Wednesday, December 28, 2022
Di Kabupaten Wonosobo, keberadaan titik 0 Km mulai diketahui banyak orang setelah adanya pembangunan Tugu 0 Km Wonosobo melalui kegiatan Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) Skala Kawasan. Titik 0 Km Wonosobo Sendiri berada di pintu gerbang masuk Kota Wonosobo, Tepatnya di perempatan yang menghubungkan Jl Kyai Muntang, Jl Sabuk Alu, Jl S Parman dan Jl Nasional Temanggung-Wonosobo.
Tugu 0 Km Wonosobo berupa tugu dengan patung lengger, yaitu kesenian khas daerah wonosobo. Berbeda dengan lengger di daerah yang lain, Lengger khas wonosobo berupa tari topeng yang menjadi bagian dari Tari Lengger sebagaimana umumnya. Pemilihan Lengger sebagai penanda Kota Wonosobo tersebut dimaksudkan untuk lebih mengenalkan salah satu budaya asli wonosobo kepada masyarakat luas.
Pembangunan Tugu 0 Km Wonosobo sendiri merupakan bagian dari pembangunan pintu gerbang Kota Wonosobo dari arah Temanggung yang terdiri dari Pembangunan Tugu 0 Km, Pembangunan drainase dan pedestrian atau trotoar di sepanjang Jl Kyai Muntang termasuk penyediaan sarana perlengkapan jalan berupa lampu jalan, halte, gapura, pagar pembatas, kursi, taman, dan pohon peneduh.
Friday, April 19, 2019
Tugu Jam Temanggung terletak di area Taman Pancasila yang berada di pusat Kota Temanggung yang berjarak sekitar 1,6 Km dari alun-alun. Tugu tersebut sekaligus dijadikan sebagai titik nol kilometer Kota Temanggung. Sebagai salah satu ikon kota tembakau, Tugu Jam banyak dikenal oleh masyarakat, khususnya yang sering berkunjung ke pusat kota ini.
Meskipun masyarakat banyak mengenal dan menyebutnya sebagai Tugu Jam, namun sebenarnya tugu ini memiliki nama resmi Tugu Pancasila Temanggung. Tugu ini dibuat dengan bentuk mengerucut di bagian atas menyerupai bagian ujung bambu runcing.
Wednesday, September 20, 2017
Masjid Besar Juwana atau biasa disebut dengan Masjid Besar Al Mukkaromah, merupakan salah satu masjid terbesar yang ada di Kecamatan Juwana Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Masjid ini merupakan salah satu masjid yang cukup tua karena dibangun pada sekitar tahun 1850, dimana saat itu Juwana masih menjadi kabupaten yang diperinth oleh Kanjeng Kyahi Adipati Mangkudipuro II. Masjid Besar Juwana dibangun seperti umumnya masjid masjid di Jawa yaitu Masjid berundak 3 yang ditopang oleh 4 (empat) Soko Guru kayu jati diameter 30 cm dengan panjang sekitar 6 meter.Masjid yang terletak ditepi jalan raya pantura ini di masa perjuangan kemerdekaan, digunakan berkumpul para pejuang. Yang sangat di sayangkan, bangunan asli bangunan masjid ini sudah hilang setelah mengalami beberapa kali renovasi.
Saat ini Masjid Al Mukaromah menjadi salah satu landmark Kota Juwana bersama dengan alun-alun Juwana yang berada di depannya. Masjid yang cukup megah tersebut menjadi pusat penyebaran dan aktivitas dakwah Agama Islam di Kota Juwana dan sekitarnya. Dan karena posisinya yang sangat strategis (berada di jalur transportasi utama Pantura Pulau Jawa), maka banyak pula masyarakat yang singgah untuk beribadah atau beristirahat sejenak di masjid tersebut ketika mereka melewati Kota Juwana. Friday, July 1, 2016
Dan kini, Kabupaten Kudus yang juga terkenal sebagai Kota Kretek karena di sana terdapat beberapa pabrik rokok terbesar di Indonesia memiliki landmark yang baru yaitu Gerbang Kudus Kota Kretek. Monumen yang dibangun dengan biaya hampir 16 Milyar rupiah ini terletak di dekat perbatasan antara Kabupaten Demak dan Kabupoaten Kudus tepatnya di Jalan R Agil Kusumadya Desa Jati Wetan Kecamatan Jati.
Gerbang Kudus Kota Kretek ini memiliki ketingian sekitar 10,5 meter dan panjang 65 meter. Bentuk monumen tersebut, menyerupai bentuk daun tembakau dengan ukuran lebar sayap kanan dan kiri sekitar 21 meter. Selain bangunan monumen, juga akan dilengkapi taman sehingga panjang lokasi keseluruhan mencapai sekitar 400 meter. Replika daun tembakau, dibuat menggunakan bahan stainless khusus yang didatangkan dari Australia dengan 59 tulang di sisi kanan dan kirinya, dimana angka 5 sebagai lambang Rukun Islam dan angka 9 memaknai Wali Sanga. Struktur penyangga replika daun tembakau, didesain menyerupai bunga cengkeh dengan jumlah 4 buah yang melambangkan empat pilar kebangsaan: Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI.
Thursday, April 28, 2016
Wisma Perdamaian merupakan salah satu bangunan bersejarah yang menjadi cagar budaya di Kota Semarang. Gedung yang kini menjadi rumah dinas kedua Gubernur Jawa Tengah (setelah Puri Gedeh) ini terletak di Jalan Imam Bonjol No 209 Semarang, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, tepatnya berada di sebelah barat Tugu Muda yang menjadi landmark Kota Semarang. Wisma Perdamaian memiliki luas lahan kompleks +- 15.000 m2 dengan luas total bangunan + 6.500 m2. Dibangun dengan orientasi ke arah Tugu Muda (Tenggara). Bangunan ini terdiri dari tiga massa bangunan, yaitu bangunan induk yang difungsikan sebagai ruang kerja gubernur serta tempat penerimaan tamu-tamu resmi, bangunan rumah tinggal (rumah dinas), dan bangunan kantor tempat staff Wisma Perdamaian bekerja.
Pada awalnya, gedung ini dirancang oleh Nicolaas Harting seorang Gouverneur van Java’s Noord-Oostkust (Gubernur Jawa Utara Bagian Pesisir Timur) yang berkuasa dan berkedudukan di Kota Semarang antara tahun 1754–1761. Gedung yang pada awalnya merupakan bangunan utama di komplek villa milik Harting tersebut juga disebut sebagai De Vredestein atau Istana Perdamaian dengan lapangan Wilhelmina Plein yang berada di depannya. Setelah dihapusnya jabatan Gubernur Jawa Utara Bagian Pesisir Timur oleh Daendels, bangunan ini sempat hanya menjadi rumah singgah Gubernur Jendral yang selanjutnya digunakan sebagai rumah jabatan Residen Semarang. Gedung ini juga pernah dijadikan transit oleh Pangeran Diponegoro dan pengikutnya selama 1 minggu sebelum beliau dibawa ke Jakarta yang selanjutnya diasingkan ke Ujung Pandang (Makasar).
Dilihat dari segi arsitektur/ desain bangunan, ternyata bentuk bangunan Wisma Perdamaian banyak mengalami perubahan. Sampai dengan pertengahan abad ke 19, bangunan lama masih berupa bangunan tunggal 2 lantai yang berarsitektur klasik yang dicirikan dengan adanya pilar pilar rangkap dengan kapitel berornamen dan bermotif bunga. Pada masa ini, diduga terdapat courtyard/ portico (selasar lebar yang juga berfungsi sebagai teras. Di bagian atas, terdapat Cornice dengan ornamen berupa moudling/list yang terdapat pada seluruh tepi dinding, baik pada pertemuan dengan atap maupun pada garis lantai 2. Menjelang abad ke 20, bangunan yang menjadi pusat kedudukan VOC di Jawa bagian timur ini ditambahkan serambi bangunan di samping kanan dan kiri, serta atap diubah menjadi limasan penuh. Diduga pada saat itu courtyard ditutup. Pada tahun 1940-an, ditambah serambi beratap pada bagian depan bangunan, serambi ini sekaligus sebagai balkon pada lantai duanya. Pada awal abad ke -20, bangunan samping dibongkar, kemudian ditambahkan tritisan/ luifel gantung dengan rangka besi yang berpenutup seng. T ahun 1970-an
ditambahkan lagi bangunan 2 lantai di bagian belakang dari kiri bangunan induk, yang kemudian digunakan untuk APDN. Renovasi terakhir dilakukan pada tahun 1978, dengan mengganti luifel gantung menjadi plat dan konsol beton dengan banyak ornamen ukiran; serta mengganti daun pintu dan jendela dengan bahan baru; termasuk pula membuat tangga layang pada ruang depan.Wednesday, April 6, 2016
Dalam falsafah budaya jawa, gapura merupakan salah satu penanda bahwa lokasi tersebut merupakan pintu masuk ke dalam sebuah kawasan baik itu desa, kabupaten, kerajaan maupun negara. Mengingat fungsi gapura yang berada di depan, maka banyak penguasa dan masyarakat yang membangun gapura masuk ke tempat mereka dengan megah dan mewah. Desa Donorojo yang merupakan salah satu desa yang masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Demak Kabupaten Demak memiliki gapura yang cukup mewah
dan megah. Gapura yang selesai dibangun pada tahun 2016 ini memiliki tampilan yang gagah dengan patung Burung Garuda yang bertengger di puncaknya. Gapura Desa Donorojo ini dibangun di ujung timur desa yang merupakan pintu masuk utama menuju Desa Donorojo. Keberadaan gapura ini seolah-olah menegaskan bahwa pengunjung sudah mulai masuk ke lingkungan Desa Donorojo yang megah dengan kondisi masyarakat yang terus bekerja keras dalam membangun desanya.





