Gouverneur van Java’s Noord-Oostkust (Gubernur Jawa Utara Bagian Pesisir Timur) yang berkuasa dan berkedudukan di Kota Semarang antara tahun 1754–1761.  Gedung yang pada awalnya merupakan bangunan utama di komplek villa milik Harting tersebut juga disebut sebagai De Vredestein atau Istana Perdamaian dengan lapangan Wilhelmina Plein yang berada di depannya. Setelah dihapusnya jabatan Gubernur Jawa Utara Bagian Pesisir Timur oleh Daendels, bangunan ini sempat hanya menjadi rumah singgah Gubernur Jendral yang selanjutnya  digunakan sebagai rumah jabatan Residen Semarang.  Gedung ini juga pernah dijadikan transit oleh Pangeran Diponegoro dan pengikutnya selama 1 minggu sebelum beliau dibawa ke Jakarta yang selanjutnya diasingkan ke Ujung Pandang (Makasar).

Wisper Wisma PerdamaianDilihat dari segi arsitektur/ desain bangunan, ternyata bentuk bangunan Wisma Perdamaian banyak mengalami perubahan. Sampai dengan pertengahan abad ke 19, bangunan lama masih berupa bangunan tunggal 2 lantai yang berarsitektur klasik yang dicirikan dengan adanya pilar pilar rangkap dengan kapitel berornamen dan bermotif bunga. Pada masa ini, diduga terdapat courtyard/ portico (selasar lebar yang juga berfungsi sebagai teras.  Di bagian atas, terdapat Cornice dengan ornamen berupa moudling/list yang terdapat pada seluruh tepi dinding, baik pada pertemuan dengan atap maupun pada garis lantai 2.

Menjelang abad ke 20, bangunan yang menjadi pusat kedudukan VOC di Jawa bagian timur ini ditambahkan serambi bangunan di samping kanan dan kiri, serta atap diubah menjadi limasan penuh. Diduga pada saat itu courtyard ditutup.  Pada tahun 1940-an, ditambah serambi beratap pada bagian depan bangunan, serambi ini sekaligus sebagai balkon pada lantai duanya. Pada awal abad ke -20, bangunan samping dibongkar, kemudian ditambahkan tritisan/ luifel gantung dengan rangka besi yang berpenutup seng. T ahun 1970-an Wisma Perdamaian Tugu Mudaditambahkan lagi bangunan 2 lantai di bagian belakang dari kiri bangunan induk, yang kemudian digunakan untuk APDN. Renovasi terakhir dilakukan pada tahun 1978, dengan mengganti luifel gantung menjadi plat dan konsol beton dengan banyak ornamen ukiran; serta mengganti daun pintu dan jendela dengan bahan baru; termasuk pula membuat tangga layang pada ruang depan.

Interior Wisma Perdamaian
Pada tahun 1978, bangunan ini digunakan oleh APDN yang kemudian menjadi STPDN hingga pindah ke Jatinangor Jawa Barat. Pada tahun 1980 digunakan untuk Kantor Sosial dan selanjutnya pada tahun 1994 gedung ini digunakan untuk Kantor Kanwil Pariwisata Jawa Tengah. Setelah direvitalisasi pada 1994, gedung itu menjadi Rumah Dinas Gubernur Jawa Tengah pada era Gubernur Suwardi, yang diresmikan dengan penyematan ”Wisma Perdamaian” sebagai nama gedung. Akan tetapi karena ada beberapa kendala, setelah Gubernur Suwardi berkuasa rumah dinas Gubernur Jawa Tengah kembali berpindah ke Puri Gedeh yang dianggap lebih nyaman. Saat ini Wisma Perdamaian selain digunakan untuk menerima tamu-tamu kenegaraan juga dimanfaatkan untuk banyak kegiatan pendidikan, budaya, maupun seni yang diperuntukkan bagi semua masyarakat Jawa Tengah.


Wednesday, April 6, 2016

Gapura Desa Donorojo Demak

Wednesday, April 6, 2016 - by Blogger · - 0 Comments



Gapura Desa Donorojo Kecamatan DemakDalam falsafah budaya jawa, gapura merupakan salah satu penanda bahwa lokasi tersebut merupakan pintu masuk ke dalam sebuah kawasan baik itu desa, kabupaten, kerajaan maupun negara. Mengingat fungsi gapura yang berada di depan, maka banyak penguasa dan masyarakat yang membangun gapura masuk ke tempat mereka dengan megah dan mewah.

Desa Donorojo yang merupakan salah satu desa yang masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Demak Kabupaten Demak memiliki gapura yang cukup mewah Gapura Desa Donorojo Demakdan megah. Gapura yang selesai dibangun pada tahun 2016 ini memiliki tampilan yang gagah dengan patung Burung Garuda yang bertengger di puncaknya. Gapura Desa Donorojo ini dibangun di ujung timur desa yang merupakan pintu masuk utama menuju Desa Donorojo. Keberadaan gapura ini seolah-olah menegaskan bahwa pengunjung sudah mulai masuk ke lingkungan Desa Donorojo yang megah dengan kondisi masyarakat yang terus bekerja keras dalam membangun desanya. 

Subscribe

Mau berlanganan ? Silahkan masukkan emailmu di sini

© 2013 Fotopedia. All rights reserved.
Designed by SpicyTricks