Recent Articles
Home » Posts filed under Kota
Showing posts with label Kota. Show all posts
Showing posts with label Kota. Show all posts
Wednesday, July 25, 2018
Kota Surakarta
Kota Surakarta merupakan salah satu kota di Provinsi Jawa tengah yang cukup terkenal karena sangat mewarnai perkembangan sejarah negara Indonesia. Di sana terdapat pusat pemerintahan kerajaan Mataram yang merupakan salah satu kerajaan besar di jamannya. Kota yang cukup strategis karena berada di simpul jalur transportasi Pulau Jawa bagian Selatan ini secara geografis terletak antara 1100 45’15” dan 1100 45’35“ Bujur Timur dan antara 70 36’ dan 70 56’ Lintang Selatan. Posisi kota ini juga unik karena terletak pada cekungan di antara dua gunung berapi yaitu Lawu di sebelah timur dan gunung Merapi di sebelah barat, sehingga topografis relatif rendah dengan ketinggian rata-rata 92 m di atas permukaan laut dan berada pada pertemuan Sungai Pepe, Jenes dan Bengawan Solo. Kota ini mempunyai luas wilayah 44.04 km2 terdiri atas 5 (lima) kecamatan yaitu Kecamatan Laweyan, Kecamatan Serengan, Kecamatan Pasarkliwon, Kecamatan Jebres dan Kecamatan Banjarsari
Adapun batas-batas administratif Kota Surakarta adalah sebagai berikut:
Batas Utara : Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Boyolali
Batas Selatan : Kabupaten Sukoharjo dan Kabupaten Karanganyar
Batas Timur : Kabupaten Sukoharjo
Batas Barat : Kabupaten Sukoharjo dan Kabupaten Karanganyar
Topografi Kota Surakarta
Berdasarkan kondisi topografi atau ketinggian wilayahnya, Kota Surakarta terletak pada ketinggian antara 80 – 130 meter di atas permukaan laut (mdpl), dengan kemiringan lahan angtara 0 % sampai 15 %. Kota ini juga terletak diantara 2 gunung berapi yaitu Gunung Lawu (Kabupaten Karanganyar)disebelah timur dan Gunung Merapi serta Merbabu sebelah barat. Dengan posisi demikian maka Kota Surakarta termasuk sebagai wilayah cekungan air. Dibagian timur dan selatan Kota Surakarta mengalir Sungai Bengawan Solo, salah satu sungai terpanjang di Pulau Jawa yang menjadi batas fisik administrasi dengan Kabupaten Karanganyar serta Kabupaten Sukoharjo.
Kondisi Geologi Kota Surakarta
Dilihat dari aspek geologi, jenis batuan yang ada di kota ini terdiri dari:
Aluvial (Qa) merupakan tanah mineral yang baru berkembang, berbentuk lempung, lumpur, lanau, pasir, kerikil, kerakal dan berangkal. Tanah ini terbentuk dari bahan endapan yang dibawa oleh aktivitas air sungai. Bahan-bahan tererosi dari puncak bukit diangkut oleh air melalui aliran permukaan dan masuk ke parit-parit menuju sungai. Bahan-bahan yang memiliki masa lebih besar diendapkan terlebih dahulu di suatu tempat yang lebih dekat, sedangkan bahan-bahan yang memiliki masa yang lebih ringan akan terbawa terus oleh aliran sungai hingga mencapai daerah datar. Pada tempat dimana aliran air mulai kehilangan daya angkutnya inilah bahan-bahan yang lebih halus diendapkan dan membentuk dataran Aluvial. Batuan ini terhampar luas sepanjang lembah bengawan solo dan merupakan batuan dominan di kota Surakarta kecuali di bagian utara kota (Kecamatan Jebres dan Kecamatan Banjarsari dengan ketebalan berkisar dari beberapa senti sampai beberapa meter. Kawasan I dalam hal ini termasuk dalam jenis struktur geologi Aluvium ini.
Aluvum tua (Qt) berbetuk konglomerat, batu pasir, lanau dan lempung. Pada batuan ini terdapat di bagian utara kota Surakarta (sebagain Kecamatan Jebres dan Kecamatan Banjarsari). Pada satuan iniditemukan struktur silang-siur, toreh dan isi dan pelapisan bersusun. Secara setempat ditemukan fosil Bibos sp. Dan Cervus sp yang diduga berumur Plistosen. Ketebalan batuan ini maksimum 8 meter kedudukannya menindih tidak selaras batuan yang lebih tua dan tertindih tak selaras oleh aluvium. Umumnya batuan ini berupa endapan sungai.
Batuan Gunung merapi (Qvm) berbentuk breksi gunung api, lava dan tuf. Batuan ini terdapat di bagian barat kota Surakarta. Batuan ini umumnya bersusun andesit. Fosil tidak ditemukan. Kegiatanya diduga sejak Plistosen akhir.
Hidrogeologi Kota Surakarta
Kondisi Hidrogeologi berdasarkan kedalaman akuifer yang ada di Kota Surakarta, maka dapat dibagi benjadi 2 (dua) bagian, yaitu :
Akuifer dangkal, kedalaman akuifer antara 2 sampai 23 m dibawah muka tanah setempat (mbmt) dengan ketebalan antara 5 sampai 23 m. Di bagian tengah Kota Surakarta akuifer dangkal disusun oleh pasir tufan, dan pasir hasil lapukan endapan vulkanik dengan kedalaman antara 2,7 sampai 69,4 mbmt.
Air tanah dangkal, mendapat imbuhan langsung dari curah hujan sekitar1.015 juta m³/tahun. Kedalaman muka air tanah tahun 1999 berkisar antara 2 sampai 23,5 mbmt. Di bagian tengah sampai selatan, kedalaman air tanah kurang dari 10 mbmt, sedangkan kedalaman air tanah di bagian utara mencapai 69 mbmt. Fluktuasi air tanah berkisar antara 1 sampai 5 m.
Klimatologi Kota Surakarta
Kota Surakarta, sebagaimana kota-kota lain di Jawa tengah memiliki iklim tropis dengan suhu rata-rata 24,8°C sampai 18,1°C dan memiliki kelembaban udara berkisar antara 66-84%. Penyinaran matahari tertinggi terjadi pada bulan Agustus atau September dengan radiasi matahari antara 80 – 84%, sementara penyinaran terendah terjadi pada bulan Desember atau Januari dengan radiasi matahari sekitar 48 – 50%. Tekanan udara antara 1.007-1011 atmosfir, rata-rata sebesar 1.010 atmosfir; Curah hujan pada tahun 2011 sebesar 2.548,50 mm/th, yang lebih kecil dibandingkan tahun 2010 sebesar 3.408 mm/thn dan tahun 2009 sebesar 2.332,5 mm/th dengan hari hujan mencapai 163 hari.
Jenis Tanah Kota Surakarta
Secara umum, jenis tanah yang terdapat di kota ini adalah tanah Aluvial yang berasal dari endapan batu, tanah Aluvial berlapis-lapis dan memiliki kandungan pasir sekitar 60 %. Kawasan I dalam hal ini termasuk dalam kategori jenis tanah ini. Sebagai tanah berpasir, maka jenis tanah ini memiliki permeabilitas lambat sampai sedang (0,51 cm/jam – 6,35 cm/jam) serta kapasitas infiltrasi sedang (7,50 mm/jam – 15,00 mm/jam), serta cukup peka terhadap gejala erosi.
Sunday, September 27, 2015
Kota Banjarmasin Kota Seribu Sungai
Kota Banjarmasin adalah salah satu kota sekaligus ibukota dari provinsi Kalimantan Selatan. Kota tersebut merupakan pusat kegiatan nasional (PKN), yang merupakan kawasan perkotaan yang berpotensi sebagai pintu gerbang menuju kawasan internasional, berpotensi sebagai pusat kegiatan industri dan jasa, dan lain sebagainya. Juga merupakan kota penting di wilayah Kalimantan Selatan yang memiliki posisi sangat strategis secara geografis.
Kota yang dijuluki kota seribu sungai ini merupakan sebuah kota delta atau kota kepulauan sebab terdiri dari sedikitnya 25 buah pulau kecil (delta) yang merupakan bagian-bagian kota yang dipisahkan oleh sungai-sungai diantaranya pulau Tatas, pulau Kelayan, pulau Rantauan Keliling, pulau Insan dan lain-lain.
Secara geografis, kota ini terletak di 3º15´- 3º22´ Lintang Selatan dan 114º98´- 114º38´ Bujur Timur. Memiliki ketinggian rata-rata 0,16 m dibawah Mdpl dengan Kemiringan 0,13 %, topografi relatif datar dan sebagian daratan berpaya-paya (rawa).
Wilayah Kota ini memiliki luas sebesar 98,46 km2 atau 0,26% dari luas wilayah Provinsi Kalimantan Selatan dan terdiri dari 5 kecamatan dengan 52 kelurahan. Kecamatan-kecamatan yang ada dalam wilayah administrasi kota ini antara lain: Kecamatan Banjarmasin utara, Kecamatan Banjarmasin tengah, Kecamatan Banjarmasin Barat, Kecamatan Banjarmasin Timur dan kecamatan Banjarmasin Selatan. Secara umum letak Administrasi kota seribu sungai ini berbatasan dengan beberapa wilayah yaitu :
Sebelah Utara : Kab. Barito Kuala
Sebelah Timur : Kab. Banjar
Sebelah Selatan: Kab. Banjar
Sebelah Barat : Kab. Barito Kuala dan Sungai Barito
Kota yang memiliki perkembangan cukup pesat ini memiliki iklim tropis dengan suhu udara rata-rata berkisar antara 25 º -38 º C. Curah hujan rata-rata 236 mm, hari hujan 157 hari/tahun (pengaruh angin muson barat).Kota ini terletak dekat muara Sungai Barito dan dibelah dua oleh Sungai Martapura, sehingga seolah olah terpisah menjadi 2 bagian. Kemiringan tanah antara 0.13 % dengan susunan geologi terutama bagian bawahnya didominasi oleh lempung dengan sisipan pasir halus dan endapan aluvium yang terdiri dari lempung hitam keabuan dan lunak.Struktur geologi yang terdapat di kota ini berupa lapisan gambut tebal, memiliki jenis tanah alluvial yang didominasi oleh struktur lempung. Struktur geologi sungai berupa batuan dasar berbentuk cekungan dari batuan metaforf, bagian permukaan ditutupi oleh kerakal, kerikil, pasir dan lempung. Kota Banjarmasin mengalami instrusi air laut pada saat musim kemarau sehingga sumber air tanah (rawa) bersifat asam dan tidak baik untuk keperluan hidup sehari-hari masyarakat seperti minum, makan, mencuci dan sebagainya.
Abrasi sering terdapat didaerah sungai,hal ini terjadi karena karena sifat tanah yang lunak dan mengakibatkan garis badan sungai semakin masuk ke daratan. Upaya pemerintah kota Banjarmasin dalam menanggulangi dampak abrasi adalah dengan membangun siring disebagian wialayah aliran sungai Martapura. Proses pendangkalan sungai karena sedimentasi bisa juga ditemui di berbagai titik wilayah seperti di daerah Jalur Muara (pertemuan antara Sungai Martapura dan Sungai Barito, Pusat kota (sentra ekonomi) karena buangan sampah dan hulu Sungai Martapura (Riam Kanan) serta akibat penebangan hutan.
Pola pengelompokan bangunan di kota Banjarmasin adalah mengelompok khususnya pada bangunan di tepian sungai dengan muka rumah mengarah ke sungai dan Linear (berderet) tipe tunggal pada bangunan di jalan /gang desa dengan muka rumah mengarah ke jalan. Jenis bangunan berkonstruksi panggung untuk mengantisipasi air pasang (± 80 cm) berbahan semi Permanen atau kayu. Tipe tunggal tidak bertingkat dan bertingkat untuk bangunan yang dibangun baik di darat maupun di tepian sungai.
Kota yang memiliki perkembangan cukup pesat ini memiliki iklim tropis dengan suhu udara rata-rata berkisar antara 25 º -38 º C. Curah hujan rata-rata 236 mm, hari hujan 157 hari/tahun (pengaruh angin muson barat).Kota ini terletak dekat muara Sungai Barito dan dibelah dua oleh Sungai Martapura, sehingga seolah olah terpisah menjadi 2 bagian. Kemiringan tanah antara 0.13 % dengan susunan geologi terutama bagian bawahnya didominasi oleh lempung dengan sisipan pasir halus dan endapan aluvium yang terdiri dari lempung hitam keabuan dan lunak.Struktur geologi yang terdapat di kota ini berupa lapisan gambut tebal, memiliki jenis tanah alluvial yang didominasi oleh struktur lempung. Struktur geologi sungai berupa batuan dasar berbentuk cekungan dari batuan metaforf, bagian permukaan ditutupi oleh kerakal, kerikil, pasir dan lempung. Kota Banjarmasin mengalami instrusi air laut pada saat musim kemarau sehingga sumber air tanah (rawa) bersifat asam dan tidak baik untuk keperluan hidup sehari-hari masyarakat seperti minum, makan, mencuci dan sebagainya.
Abrasi sering terdapat didaerah sungai,hal ini terjadi karena karena sifat tanah yang lunak dan mengakibatkan garis badan sungai semakin masuk ke daratan. Upaya pemerintah kota Banjarmasin dalam menanggulangi dampak abrasi adalah dengan membangun siring disebagian wialayah aliran sungai Martapura. Proses pendangkalan sungai karena sedimentasi bisa juga ditemui di berbagai titik wilayah seperti di daerah Jalur Muara (pertemuan antara Sungai Martapura dan Sungai Barito, Pusat kota (sentra ekonomi) karena buangan sampah dan hulu Sungai Martapura (Riam Kanan) serta akibat penebangan hutan.
Pola pengelompokan bangunan di kota Banjarmasin adalah mengelompok khususnya pada bangunan di tepian sungai dengan muka rumah mengarah ke sungai dan Linear (berderet) tipe tunggal pada bangunan di jalan /gang desa dengan muka rumah mengarah ke jalan. Jenis bangunan berkonstruksi panggung untuk mengantisipasi air pasang (± 80 cm) berbahan semi Permanen atau kayu. Tipe tunggal tidak bertingkat dan bertingkat untuk bangunan yang dibangun baik di darat maupun di tepian sungai.
Sunday, January 24, 2010
Kota Banjarbaru
Kota Banjarbaru yang merupakan salah satu Kota yang berada dalam lingkup administrasi Provinsi Kalimantan Selatan. Kota yang menjadi satelit dari Kota Banjarmasin ini memiliki batas-batas administratif sebagai berikut:
- Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Martapura Kabupaten Banjar;
- Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar;
- Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Gambut dan Kecamatan Aluh-Aluh Kabupaten Banjar;
- sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Bati-Bati Kabupaten Tanah Laut.
Kota Banjarbaru memiliki luas wilayah 371,38 km2 yang terdiri 5 (lima) Kecamatan dan 20 (dua puluh) Kelurahan. Kecamatan dengan luas terbesar adalah kecamatan Cempaka sedangkan luasan wilayah yang terkecil yaitu Kecamatan Banjarbaru Selatan.
Sejarah Perkembangan Kota Banjarbaru
Pada awal perkembangannya, Banjarbaru ditetapkan sebagai Kota Administratif dengan tiga wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan Landasan Ulin, Banjarbaru dan Kecamatan Cempaka (berdasarkan UU No. 5/1974 Pasal 27 ayat (4) dan PP No. 26/1975 yang diperkuat dengan Permendagri No. 12/1975 tentang Pokok Pemerintahan Wilayah Kota Administratif Banjarbaru dan Permendagri No.24/1975 tentang Pelaksanaan PP No. 26/1975 tanggal 29 Oktober 1975. Selanjutnya setelah menjadi daerah otonom, Kota Banjarbaru mengalami 2 (dua) kali pemekaran wilayah, terakhir dengan Perda Kota Banjarbaru No. 4 Tahun 2007 tentang Pemecahan dan Pembentukan 2 (dua) Kecamatan Baru di Kota Banjarbaru. Pemekaran kecamatan terjadi pada Kecamatan Landasan Ulin menjadi Kecamatan Landasan Ulin dan Kecamatan Liang Anggang, serta Kecamatan Banjarbaru dipecah menjadi Kecamatan Banjarbaru Utara dan Kecamatan Banjarbaru Selatan
Sejarah Perkembangan Kota Banjarbaru
Pada awal perkembangannya, Banjarbaru ditetapkan sebagai Kota Administratif dengan tiga wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan Landasan Ulin, Banjarbaru dan Kecamatan Cempaka (berdasarkan UU No. 5/1974 Pasal 27 ayat (4) dan PP No. 26/1975 yang diperkuat dengan Permendagri No. 12/1975 tentang Pokok Pemerintahan Wilayah Kota Administratif Banjarbaru dan Permendagri No.24/1975 tentang Pelaksanaan PP No. 26/1975 tanggal 29 Oktober 1975. Selanjutnya setelah menjadi daerah otonom, Kota Banjarbaru mengalami 2 (dua) kali pemekaran wilayah, terakhir dengan Perda Kota Banjarbaru No. 4 Tahun 2007 tentang Pemecahan dan Pembentukan 2 (dua) Kecamatan Baru di Kota Banjarbaru. Pemekaran kecamatan terjadi pada Kecamatan Landasan Ulin menjadi Kecamatan Landasan Ulin dan Kecamatan Liang Anggang, serta Kecamatan Banjarbaru dipecah menjadi Kecamatan Banjarbaru Utara dan Kecamatan Banjarbaru Selatan
Dengan demikian, secara administratif saat ini Kota Banjarbaru terdiri dari 5 Kecamatan dengan 20 kelurahan, yaitu Kecamatan Banjarbaru Utara, Kecamatan Banjarbaru Selatan, Kecamatan Landasan Ulin, Kecamatan Liang Anggang dan Kecamatan Cempaka. Kelima kecamatan tersebut selain berfungsi sebagai pusat pemerintahan juga merupakan pusat-pusat pertumbuhan di Kota Banjarbaru. Kecamatan yang memiliki perkembangan paling pesat adalah Kecamatan Banjarbaru (Banjarbaru Utara dan Banjarbaru Selatan) sebagai pusat pemerintahan provinsi, pelayanan pendidikan tinggi, pelayanan umum dan sosial, transportasi regional, perdagangan dan jasa, serta kawasan khusus militer; Kecamatan Landasan Ulin (Landasan Ulin dan Liang Anggang) sebagai pusat pelayanan transportasi regional, pusat pengembangan industri, pengembangan permukiman dan kawasan rekreasi; serta Kecamatan Cempaka sebagai pusat pertambangan intan tradisional, pengembangan permukiman, lahan cadangan dan konservasi.
Kedudukan Kota Banjarbaru dalam konstelasi regional
Dalam kontelasi hubungan antar-wilayah, Kota Banjarbaru memiliki kedudukan yang penting dan strategis, khususnya dalam sistem transportasi darat dan udara. Kota tersebut memiliki akses Jalan Simpang Tiga Liang Anggang yang menghubungkan Banjarmasin – Kotabaru dan Banjarmasin – Hulu Sungai hingga ke Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Selain itu, Banjarbaru memiliki akses pelabuhan laut Trisakti sebagai gerbang jalur transportasi laut melalui Jalan Lingkar Selatan Liang Anggang dan akses Bandar Udara Syamsuddin Noor sebagai jalur transportasi udara di Kalimantan Selatan. Kondisi yang demikian menjadikan Kota ini berfungsi sebagai Kota Pendidikan, Industri, Jasa dan Perdagangan, serta Pemerintahan dan Permukiman.
Kondisi Topografi Kota Banjarbaru
Secara topografi, Kota yang saat ini berkembang cukup pesat tersebut memiliki topografi bervariasi antara 0 – 500 m dari permukaan air laut (dpl), dengan bentuk bentang alam (morfologi) yang cukup variatif (beragam). Sebagian besar wilayah kota berada di ketinggian 7 – 25 m dpl yaitu sekitar 10.615 Ha atau 33,23% dari luas wilayah keseluruhan.
Dari segi kemiringan tanah kondisi kota Banjarbaru dapat dilihat sebagai berikut
- Sebagian besar wilayah Kota memiliki kelerengan 0 – 2% (± 59,35%). Kondisi ini sangat cocok untuk budidaya pertanian maupun untuk kegiatan perkotaan;
- Kelerengan antara 2–8% (± 25,78%) berada di sebagian wilayah Cempaka, Banjarbaru Utara dan Selatan. Di kelas lereng ini, kegiatan budidaya masih dapat dilaksanakan, tetapi harus menggunakan teknologi yang tepat sebagai bentuk antisipasi erosi tanah;
- Kelerengan antara 8–15% (± 12,08%) berada di sebagian wilayah Cempaka. Kelas lereng ini masing memungkinkan untuk budidaya perkebunan atau kehutanan dengan jenis tanaman yang berakar dalam.
Jenis Tanah Kota Banjarbaru
Secara umum, jenis tanah di Banjarbaru terdiri dari tanah podsolik (63,82%), organosol (29,82%) dan lathosol (6,36%). Jenis tanah Podsolik Merah Kuning (Ultisols) tersebar sebagian besar di Kecamatan Cempaka dan Banjarbaru; sedangkan Aluvial (Entisols dan Inceptisols), Gambut (Histosols) dan Spodosols tersebar di Kecamatan Landasan Ulin. Jenis tanah podsolik mempunyai ciri tanah dengan tingkat kesuburan yang rendah dan peka terhadap erosi. Walaupun demikian, di Kota Banjarbaru tetap dapat dikembangkan budidaya pertanian (padi, palawija, sayuran, perkebunan), tetapi disertai dengan teknologi pengolahan yang tepat. Sedangkan jenis tanah organosol mempunyai ciri tanah dengan tingkat kesuburan yang baik, sehingga potensial untuk pengembangan budidaya tanaman pangan (khususnya padi sawah dan holtikultura).
Secara umum, jenis tanah di Banjarbaru terdiri dari tanah podsolik (63,82%), organosol (29,82%) dan lathosol (6,36%). Jenis tanah Podsolik Merah Kuning (Ultisols) tersebar sebagian besar di Kecamatan Cempaka dan Banjarbaru; sedangkan Aluvial (Entisols dan Inceptisols), Gambut (Histosols) dan Spodosols tersebar di Kecamatan Landasan Ulin. Jenis tanah podsolik mempunyai ciri tanah dengan tingkat kesuburan yang rendah dan peka terhadap erosi. Walaupun demikian, di Kota Banjarbaru tetap dapat dikembangkan budidaya pertanian (padi, palawija, sayuran, perkebunan), tetapi disertai dengan teknologi pengolahan yang tepat. Sedangkan jenis tanah organosol mempunyai ciri tanah dengan tingkat kesuburan yang baik, sehingga potensial untuk pengembangan budidaya tanaman pangan (khususnya padi sawah dan holtikultura).
Dilihat dari segi tekstur tanah, wilayah Banjarbaru memiliki 3 (tiga) tekstur tanah, yaitu halus, sedang dan kasar. Sebagian besar wilayah bagian tengah (seluas 88% dari luas keseluruhan) memiliki tekstur tanah cenderung halus dengan kedalaman efektif tanah lebih dari 90 cm, sedangkan tekstur tanah kasar hanya sebagian kecil di bagian selatan (4% dari luas keseluruhan). Kondisi ini mengindikasikan adanya potensi pengembangan tanaman budidaya, karena tanah dengan tekstur halus dengan kedalaman efektif tanah lebih dari 90 cm memiliki kecenderungan baik untuk ditanami dan tahan terhadap erosi.
Hidrologi Kota Banjarbaru
Secara hidrologi, Kota Banjarbaru terdiri dari air permukaan dan air tanah. Kondisi air permukaan di Banjarbaru ditunjang oleh adanya 2 (dua) buah DAS (Daerah Aliran Sungai) sebagai catchment area, yaitu DAS Barito/Riam Kanan dan DAS Taboneo. Daerah Aliran Sungai tersebut merupakan asset kawasan yang berpotensi besar bagi aspek-aspek kehidupan masyarakat, yakni sebagai bahan baku untuk minum, perikanan dan pariwisata. Namun, Di sepanjang hamparan aliran DAS/Sub-DAS telah mengalami degradasi lahan (kategori lahan kritis) disebabkan kegiatan penduduk yang tidak sesuai peruntukan. Sedangkan air tanah di Kota Banjarbaru dapat ditemukan dengan kulitas yang cukup baik.
Kota Banjarbaru dilintaSi beberapa sungai, antara lain: Sungai Besar/Kemuning, Sungai Guntung Jingah, Sungai Komet/Durian, Sungai Gotong Royong, Sungai Gunung Kupang I, Sungai Ulin, Sungai Karet, Sungai Lurus, Sungai Guntung Paikat, Sungai Guntung Lua, Sungai Puyau, Sungai Loktabat/ Guntung Papuyu, Guntung Paring, Sungai Ambulung, Sungai Gunung Kupang II, Sungai Batu Licin, Sungai Pinang, Sungai Ujung Murung, Sungai Batu Kapas, Sungai Mangguruh, Sungai Paring, Sungai Sambangan, Sungai Ampayo, Sungai Tiung, Sungai Apukah, Sungai Basung, Sungai Lukaas, Sungai Banyu Irang, Sungai Cambai, Sungai Mati, Sungai Dadap, Sungai Bangkal Kecil, Sungai Batu Kapur, Sungai Kuranji, Sungai Rancah, Sungai Salak, Sungai Guntung Payung, Sungai Lukudat, Handil Kerokan/Daya Sakti, Sungai Rimba, Sungai Tagumpar, Sungai Sumba, Sungai Sidomulyo, Sungai Lu’uk, Handil Berkat Karya, Handil Papikul, Handil Hanyar, Sungai Jembatan I, Sungai Jembatan II, Sungai Pembuang Provinsi, Saluran Timbang Rasa, Sungai Karya Bakti, dan Sungai Polantan.
Friday, January 15, 2010
Kota Semarang
Kota Semarang merupakan salah satu wilayah yang secara administratif termasuk dalam bagian dari Wilayah Propinsi Jawa Tengah. Secara sepintas tampak bahwa, wilayah Kota Semarang terletak di bagian utara Propinsi Jawa Tengah, dan Secara fisik administrasi Kota Semarang mempunyai luas wilayah 37.370,39 Ha, dengan batas-batas sebagai berikut:
• Sebelah Utara : Laut Jawa (letak lintang 6o 50’ LS)
• Sebelah Selatan : Kabupaten Semarang (letak lintang 7o 10’ LS)
• Sebelah Barat : Kabupaten Kendal (letak lintang 109o 50’ BT)
• Sebelah Timur : Kabupaten Demak (letak lintang 110o 35’ LS)
• Sebelah Utara : Laut Jawa (letak lintang 6o 50’ LS)
• Sebelah Selatan : Kabupaten Semarang (letak lintang 7o 10’ LS)
• Sebelah Barat : Kabupaten Kendal (letak lintang 109o 50’ BT)
• Sebelah Timur : Kabupaten Demak (letak lintang 110o 35’ LS)
Kota Semarang terdiri dari 16 kecamatan dan 177 kelurahan. Ke-16 kecamatan tersebut antara lain: Kecamatan banyumanik, Kecamatan Candisari, Kecamatan Gajahmungkur, Kecamatan Gayamsari, Kecamatan genuk, Kecamatan Gunungpati, Kecamatan Mijen, Kecamatan Ngaliyan, Kecamatan Pedurungan, Kecamatan Semarang Barat, Kecamatan Semarang Selatan, Kecamatan Semarang Tengah, Kecamatan Semarang Timur, Kecamatan Semarang Utara, Kecamatan Tembalang dan Kecamatan Tugu
Di dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) kota yang menjadi ibukota provinsi Jawa Tengah ini ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN) sementara Kab. Semarang (Ungaran) sebagai Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) dan Kab. Kendal serta Demak sebagai Pusat Kegiatan Lokal. Penetapan ini karena KotaSemarang berpotensi sebagai:
- Pusat yang mempunyai potensi sebagai pintu gerbang ke kawasan-kawasan internasional dan mempunyai potensi untuk mendorong daerah di sekitarnya.
- Pusat jasa pemerintahan untuk nasional atau meliputi beberapa propinsi.
- Pusat jasa-jasa kemasyarakatan yang lain untuk nasional atau meliputi beberapa propinsi.
- Pusat jasa-jasa pelayanan keuangan/ bank, yang melayani secara nasional atau melayani beberapa propinsi.
- Pusat pengolahan/pengumpul barang secara nasional atau meliputi beberapa propinsi.
- Simpul transportasi secara nasional atau untuk beberapa propinsi.
Dalam lingkup regional (Kedungsepur), Kota ini sangat potensial sebagai pusat kolektor dari berbagai produk sumber daya lokal pertanian dari wilayah hinterland (Ungaran, Kendal dan Demak). Kota Semarang memiliki infrastruktur yang cukup baik yang telah mendukung fungsi Metropolitan Semarang sebagai kota industri dan jasa dan perdagangan, serta fungsi-fungsi perkotaan lainnya baik dalam skala pelayanan lokal, regional maupun nasional. Infrastruktur yang telah terbangun ini akan mendukung peran kota dalam konstelasi regional, khususnya dalam mendorong peranan dari penggerak-penggerak utama ekonomi kota yaitu sektor perdagangan, hotel, restoran, sektor jasa-jasa dan sektor industri pengolahan.
Kondisi Topografi Kota Semarang
Kota Semarang mempunyai ketinggian sekitar 0.75-348 meter diatas permukan laut. Ketinggian 0.75-90.5 termasuk dalam kawasan Pusat Kota (Dataran Rendah Semarang Bagian Utara) yang di wakili oleh titik tinggi di Daerah Pantai Pelabuhan Tanjung Mas, Simpang Lima, Candibaru. Sedangkan ketinggian 90.5-348 terletak pada daerah pinggir kota, yang terbesar disepanjang arah mata angin yang diwakili oleh titik tinggi yang berlokasi di Jatingaleh dan Gombel, Semarang Selatan, Tugu, Mijen dan Gunungpati. Kondisi Topografi Kota yang berada di pinggir Laut Jawa ini beraneka ragam yang terdirii dari
a. Dataran pesisir pantai : 1% dari luas wilayah total
b. Dataran rendah : 33% dari luas wilayah total
c. Dataran tinggi : 66% dari luas wilayah total
Kondisi Topografi Kota Semarang
Kota Semarang mempunyai ketinggian sekitar 0.75-348 meter diatas permukan laut. Ketinggian 0.75-90.5 termasuk dalam kawasan Pusat Kota (Dataran Rendah Semarang Bagian Utara) yang di wakili oleh titik tinggi di Daerah Pantai Pelabuhan Tanjung Mas, Simpang Lima, Candibaru. Sedangkan ketinggian 90.5-348 terletak pada daerah pinggir kota, yang terbesar disepanjang arah mata angin yang diwakili oleh titik tinggi yang berlokasi di Jatingaleh dan Gombel, Semarang Selatan, Tugu, Mijen dan Gunungpati. Kondisi Topografi Kota yang berada di pinggir Laut Jawa ini beraneka ragam yang terdirii dari
a. Dataran pesisir pantai : 1% dari luas wilayah total
b. Dataran rendah : 33% dari luas wilayah total
c. Dataran tinggi : 66% dari luas wilayah total
Apabila dilihat dari kelerengannya, kota Semarang dibagi menjadi 4 jenis kelerengan yaitu :
- Lereng I (0-2 %) meliputikecamatan Genuk Pedurungan, Gayamsari, Semarang Timur, Semarang Utara dan Tugu serta sebagian wilayah Kecamatan tembalang Banyumanik dan Mijen.
- Lereng II (2-15 %) meliputi kecamatan Semarang Barat, Semarang Selatan, candisari, Gajahmungkur, Gunungpati dan ngaliyan.
- Lereng III (15-40 %) meliputi wilayah disekitar Kaligarang dan Kali Kreo (kecamatan Gunungpati), sebagian wilayah kecamatan Mijen (daerah Wonoplumbon), sebagian wilayah kecamatan Banyumanik dan kecamatan Candisari.
- Lereng IV (> 40 %) meliputi sebagian wilayah Banyumanik (sebelah tenggara), dan sebagian wilayah kecamatan Gunungpati, terutama disekitar kali Garang dan kali Kripik.
.Kondisi Geologoi Kota Semarang
Kondisi geologi diidentifikasi berdasarkan satuan-satuan litologi sebagai berikut :
Kondisi geologi diidentifikasi berdasarkan satuan-satuan litologi sebagai berikut :
- Bagian utara sebagian besar ditutupi oleh endapan permukaan yang merupakan alluvium hasil pembentukan delta Kaligarang. Terdiri dari lapisan pasir, lempung, kerikil.
- Bagian selatan memiliki lapisan litologi breksi dan lava andesit, termasuk ke dalam endapan vulkanik.
- Daerah perbukitan (Srondol Wetan, Banyumanik, dan sekitarnya terdiri dari lapisan batuan breksi vulkanik dengan sisipan lava batu pasir tufa dan tanah berwarna merah dengan ketebalan 50-200meter.
Pembagian tingkat permeabilitas tanah berdasar jenis litologi ialah sebagai berikut :
- Sebagian wilayah kecamatan Semarang Selatan, Semarang Barat, Gunungpati, dan Mijen dan kondisi tidak permabel (Kedap) dengan nilai antara 0,04-87,5 liter/hari.
- Sebagian wilayah Tugu, Mijen, Semarang Timur dan Genuk mempunyai tingkat permeabilitas rendah dengan nilai antara 4-2.037 liter/m2/hari.
- Sebagian wilayah Genuk, Semarang Tangah, Semarang Utara, Semarang Barat dan Tugu mempunyai tingkat permeabilitas dengan nilai antara 4.037-122.000 liter/m2/hari.
- Wilayah Kecamatan Mijen, Gunungpati dan Semarang Selatan mempunyai permeabilitas tinggi dengan nilai antara 8.149-203.735 liter/m2/hari.
Kondisi Hidrologi Kota Semaranng
Sistem akuifer air tanah dangkal diwilayah Kota Semarang merupakan akuifer bebasa karena muka air tanahnya berhubungan langsung dengan air permukaan. Di dataran aluvial muka air tanah berkisar 0.2-4 meter dari muka laut, semakin kearah timur dan utara semakin dalam melebihi 90 meter. Akuifer delta garang, akuifer endapan alluivial serta perbukitan merupakan akuifer utama pemasok air tanah di Wilayah Semarang. Akuifer produktif tinggi dengan aliran melalui ruang dengan sebaran yang luas justru terdapat pada daerah rendah, yaitu Kecamatan Semarang Utara, Kecamatan Semarang Timur, Kecamatan Semarang Tengah, Kecamatan Gayamsari dan Genuk.
Di daerah ini air tanah di eksploitasikan secara lebih untuk keperluan industri maupun rumah tangga Air tanah langka terdapat di daerah Kecamatan Tembalang, Banyumanik dan Gunungpati. Kondisi kedalaman air tanah di kota Semarang ialah sebagai berikut :
- Kedalaman Muka air tanah (4 meter meliputi kecamatan Gunungpati (100%) mijen dan Semarang Timur.
- Kedalaman muka air tanah (4 meter melipiti kecamatan Semarang Tengah (100%), Semarang Utara dan Semarang Barat.
Di kota Semarang mengalir sungai besar dan beberapa sungai kecil, antara lain sungai banjirkanal, kali bringin dan kali plumbon sungai tersebut merupakan sungai primer.
Subscribe to:
Posts (Atom)



