Sunday, September 13, 2020
Kabupaten Bojonegoro
Kabupaten Bojonegoro merupakan salah satu kabupaten yang berada di wilayah administrasi Provinsi Jawa Timur. Apabila dilihat secara geografis kabupaten ini terletak pada koordinat 111º25' BT - 112º09' BT dan 6º59' LS - 7º37' LS. Secara administrasi terdiri dari 28 kecamatan. Kabupaten yang berjarak ± 110 Km dari ibukota Propinsi Jawa Timur ini memiliki luas 230.706 Ha, yang terbagi dalam 27 kecamatan, terpecah menjadi 419 desa dan 11 kelurahan.
Kecamatan yang ada di Kabupaten Bojonegoro antara lain : Kecamatan Margomulyo, Kecamatan Ngarho, Kecamatan Tambakrejo, Kecamatan Ngambon, Kecamatan Sekar, Kecamatan Bubulan, Kecamatan Gondang, Kecamatan Temayang, Kecamatan Sugihwaras, Kecamatan Kedungadem, Kecamatan Kepohbaru, Kecamatan Baureni, Kecamatan Kanor, Kecamatan Sumberejo, Kecamatan Balem, Kecamatan Sukosewu, Kecamatan Kapas, Kecamatan Bojonegoro, Kecamatan Trucuk, Kecamatan Dander, Kecamatan Ngasem, Kecamatan Kulitidu, Kecamatan Malo, Kecamatan Purwosari, Kecamatan Padangan, Kecamatan Kasiman, Kecamatan Kadewan dan Kecamatan Gayam.
Adapun batas-batas administrasi Kabupaten Bojonegoro adalah sebagai berikut:
Sebelah Utara : Kabupaten Tuban
Sebelah Timur : Kabupaten Lamongan
Sebelah Selatan : Kabupaten Madiun, Nganjuk dan Jombang
Sebelah Barat : Kabupaten Ngawi dan Blora (Jawa Tengah)
Topografi Kabupaten Bojonegoro
Topografi Kabupaten Bojonegoro banyak dipengaruhi oleh sungai Bengawan Solo yang membelah wilayahnya. Di sepanjang daerah aliran sungai Bengawan Solo sebelah utara (Pegunungan Kapur Utara) merupakan daerah dataran rendah, sedangkan di bagian Selatan didominasi oleh dataran tinggi disepanjang kawasan Gunung Pandan, Kramat dan Gajah (Pegunungan Kapur Selatan). Untuk kemiringan tanah, wilayah Kabupaten ini didominasi oleh lahan dengan kemiringan kurang dari 2% yaitu sebesar 55,10%, adapun kemiringan di atas 40% sebesar 1,24% dari luas wilayah keseluruhan.
Jenis Tanah Kabupaten Bojonegoro
Grumosol merupakan jenis tanah yang paling banyak terdapat di wilayah kabupaten ini, yaitu seluas 88.937 Ha yang umumnya berada di bagian selatan. Sedangkan di bagian utara yang merupakan daerah pesisir didominasi oleh tanah alluvial dengan luas 46.349 Ha. Di bagian hutan berupa lapisan mediteranian yang terdiri atas batu cadas seluas 44.549 Ha. Sisanya berupa litosol yang memiliki luas 50.871 Ha.
Klimatologi Kabupaten Bojonegoro
Secara umum, curah hujan di Kabupaten Bojonegoro tidak terlalu tinggi, dimana kecamatan yang mempunyai curah hujan rata-rata paling tinggi yaitu Kecamatan Baureno dan Sukosewu Penyinaran tertinggi terjadi pada bulan Agustus atau September, sedangkan penyinaran terendah terjadi pada bulan Desember - Februari. Dari 15 kecamatan, hujan paling sering terjadi di Kecamatan Sukosewu yaitu sebanyak 127 hari, hujan paling sedikit muncul di Kecamatan Ngraho yaitu hanya 48 hari.
Pola Penggunaan Lahan Kabupaten Bojonegoro
Hutan yang terdiri dari hutan lindung, hutan produksi dan hutan rakyat merupakan penggunaan lahan terluas di Kabupaten ini pada tahun 2010. Dilanjutkan dengan lahan pertanian berupa sawah dan tegalan/ ladang, permukiman serta perkebunan.
Wednesday, September 5, 2018
Kabupaten Penajam Paser Utara merupakan daerah pemekaran dari Kabupaten Paser, sesuai dengan diterbitkannya UU No.7 Tahun 2002 tanggal 10 April 2002 tentang “Pembentukan Kabupaten Penajam Paser Utara” dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :
Sebelah Utara : Kecamatan Loa Kulu dan Kecamatan Loa Janan Kabupaten Kutai Kertanegara
Sebelah Timur : Kecamatan Semboja Kabupaten Kutai Kertanegara, Kota Balikpapan dan Perairan
Sebelah Selatan : Kecamatan Long Kali Kabupaten Pasir dan Perairan Selat Makassar
Sebelah Barat : Kecamatan Bongan Long Kali kabupaten Kutai Barat dan Kecamatan Long
Sejarah Kabupaten Penajam Paser UtaraWilayah Penajam Paser Utara, dulunya merupakan kawasan yang dihuni oleh Suku Paser Tunan dan Suku Paser Balik, dimana kedua suku tersebut berasal dari Suku Paser yang saat ini tinggal di Kabupaten Paser. Pada awalnya, kelompok suku-suku tersebut hidup berpencar-pencar yang selanjutnya mendirikan kerajaan-kerajaan kecil yang kemudian disebut Kerajaan Adat. Seiring berjalannya waktu, kerajaan kerajaan adat tersebut selanjutnya bergabung dengan kerajaan yang lebih besar yaitu Kerajaan Paser dan Kerajaan Kutai Kartanegara.
Luas Wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara
Luas wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara adalah 3.333,06 Km2, terdiri dari 3.060,82 Km2 luas darat dan 272,24 Km2 luas lautan. Secara administratif, kabupaten ini terdiri dari 4 kecamatan, yaitu Kecamatan Penajam, Kecamatan Waru, Kecamatan Babulu dan Kecamatan Sepaku. Jarak ibukota kecamatan yang terjauh dari ibukota Kabupaten adalah ibu kota Kecamatan Sepaku yang berjarak 87 Km, menyusul ibukota Kecamatan Babulu dan Waru masing-masing 50 Km dan 30 Km, sedangkan yang terdekat adalah ibukota Kecamatan Penajam 0.5 Km.
Topografi Kabupaten Penajam Paser Utara
Secara umum wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara berada pada ketinggian 0 – 500 m diatas permukaan laut yang meliputi wilayah dataran rendah dan dataran tinggi, dengan bentuk relief wilayah berupa datar hingga terjal. Wilayah datar dengan kemiringan lereng 0 - 3% terdapat di wilayah sepanjang pantai dengan luas 25.996 hektar atau 8% dari total luas wilayah, yang meliputi desa-desa yang ada di pesisir Kecamatan Babulu, Waru, Penajam dan Sepaku. Pada bagian barat dan utara memiliki kontur bergelombang, berbukit dan bergunung. Wilayah ini mengelompok membentuk daerah pegunungan diantaranya Gunung Beratus, Gunung Kumut, Gunung Patinjan, Gunung Ketamu, Gunung Buang dan Gunung Bawang. Wilayah tersebut dapat dikatakan sebagai daerah pedalaman karena terbatasnya aksesibilitas wilayah. Wilayah bagian timur – selatan memiliki bentuk wilayah datar sampai landai. Wilayah ini membentang sepanjang pantai dari arah selatan ke utara. Dataran rendah sepanjang pantai umumnya merupakan hutan mangrove yang ditumbuhi bakau, api-api dan nipah. Semua kecamatan di Kabupaten Penajam Paser Utara memiliki pesisir.
Monday, January 29, 2018
Sebelah Utara : Kabupaten Kendal dan Kabupaten Semarang,
Sebelah Timur : Kabupaten Semarang dan Kabupaten Magelang,
Sebelah Selatan : Kabupaten Magelang
Sebelah Barat : Kabupaten Wonosobo.
Kabupaten yang dikenal dengan Kota Tembakau ini terdiri dari 20 Kecamatan dan 266 Desa serta 23 Kelurahan. Adapun kecamatan-kecamatan tersebut antara lain: Kecamatan Parakan, Kecamatan Kledung, Kecamatan Bansari, Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, Kecamatan Tlogomulyo, Kecamatan Tembarak, Kecamatan Selopampang, Kecamatan Kranggan, Kecamatan Pringsurat, Kecamatan Kaloran, Kecamatan Kandangan, Kecamatan Kedu, Kecamatan Ngadirejo, Kecamatan Jumo, Kecamatan Gemawang, Kecamatan Candiroto, Kecamatan Bejen, Kecamatan Tretep dan Kecamatan Wonoboyo. Dengan kondisi wilayah yang mempunyai hawa sejuk, sangat cocok untuk usaha pertanian sehingga mayoritas penduduknya (61.3%) memiliki mata pencaharian sebagai petani dan sekotor lain yang masih ada kaitannya dengan dunia tanam menanam. Kabupaten Temanggung terutama terkenal sebagai penghasil tembakau dengan area penanaman tersebar hampir di semua Kecamatan, namun yang menjadi salah satu sentra dari tembakau adalah Kecamatan : Bulu, Kledung, Ngadirejo dan Kedu.
Topografi Kabupaten Temanggung
Topografi yang berupa dataran tinggi berbukit-bukit dan dataran landai mirip cekungan raksasa yang terbuka di bagian tenggara, terletak di ketinggian 500 – 1450 m diatas permukaan air laut. Apabila dilihat dari bentang alamnya, wilayah kabupaten temanggung terdiri dari daerah dataran yang terletak pada bagian tengah dan daerah perbukitan yang terletak di bagian hampir di setiap penjuru. Kondisi bentang alam relatif membujur dari utara ke sebelah selatan.
Klimatologi Kabupaten Temanggung
Kabupaten yang berada di simpul tranportasi utama Jawa Tengah bagian tengah ini memiliki 2 musim, yaitu: musim kemarau antara bulan April sampai dengan Sepetember dan musim penghujan antara bulan Oktober sampai dengan bulan Maret dengan curah hujan berkisar antara 1000 – 3100 mm per tahun. Curah hujan pada dataran rendah lebih kecil dibandingkan pada dataran tinggi. Kepadatan tanah 50% dataran tinggi dan 50% dataran rendah. Daerah Kabupaten Temanggung pada umumnya berhawa dingin dimana udara pegunungan berkisar antara 20°C-30°C. Daerah berhawa sejuk terutama di daerah Kecamatan Tretep, Kecamatan Bulu (lereng Gunung Sumbing), Kecamatan Tembarak, Kecamatan Ngadirejo, dan Kecamatan Candiroto.
Jenis tanah di Kabupaten Temanggung :
Jenis tanah latosol coklat meliputi lahan seluas 26.563,47 Ha (32,13%) membentang di tengah-tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah Barat Laut ke Tenggara.
Tanah Latosol Coklat Kemerahan
Jenis tanah latosol coklat kemerahan meliputi lahan seluas 7.879,93 Ha (9,53%) membentang sebagian besar di bagian Timur – Tenggara.
Tanah Latosol Merah Kekuningan
Jenis tanah latosol merah kekuningan meliputi lahan seluas 29.209,08 Ha (35,33%) membentang di bagian Timur dan Barat.
Jenis tanah regosol meliputi lahan seluas 16.873,97 Ha(20,14%) membentang sebagian di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal.
Tanah Andosol
Jenis tanah andosol meliputi lahan seluas 2.149,55 Ha (2,60%) membentang di aluvial antar bukit.
Jenis Batuan Kabupaten Temanggung
Jenis batuan yang ada di kabupaten ini antara lain: Batuan Andesit, Batu gamping, Batu kali, Batu tras, Bentonit, Diatomae, Kerikil, dan Pasir
Saturday, September 16, 2017
Kabupaten Wonosobo merupakan salah satu dari 35 (tiga puluh lima) kabupaten/ kota di Provinsi Jawa Tengah dengan luas wilayah 98,468 ha. Secara geografis Kabupaten Wonosobo terletak antara 7˚11’ dan 7˚36’ Lintang Selatan, 109˚43’ dan 110˚04’ Bujur Timur. Jarak ibukota Kabupaten Wonosobo ke ibukota Provinsi Jawa Tengah berjarak 120 Km dan 520 Km dari ibu kota negara. Kabupaten wonosobo merupakan daerah pegunungan dengan ketinggian berkisar antara 275 m sampai dengan 2.250 meter di atas permukaan laut.
Dalam lingkup wilayah provinsi, kabupaten yang terletak di dataran tinggi ini berada di bagian tengah yang berbatasan dengan kabupaten lainnya. Secara administrasi, Kabupaten Wonosobo berbatasan dengan :
Sebelah Utara : Kabupaten Kendal dan Kabupaten Batang
Sebelah Timur : Kabupaten Temanggung dan Kab. Magelang
Sebelah Selatan : Kab. Kebumen dan Kab. Purworejo
Sebelah Barat : Kab. Banjarnegara dan Kab Kebumen
Secara administratif kabupaten ini dibagi menjadi 15 Kecamatan. 236 desa dan 29 kelurahan. Jarak kecamatan ke ibukota kabupaten terjauh adalah Kecamatan Wadaslintang dengan jarak 37 km, dan jarak terdekat adalah Kecamatan Wonosobo karena terletak di ibukota kabupaten, disusul Kecamatan Mojotengah yang berjarak 4 km. Lokasi tertinggi berada di Kecamatan Kejajar yaitu 1.378 m dpl sedangkan yang terendah berada di Kecamatan Wadaslintang 275 m dpl.
Topografi Kabupaten Wonosobo
Apabila dilihat dari segi topografi, wilayah Kabupaten Wonosobo memiliki ciri yang berbukit dan bergunung, terletak pada ketinggian antara 200 sampai 2.250 m di atas permukaan laut. Kelerengan merupakan suatu kemiringan tanah dimana sudut kemiringan dibentuk oleh permukaan tanah dengan bidang horizontal dan dinyatakan dalam persen. Kabupaten Wonosobo dibagi menjadi 6 wilayah kemiringan, yaitu:
- Wilayah dengan kemiringan antara 0,00-2,00 % seluas 1052,263 ha atau 1,04 % dari seluruh luas wilayah, banyak dijumpai di Kecamatan Selomerto dan Kecamatan Kertek;
- Wilayah dengan kemiringan antara 2,00-5,00 % seluas 22.969,5 ha atau 22,89 % dari luas seluruh wilayah, banyak terdapat di 13 Kecamatan selain Kecamatan Watumalang dan Kecamatan Kalibawang;
- Wilayah dengan kemiringan antara 5,00-8,00 % seluas 8.143,769 ha atau 8,11 % dari luas wilayah total, tersebar merata di 14 Kecamatan selain Kecamatan Watumalang;
- Wilayah dengan kemiringan antara 8,00-15,00 % seluas 55.434,85 ha atau 55,2 % dari seluruh luas wilayah tersebar secara merata di semua kecamatan;
- Wilayah dengan kemiringan antara 15,00-25,00 % seluas 11.101,6 ha atau 11,06 % dari seluruh luas wilayah terdapat di semua kecamatan kecuali Kecamatan Wonosobo.
- Wilayah dengan kemiringan antara 25,00-40,00 % seluas 1.479,631 ha atau 1,47 % dari luas wilayah total, terdapat di Kecamatan Kejajar, Garung dan Kalikajar; dan
- Wilayah dengan kemiringan lebih dari 40,00 % seluas 142,362 ha atau 0,14 % dari luas wilayah total, terdapat di Kecamatan Kejajar.
Fisiografi Kabupaten Wonosobo
Secara fisiografi, Wonosobo terletak pada ujung timur Depresi Serayu yang terbentuk oleh proses orogenesa dan epirogenesa, kemudian diikuti oleh kegiatan vulkanisme dan denudasional yang cepat. Di sebelah timur Depresi Serayu dibatasi oleh Gunung Sumbing dan Sindoro yang terbentuk pada jaman Kuarter (±1,8 juta tahun yang lain), rangkaian gunung api tersebut terus berlanjut dan bersambung dengan kompleks gunung api Dieng dan Rogojembangan.
Di Kawasan Dieng banyak dijumpai depresi yang terbentuk oleh pusat erupsi vulkanik pada jaman Pleistocene yang kemudian terisi oleh endapan dan sisa tumbuhan. Di samping itu terdapat hulu sungai serayu dengan anak sungai yang berada di bagian selatan, yakni di ujung timur Pegunungan Serayu Selatan yanair minumg dibatasi oleh Zone Patahan. Banyaknya gunung di Wonosobo juga menjadi sumber mata air yang mengalir ke sungai Serayu, Bogowonto, Kali Galuh, Kali Semagung, Kali Sanggrahan dan Luk Ulo.
Kondisi Geologi Kabupaten Wonosobo
Berdasarkan pembagian zona fisiografi Pulau Jawa oleh Van Bemmelen (1949), Wilayah Kabupaten Wonosobo termasuk dalam jalur fisiografi Pegunungan Serayu Selatan Bagian Utara dan menempati bagian tengah zona fisiografi tersebut. Zona ini didominasi oleh endapan gunungapi kuarter. Endapan gunungapi kuarter masih dapat diamati kenampakan kerucut vulkaniknya seperti Gunung Sundoro dan Gunung Sumbing, sedangkan dibagian lain gunung api Dieng yang berumur lebih tua meninggalkan sisa erupsi yang membentuk plateau (dataran tinggi).
Geomorfologi Kabupaten Wonosobo
Secara geomorfologi, bentang lahan didominasi oleh bentanglahan bentukan dari proses vulkanik. Bentanglahan lainnya berasal dari bentukan denudasional, bentanglahan struktural, bentanglahan fluvial (aliran sungai). Bentukan bentang lahan proses vulkanik yang ada yaitu kubah lava, kerucut gunung api, lereng gunung api, kaki gunung api, perbukitan intrusif batuan gunung api, pegunungan medan lava, perbukitan medan lava, kaldera, danau kaldera, lembah antar gunungapi material piroklastik
Klimatologi Kabupaten Wonosobo
Wonosobo beriklim tropis dengan dua musim dalam setahun yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Rata rata suhu udara di Wonosobo antara 14,3 – 26,5 derajat Celcius dengan curah hujan rata-rata per tahun berkisar antara 1713 - 4255 mm/tahun. Dengan kondisi tersebut Kabupaten Wonosobo sangat baik untuk pertanian sehingga sektor pertanian merupakan sektor dominan dalam perekonomian.
Monday, February 13, 2017
Adapun batas wilayah Kabupaten Banyumas antara lain:
Sebelah Utara : Kabupaten Tegal dan Kabupaten Pemalang
Sebelah Selatan : Kabupaten Cilacap
Sebelah Barat : Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Brebes
Sebelah Timur : Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Kebumen
Luas wilayah Kabupaten Banyumas 132.759,56 Ha dengan jarak bentang terjauh dari Barat ke Timur 96 Km, dan dari Utara ke Selatan sejauh 46 Km. Secara administratif wilayah Kabupaten Banyumas meliputi 27 Kecamatan dengan 301 desa dan 30 kelurahan. Adapun kecamatan-kecamatan tersebut antara lain Kecamatan Lumbir, Wangon, Jatilawang, Rawalo, Kebasen, Kemranjen, Sumpiuh, Tambak, Somagede, Kalibagor, Banyumas, Patikraja, Purwojati, Ajibarang, Gumelar, Pekuncen, Cilongok, Karang lewas, Kedungbanteng, Baturaden, Sumbang, Kembaran, Sokaraja, Purwokerto selatan, Purwokerto barat, Purwokerto timur dan Purwokerto utara
Topografi Kabupaten Banyumas
Kondisi topografi Kabupaten ini antara lain:
- Dataran rendah dengan ketinggian 0 – 25 meter di atas permukaan laut (dpl) memiliki luas 26.724,4 ha atau 20,13% dari luas wilayah Kabupaten Banyumas. Wilayah yang berada pada ketinggian ini meliputi Kecamatan Jatilawang, Kecamatan Kebasen, Kecamatan Rawalo, Kecamatan Tambak, sebagian Kecamatan Kalibagor, sebagian Kecamatan Karanglewas, sebagian kecamatan Kemranjen, sebagian Kecamatan Sokaraja, dan sebagian Kecamatan Sumpiuh.
- Dataran perbukitan dengan ketinggian >25 - 100 meter dpl memiliki luas 42.310,30 ha atau 31,87% dari luas wilayah Kabupaten Banyumas. Wilayah yang berada pada ketinggian ini meliputi Kecamatan Kembaran, Kecamatan Lumbir, Kecamatan Patikraja, Kecamatan Purwojati, Kota Purwokerto, Kecamatan Wangon, sebagian Kecamatan Kalibagor, sebagian Kecamatan Kedungbanteng, sebagian Kecamatan Karanglewas, sebagian Kecamatan Somagede, sebagian Kecamatan Sumbang, dan sebagian Kecamatan Sokaraja.
- Dataran tinggi dengan ketinggian >100 – 500 meter dpl memiliki luas 40.385,3 ha atau 30,42% dari luas wilayah Kabupaten Banyumas. Wilayah yang berada pada ketinggian ini meliputi Kecamatan Ajibarang, Banyumas, sebagian Kecamatan Baturraden, sebagian Kecamatan Cilongok, sebagian Kecamatan Pekuncen, dan sebagian Kecamatan Somagede.
- Dataran dengan ketinggian >500 – 1000 meter dpl memiliki luas 17.364,9 ha atau 13,08% dari luas wilayah Kabupaten Banyumas. Wilayah yang berada pada ketinggian ini meliputi sebagian Kecamatan Gumelar, sebagian Kecamatan Kedungbanteng, sebagian Kecamatan Pekuncen, sebagian Kecamatan Cilongok, sebagian Kecamatan Baturraden dan sebagian Kecamatan Sumbang.
- Dataran dengan ketinggian >1000 meter dpl memiliki luas 5.974,1 ha atau 4,50% dari luas wilayah Kabupaten Banyumas. Wilayah yang berada pada ketinggian ini meliputi sebagian Kecamatan Baturraden, sebagian Kecamatan Cilongok, sebagian Kecamatan Pekuncen dan sebagian Kecamatan Sumbang.
Kemiringan Lahan Kabupaten Banyumas
Berdasarkan kemiringan tanahnya wilayah Kabupaten ini terbagi dalam beberapa kelas kemiringan lahan, antara lain:
- Kemiringan 0 – 2% meliputi areal seluas 42.629,09 ha atau 32,11 % dari luas wilayah Kabupaten Banyumas. Wilayah dengan kemiringan ini meliputi Kota Purwokerto, Kecamatan Sokaraja, Kecamatan Kembaran, bagian selatan Kabupaten Banyumas antara lain Kecamatan Tambak, Kecamatan Sumpiuh, Kecamatan Kemranjen, Kecamatan Kebasen, Kecamatan Rawalo, Kecamatan Kalibagor bagian timur, sebagian Kecamatan Patikraja, dan disekitar Sungai Serayu.
- Kemiringan >2 – 8% meliputi areal seluas 19.940,49 ha atau 15,02 % dari luas wilayah Kabupaten Banyumas. Wilayah dengan kemiringan ini adalah sebagian Kecamatan Pekuncen, Kecamatan Cilongok, Kecamatan Karanglewas, Kecamatan Sumbang, Kecamatan Wangon sebelah selatan.
- Kemiringan >8 – 15% meliputi areal seluas 13.979,58 ha atau 10,53 % dari luas wilayah Kabupaten Banyumas. Wilayah ini meliputi sebagian Kecamatan Ajibarang, Kecamatan Pekuncen, Kecamatan Cilongok dan Kecamatan Kalibagor.
- Kemiringan >15 – 25% meliputi areal seluas 16.820,64 ha atau 12,67 % dari luas wilayah Kabupaten Banyumas. Wilayah ini meliputi Kecamatan Gumelar, Kecamatan Lumbir, Kecamatan Wangon bagian utara, Kecamatan Pekuncen bagian barat, Kecamatan Sumbang bagian timur.
- Kemiringan >25 - 40% meliputi areal seluas 13.740,61 ha atau 10,35 % dari luas wilayah Kabupaten Banyumas. Wilayah ini meliputi sebagian Kecamatan Rawalo, Kecamatan Kemranjen, Kecamatan Gumelar, Kecamatan Wangon, Kecamatan Kedungbanteng dan Kecamatan Baturraden.
- Kemiringan >40% meliputi areal seluas 25.649,15 ha atau 19,32% dari luas wilayah Kabupaten Banyumas. Wilayah ini meliputi Lereng Gunung Merak, sebagian Kecamatan Sumpiuh, Kecamatan Tambak, Kecamatan Somagede.
Geologi Kabupaten Banyumas
Secara stratigrafi, Kondisi geologi Kabupaten Banyumas dapat diuraikan sebagai berikut:
- Endapan Aluvial/Aluvium merupakan formasi endapan aluvial atau aluvium menempati porsi yang cukup besar di wilayah selatan Kabupaten Banyumas dengan wilayah penyebarannya meliputi di Kecamatan Kemranjen, Kecamatan Sumpiuh, Kecamatan Tambak, Kecamatan Rawalo, Kecamatan Jatilawang dan Kecamatan Wangon dengan luasnya sebesar 31.744 hektar.
- Endapan Gunung Api merupakan formasi endapan gunung api dapat dipisahkan menjadi tiga kelompok satuan batuan yaitu: Endapan Lahar Gunung Api, terdiri dari bahan-bahan tak mengeras mengandung bongkahbongkah batuan gunung api bergaris tengah 10 – 15 cm bersusun andesit sampai basalt meliputi daerah landai dan datar yang tersebar dari Ajibarang ke arah timur Pasirkidul sampai Sumbang 31.376 hektar. Endapan Lava Gunung Slamet, merupakan aliran lava andesit berongga rongga yang berasal dari Gunung Slamet terutama di lereng timur yang tersebar dari Baturraden ke arah utara hingga Gunung Slamet 4.960 hektar . Batuan gunung api tak terurai, terdiri dari breksi, lava, lapili dan tufa dari gunung api dan pusat-pusat erupsi di sebelah barat membentuk dataran dan bukit-bukit tinggi yang tertutup oleh tanah berwarna abu-abu tua sampai coklat dan kuning kemerahan yang tersebar secara luas dari Pekuncen sampai Baturraden ke arah Utara sampai perbatasan dengan Kabupaten Brebes 17.584 hektar.
- Formasi Tapak terdiri dari batupasir berbutir kasar berwarna kehijauan dan konglomerat di beberapa tempat terdapat breksi. Di bagian atas terdiri dari batupasir gampingan dan napal berwarna hijau yang mengandung pecahan moluska dan berumur Pliosen Tengah sampai Pliosen Atas. Formasi ini terletak di pegunungan sebelah selatan Kalibagor dan Gebangsari seluas 17.584 hektar .
- Formasi Kumbang terdiri dari breksi, lava andesit, tufa dan di beberapa tempat terdapat breksi batuapung dan tufa pasiran. Formasi ini berumur Miosen Tengah sampai Pliosen Tengah dan menempati bukit-bukit antikilin di sebelah selatan Kota Banyumas seluas 96 hektar.
- Formasi Halang merupakan penyebaran formasi halang menempati areal yang sangat luas memanjang pegunungan lipatan, mulai dari daerah Lumbir hingga Banyumas. Perselingan batupasir, batulempung, napal dan tufa, dengan sisipan breksi dipengaruhi oleh turbid fan pelengseran bawah laut. Formasi batuan mempunyai kisaran umur Miosen Tengah hingga Pliosen Atas seluas 40.343,56 hektar.
- Anggota Batugamping Formasi Halang merupakan anggota batugamping formasi halang menempati porsi yang relatif kecil dan penyebarannya di wilayah Kecamatan Banyumas dan Kecamatan Kebasen seluas 144 hektar.
- Anggota Breksi Formasi Halang merupakan anggota breksi formasi halang terdiri dari breksi gunung api dengan komponen basal dan sebagian andesit yang bersisipan dengan batupasir seluas 10.080 hektar .
- Formasi Rambatan merupakan formasi yang terdiri dari batupasir gampingan bersisipan napal, batu lempung dan breksi, umumnya berstruktur turbidit. Penyebaran formasi ini di Kabupaten Banyumas tidak begitu luas, yaitu di sebelah selatan Kabupaten Banyumas dan mempunyai kisaran umur Miosen Bawah-Tengah seluas 2.016 hektar.
Hidrologi Kabupaten Banyumas
Air permukaan yang ada di wilayah Kabupaten ini berasal dari sungai dan mata air. Sungai-sungai yang ada mempunyai debit (Q) sebesar 45.456.342 m3 /hari atau 16.591.564.830 m3 /tahun yang berasal dari sungai besar, seperti Sungai Serayu, Tajum, Kranji, Pelus, Banjaran, Logawa serta sungai-sungai kecil lainnya. Sedangkan Mata air yang di wilayah Kabupaten Banyumas adalah sebagai berikut:
1. Mata air Kawungcarang, Gandatapa dan Kepetek di Kecamatan Sumbang
2. Mata air Kedungpete, Kaliraga dan Baturraden di Kecamatan Baturraden
3. Mata air Pugak di Kecamatan Banyumas
4. Mata air Sikampret dan Sirah di Kecamatan Karanglewas
5. Mata air Cideng, Rancah dan Legok di Kecamatan Pekuncen
6. Mata air Pancasan di Kecamatan Ajibarang
7. Mata air Karangtengah di Kecamatan Cilongok
Kabupaten Banyumas termasuk dalam Daerah Aliran Sungai (DAS) Serayu dan DAS Ijo dan DAS Bengawan. Ketiga DAS ini mencakup beberapa sungai dan anak sungai yang ada di wilayah Kabupaten Banyumas. Daerah Aliran Sungai (DAS) Serayu terbagi dalam beberapa sub DAS dan sub-sub DAS, yaitu sub DAS Tajum, sub DAS Logawa dan sub DAS Serayu Ilir. Dari tiap-tiap sub DAS terbagi lagi menjadi sub-sub DAS, yaitu :
- Sub DAS Tajum terbagi dalam sub-sub DAS Tajum Hulu, sub-sub DAS Trenggulun, sub-sub DAS Datar, sub-sub DAS Tajum Hilir, sub-sub DAS Lopasir dan sub-sub DAS Cihaur
- Sub DAS Logawa terbagi dalam sub-sub DAS Banjaran, sub-sub DAS Pelus dan sub-sub DAS Mengaji
- Sub DAS Serayu Hilir terbagi dalam sub-sub DAS Gawe
Jenis Tanah Kabupaten Banyumas
Berdasarkan hasil penelitian Lembaga Penelitian Tanah (LPT) Bogor tahun 1983 dapat diketahui jenis tanah di Kabupaten ini terdapat 7 jenis tanah, yaitu Aluvial, Glei Humus Rendah, Regosol, Litosol, Andosol, Latosol dan Podsolik.
Iklim Kabupaten Banyumas
Kondisi klimatologi wilayah Banyumas mempunyai iklim tropis basah seperti umumnya wilayah-wilayah di Indonesia. Rata-rata suhu udara bulanan 26,3ºC, dengan suhu minimum tercatat 24,4ºC dan suhu maksimum 30,9ºC. Sedangkan curah hujan di wilayah Kabupaten Banyumas pada tahun 2000 rata-rata sebesar 2.750 mm/tahun. Angka ini menunjukkan bahwa di wilayah Kabupaten Banyumas memiliki curah hujan yang cukup tinggi. Tingginya curah hujan ini didukung oleh kondisi geografi wilayah Kabupaten Banyumas yaitu terletak di lereng Gunung Slamet.
Saturday, September 17, 2016
• Sebelah utara : wilayah Kabupaten Jepara dan Laut Jawa
• Sebelah barat : wilayah Kabupaten Kudus dan Kabupaten Jepara
• Sebelah selatan : wilayah Kabupaten Grobogan dan Kabupaten. Blora
• Sebelah timur : wilayah Kabupaten Rembang dan Laut Jawa
Kabupaten Pati terdiri dari 21 kecamatan, 401 desa dan 5 kelurahan. Ke 21 kecamatan tersebut antara lain: Kecamatan Sukolilo, Kecamatan Kayen, Kecamatan Tambakromo, Kecamatan Winong, Kecamatan Pucakwangi, Kecamatan Jaken, Kecamatan Batangan, Kecamatan Juwana, Kecamatan Jakenan, Kecamatan Pati, Kecamatan Gabus, Kecamatan Margorejo, Kecamatan Gembong, Kecamatan Tlogowungu, Kecamatan Wedarijaksa, Kecamatan Trangkil, Kecamatan Margoyoso, Kecamatan Gunungwungkal, Kecamatan Cluwak, Kecamatan Tayu dan Kecamatan DukuhsetiWilayah Kabupaten Pati terletak pada ketinggian antara 0 - 1.000 m di atas permukaan air laut rata-rata dan terbagi atas 3 relief daratan, yaitu :
- Lereng Gunung Muria, yang membentang sebelah barat bagian utara Laut Jawa dan meliputi Wilayah Kecamatan Gembong, Kecamatan Tlogowungu, Kecamatan Gunungwungkal, dan Kecamatan Cluwak.
- Dataran rendah membujur di tengah sampai utara Laut Jawa, meliputi sebagian Kecamatan
- Dukuhseti, Tayu, Margoyoso, Wedarijaksa, Juwana, Winong, Gabus, Kayen bagian Utara, Sukolilo bagian Utara, dan Tambakromo bagian utara.
- Pegunungan Kapur yang membujur di sebelah selatan meliputi sebagian kecil wilayah
- Sukolilo, Kayen, Tambakromo, Winong, dan Pucakwangi.
Jenis tanah terbagi menjadi dua bagian yaitu daerah bagian utara dan daerah bagian selatan. Jenis tanah di daerah bagian utara meliputi tanah red yellow, latosol, aluvial, hidromer, dan regosol. Sedangkan di bagian selatan terdiri dari tanah aluvial, hidromer, dan gromosol.
Hidrogeologi Kabupaten Pati
Secara hidrogeologi kabupaten ini dikelompokkan ke dalam beberapa akuifer sebagai berikut:
a. Akuifer dengan aliran melalui ruang antar butir
Kondisi akuifer produktif dengan penyebaran luas, berlapis banyak dengan keterusan sedang, muka air tanah beragam umumnya dekat dengan permukaan tanah dengan debit sumur antara 5 - 10 Liter/ detik. Penyebarannya meliputi kawasan dataran rendah yang meliputi Kecamatan Pati, Gabus, Juwana, Batangan, sebagian Kecamatan Margorejo dan Wedarijaksa.
Kondisi akuifer produktif sedang dengan penyebaran luas, mempunyai keterusan sangat beragam, kedalaman muka air tanah umumnya dalam, dan debit sumur umumnya kurang dari 5 liter/ detik, muncul terutama pada daerah lekuk lereng.
Penyebarannya meliputi kawasan kaki gunung muria yaitu Kecamatan Gembong, Tlogowungu, Gunungwungkal dan Cluwak. Selain itu beberapa wilayah yaitu Kecamatan Wedarijaksa, Trangkil, Margorejo, Margoyoso, Tayu dan Dukuhseti.
Aliran air tanah melalui zona celahan, rakahan dan saluran pelarutan, debit sumur beragam, pada tempat yang serasi mencapai lebih dari 10 l/dt, mata air karst banyak dijumpai, beberapa diantaranya berdebit lebih dari 500 l/dt. Selain itu.
Penyebarannya yaitu di sekitar kawasan Karst yaitu Kawasan pegunungan kendeng/batu kapur yang meliputi wilayah Kecamatan Sukolilo, Kayen, Tambakromo, Winong dan Pucakwangi.
Akuifer batu gamping karst dengan keterusan sangat tinggi ditutupi oleh endapan lempungan yang secara nisbi keterusannya rendah dan bertindak sebagai lapisan perlambat. Debit sumur yang menyadap akuifer tersebut dapat mencapai lebih dari 25 l/dt. Penyebarannya meliputi wilayah di kawasan pegunungan kendeng/kawasan karst dan sekitarnya yang meliputi Kecamatan Sukolilo, Kayen, Tambakromo, Winong, Pucakwangi, Jaken dan Batangan.
Kabupaten Pati memiliki sungai-sungai yang cukup besar jumlahnya. Di Kabupaten Pati terdapat 93 buah sungai/kali yang tersebar merata di seluruh wilayah. Pada umumnya sungai-sungai di kabupaten ini berpola kipas atau pohon, dengan muara sungai pada umumnya ke Laut Jawa. Sungai di Kabupaten Pati pada umumnya berfungsi dalam pengairan atau irigasi. Sayangnya, pada musim kemarau, kebanyakan dari sungai-sungai yang ada mengalami kekeringan sedangkan pada musim penghujan, beberapa sungai justru meluap.
Ada beberapa sungai yang memiliki sumber mata air, akan tetapi banyak juga yang tidak, yaitu bersumber dari aliran drainase kota saja. Mata air di Kabupaten Pati pada umumnya bersumber dari mata air Gunung Muria, khususnya sungai-sungai yang terdapat pada wilayah Utara Kabupaten Pati.
Thursday, February 4, 2016
• Di sebelah utara : Kabupaten Jepara, Kabupaten Pati
• Di sebelah selatan : Kabupaten Grobogan, Kabupaten Pati
• Di sebelah timur : Kabupaten Pati
• Di sebelah barat : Kabupaten Demak , Kabupaten Jepara
Letak Geografis Kabupaten Kudus
Kabupaten Kudus terletak di antara 100 o 36’ dan 110 o 50’ Bujur Timur dan antara 6o51’ dan 7o16’ Lintang Selatan. Jarak terjauh dari Barat ke Timur adalah 16 km dan dari Utara ke Selatan adalah 23 km. Jarak ke ibukota Provinsi Jateng (Semarang) lebih kurang 51 km, sedangkan jarak ke Ibukota Negara (Jakarta) lebih kurang 536 km.
Topografi Kabupaten Kudus
Dilihat dari topografinya, Kabupaten Kudus memiliki ketinggian yang beragam dengan titik terendah 5 meter diatas permukaan laut berada di Kecamatan Undaan dan ketinggian tertinggi 1.600 meter di atas permukaan air laut berada di Kecamaan Dawe.
Kondisi kelerengan kabupaten yang terkenal sebagai sentra rokok terbesar di Indonesia ini juga bermacam-macam antara lain:
- Kelerengan 0-8% menempati di daerah antara lain di Kecamatan Undaan (Desa Undaan Kidul, Desa Undaan Lor, Desa Undaan Tengah), Kecamatan Kaliwungu (Desa Blimbing Kidul, Desa Sidorekso, Desa Kaliwungu), Kecamatan Gebog, Kecamatan Dawe (Desa Margorejo, Desa Samirejo, Desa Karangrejo, Desa Cendono, Kecamatan Jekulo (Desa Jekulo.
- Kelerengan 8-15 % berada di sebagian Kecamatan Jekulo, Kecamatan Dawe sebelah selatan, Kecamatan Gebog (Desa Gribig) dan Kecamatan Mejobo (Desa Jepang).
- Kelerengan 15-20% berada di kawasan Kecamatan Dawe (Desa Kajar) dan Gunung Patiayam di bagian timur. Kelerengan 25-45% e=menempati di Daerah Gunung
- Patiayam bagian utara, Kecamatan Gebog (Desa Padurenan).
- Kelerengan > 45% menepati Kecamatan Dawe (Desa Ternadi), Kecamatan Gebog (Desa Rahtawu, Desa Menawan) di daerah Puncak Muria bagian selatan.
Jenis Tanah Kabupaten Kudus
Kabupaten Kudus memiliki jenis tanah yang beraneka ragam. Di bagian utara yang merupakan kawasan pegunungan didominasi oleh jenis tanah latosol dan grumosol yang rawan longsor. Sedangkan di bagian tengah dan selatan didominasi oleh tanah alluvial yang memiliki tingkat kesubiran cukup tinggi sehingga bermanfaat bagi pertanian.
Curah Hujan Kabupaten kudus
Iklim di Kabupaten Kudus termasuk dalam kategori iklim tropis dengan temperatur antara 20,20C sampai dengan 30,20C. Bulan Basah jatuh antara bulan Oktober-Mei dan bulan kering antara Juni-September sedangkan bulan paling kering jatuh sekitar bulan Agustus. Curah hujam yang jatuh di daerah Kudus berkisar antara 2.000-3.000 mm/tahun dengan curah hujan tertinggi di daerah puncak Gunung Muria yaitu antara 3.500-5.000 mm/tahun.
Kondisi Sosial Kemasyarakatan Kabupaten Kudus
Masyarakat Kudus masih berpegang teguh pada tradisi yang telah lama ada dalama kehidupan mereka. Bahasa jawa, Upacara tradisional, kegiatan-kegiatan keagamaan masih kental dan menjadi bagian dari kehidupan sehari -hari. Kekentalan kegiatan keagamaan disebabkan adanya kebudayaan Islam di sekitar daerah Kudus Kulon ( Masjid Menara Kudus) yang merupakan daerah pertama kali masuknya agama Islam yang dibawa oleh Sunan Kudus
Kondisi Perekonomian Kabupaten Kudus
Kabupaten Kudus merupakan kota industri dan perdagangan, dengan karakteristik antara lain masyarakatnya cenderung komsumtif sehingga elastisitas permintaan terhadap perubahan harga rendah. Hal ini mengakibatkan fluktuasi harga tidak begitu menjadi penghalang minat masyarakat dalam mengkomsumsi barang. Selama barang tersedia, dan memenuhi kebutuhan serta selera, maka masyarakat akan membeli. Meskipun sebagai kota perdagangan, Kabupaten Kudus bukan sebagai simpul distribusi sehingga dibutuhkan penambahan biaya dalam proses distribusi, yang tentunya berakibat kepada tingkat kenaikan harga.
Thursday, January 7, 2016
Kabupaten Boyolali memiliki luas wilayah administrasi yang cukup besar, yaitu 101.510,20 Ha yang terbagi dalam 19 kecamatan. Adapun kecamatan-kecamatan tersebut antara lain: Kecamatan Selo, Kecamatan Ampel, Kecamatan Cepogo, Kecamatan Musuk, Kecamatan Boyolali, Kecamatan Mojosongo, Kecamatan Teras, Kecamatan Sawit, Kecamatan Banyudono, Kecamatan Sambi, Kecamatan Ngemplak, Kecamatan Nogosari, Kecamatan Simo, Kecamatan Karanggede, Kecamatan Klego, Kecamatan Andong, Kecamatan Kemusu, Kecamatan Wosonegoro, Kecamatan Juwangi
Topografi Kabupaten Boyolali
Sebagian besar wilayah di Kabupaten ini merupakan daerah yang bergelombang sehingga sebagian besar wilayahnya merupakan daerah pertanian lahan kering yang potensial. Berdasarkan topografinya, Kabupaten Boyolali terletak pada ketinggian 75 – 1500 meter di atas permukaan laut (mdpl). Kondisi ketinggian wilayah Kabupaten Boyolali secara lebih rinci dapat dilihat sebagai berikut:
- Ketinggian 74-400 mdpl : Mojosongo, Teras, Sawit, Banyudono, Sambi, Ngemplak, Simo, Nogosari, Karanggede, Andong, Klego, Kemusu, Wonosegoro, Juwangi dan sebagian Boyolali
- Ketinggian 400-700 mdpl : Boyolali, Musuk, Ampel, Cepogo
- Ketinggian 700-1000 mdpl : Musuk, Ampel, Cepogo
- Ketinggian 1000-1300 mdpl : Cepogo, Ampel, Selo
- Ketinggian 1300-1500 mdpl : Selo
Secara umum, Kabupaten Boyolali terbagi menjadi empat relief daratan, yaitu:
- Lereng Gunung Merbabu, membentang ke arah timur meliputi sebagian besar Kecamatan Ampel.
- Lereng Gunung Merapi (dari puncak ke kaki gunung), membentang ke arah timur meliputi sebagian besar Kecamatan Selo, Kecamatan Musuk, dan Kecamatan Cepogo.
- Dataran rendah, merupakan daerah terendah di Kabupaten Boyolali meliputi Kecamatan Boyolali, Mojosongo, Teras, Banyudono, Sawit, Sambi, Nogosari, dan Kecamatan Ngemplak.
- Daerah berbukit, merupakan daerah di sekitar Pegunungan Kendeng meliputi Kecamatan Simo, Wonosegoro, Klego, Andong, Kemusu, Karanggede, dan Juwangi.
Aspek geologi merupakan aspek yang penting untuk dibahas hubungannya dengan potensi sumberdaya tanah. Struktur geologi merupakan variabel pertumbuhan yang sangat penting dalam pengembangan wilayah, misalnya pengembangan daerah dengan kecepatan pembangunannya, permukiman, bendungan, pertanian dan lain-lain yang dalam pembangunan dan pengembangannya selalu menghindari daerah yang berbentuk struktur berlapis yang berulang, sehingga antara lapisan yang miring dengan lapisan yang kedap air dan tidak kedap air, daerah aktif tektonik dan aktif vulkanik dapat dipilah-pilah sesuai dengan kebutuhan pembangunan.
Batuan (jenis batuan) yang menyusun sebagian besar wilayah Kabupaten Boyolali antara lain :
• Endapan Bentonit, terdapat di Desa Bandung Kecamatan Wonosegoro.
• Endapan Fuller Bart, terdapat di Kecamatan Simo, Karanggede dan Klego.
• Kalsit, terdapat di Desa GunungSari Kecamatan Wonosegoro.
• Phyrit dan Wungkal, terdapat di Kecamatan Wonosegoro dan Kemusu.
• Gamping, terdapat di wilayah Juwangi.
• Pasir Besi, terdapat di wilayah Kecamatan Mojosongo.
• Pasir dan Batu Kali, di sepanjang aliran Sungai Gandul dan Pepe.
Jenis Tanah Kabupaten Boyolali
Asosiasi Litosol dan Grumosol : Kecamatan Kemusu, Klego, Andong, Karanggede, Wonosegoro, Juwangi.
Litosol dan Cokelat : Kecamatan Cepogo, Ampel, Selo.
Regosol Kelabu : Kecamatan Cepogo, Ampel, Boyolali, Mojosongo, Banyudono, Teras dan Sawit.
Litosol dan Regosol Kelabu : Kecamatan Cepogo, Musuk, Selo
Regosol Cokelat : Kecamatan Cepogo, Musuk, Mojosongo, , Teras dan Sawit, Banyudono
Andosol Cokelat : Kecamatan Cepogo, Ampel, Selo
Kompleks Regosol Kelabu dan Grumosol : Kecamatan Kemusu, Wonosegoro, Juwangi.
Grumosol Kelabu Tua : Kecamatan Andong, Klego, Juwangi.
Andosol Kelabu Tua dan Litosol : Kecamatan Cepogo, Ampel, Selo.
Asosiasi Grumosol Kelabu Tua dan Litosol : Kecamatan Simo, Sambi, Nogosari, dan Ngemplak.
Mediteran Cokelat Tua : Kecamatan Kemusu, Klego, Andong, Karanggede, Wonosegoro, Simo, Nogosari, Ngemplak, Mojosongo, Sambi, Teras, Banyudono.
Kondisi Hidrologi Kabupaten Boyolali
Berdasarkan aspek hidrologinya, terdapat sumber air yang sering digunakan masyarakat Kabupaten Boyolali, mata air yang sering digunakan adalah air tanah dan air permukaan. Sumber mata air yang digunakan berasal dari mata air Tlatar di Kecamatan Boyolali, Nepen di Kecamatan teras, Pengging di Kecamatan Banyudono, Pantaran di Kecamatan Ampel, Wonopedut di Kecamatan Cepogo, Mungup di Kecamatan Sawit.
Kondisi Bencana Kabupaten Boyolali
Di Kabupaten Boyolali terdapat beberapa lokasi wilayah yang sering mengalami bencana alam seperti banjir, banjir lahar, tanah longsor, letusan gunung berapi, kebakaran hutan, angin topan, kekeringan dan gempa bumi. Pada kawasan-kawasan seperti ini perlu dilindungi agar dapat menghindarkan masyarakat dari ancaman bencana yang ada tersebut. Berikut ini lokasi-lokasi yang rawan terdapat bencana di Kabupaten Boyolali :
- Daerah rawan banjir terdapat di Kecamatan Sawit, Ngemplak, Wonosegoro dan Juwangi.
- Daerah rawan banjir lahar dingin terdapat di Kecamatan Selo dan Cepogo, di mana letaknya berdekatan dengan Gunung Merbabu dan Merapi.
- Daerah rawan tanah longsor terdapat di Kecamatan Selo, Ampel, Cepogo dan Musuk.
- Daerah rawan kebakaran hutan terdapat di Kecamatan Selo, Ampel, Cepogo (Kawasan Taman Nasional Merapi-Merbabu), Wonosegoro dan Juwangi.
- Daerah rawan angin topan terdapat di Kecamatan Selo, Ampel, Cepogo, Musuk, Kemusu dan Wonosegoro.
- Daerah rawan kekeringan yaitu di Kecamatan Musuk, Wonosegoro dan Juwangi.
Friday, April 3, 2015
- Sebelah utara dan timur dengan propinsi Kalimantan Timur,
- Sebelah selatan dengan kabupaten Hulu Sungai Utara dan Kabupaten Balangan, serta
- Sebelah barat dengan propinsi Kalimantan Tengah.
Kabupaten yang terkenal dengan hasil tambang berupa batubara ini terdiri dari 12 kecamatan yang terbagi atas tiga wilayah pengembangan pembangunan (WPP), bagian utara meliputi kecamatan Haruai, Kecamatan Bintang Ara, Kecamatan Upau, Kecamatan Muara Uya dan Kecamatan Jaro. Bagian tengah meliputi kecamatan Tanta, Kecamatan Tanjung dan Kecamatan Murung Pudak serta bagian selatan meliputi kecamatan Banua Lawas, Kecamatan Pugaan, Kecamatan Kelua dan Kecamatan Muara Harus.
Jarak terjauh menuju ibukota pemerintahan kabupaten dari kecamatan adalah kecamatan Jaro 60 km. Dan yang terdekat adalah kecamatan Tanjung yaitu 2 km. Jumlah desa/kelurahan di kabupaten Tabalong ini sebanyak 122 desa dan 9 kelurahan, dimana kecamatan Tanjung dan Banua Lawas mempunyai desa terbanyak yaitu 15 desa dan yang paling sedikit adalah kecamatan Upau dengan 6 desa. Seluruh desa/kelurahan ini sudah sampai pada tingkat swasembada.
Letak kabupaten Tabalong sangat strategis, berada pada jalur segitiga emas atau segitiga pertumbuhan diantara lintas Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.Posisinya memberikan letak yang menjanjikan sebagai muara mengalirnya pengembangan aspek ekonomi dan sosial budaya ketiga Provinsi tersebut.
Kondisi Hidrologi dan Klimatologi Kabupaten Tabalong
Wilayah kabupaten ini banyak dialiri oleh sungai antara lain sungai Tabalong, sungai Anyar, sungai Jaing, sungai Kinarum, sungai Ayo, sungai Mangkupum, sungai Tamunti, sungai Walangkir, sungai Gendawang, sungai Awang, sungai Masingai, sungai Lumbang, sungai Juran, sungai Hunangin, sungai Umbu, sungai Karawili dan lain-lain.
Rencana pengembangan sistem jaringan sumber daya air yang tertuang dalam RTRW Kabupaten Tabalong antara lain wilayah sungai (WS) dan cekungan air tanah (CAT). Wilayah Sungai (WS) yang ada yaitu BWS Barito yang merupakan WS lintas provinsi yaitu BWS Barito – Kapuas dengan Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito sub DAS Tabalong yang merupakan kewenangan nasional terdiri atas sub-sub DAS Tabalong Kiwa, sub-sub DAS Tabalong Kanan, sub-sub DAS Kumap; dan sub-sub DAS Hayup.
Temperatur udara di suatu tempat antara lain ditentukan oleh tinggi rendahnya tempat tersebut terhadap permukaan laut dan jaraknya dari pantai. Sedangkan curah hujan di suatu tempat antara lain dipengaruhi oleh keadaan iklim, keadaan topografi dan perputaran/pertemuan arus udara. Oleh karena itu curah hujan beragam menurut bulan dan letak stasiun pengamat. Kabupaten Tabalong merupakan wilayah yang beriklim tropis sehingga kelembaban udara maksimum di Kabupaten Tabalong pada tahun 2013 berkisar antara 96-99 persen dan kelembaban udara minimum antara 65-84 persen, sementara kelembaban udara rata-rata setiap bulan adalah 88-92 persen.
Kondisi Geomorfologi Kabupaten Tabalong
Berdasarkan peta Geomorfologi, bentuk morfologi wilayah Kabupaten Tabalong dapat dibagi menjadi empat bentuk yaitu daratan alluvial, dataran, bukit dan pegunungan. Jika dilihat dari persentasenya ternyata wilayah ini didominasi oleh dataran sebesar 41,34 persen dan pegunungan sebesar 29,79 persen
Thursday, January 16, 2014
Sebelah Timur : Kabupaten Demak, Kabupaten Grobogan
Sebelah Selatan : Kabupaten Boyolali
Sebelah Barat : Kabupaten Temanggung, Kabupaten Kendal
Bagian Tengah : Terletak Kota Salatiga
Wilayah Administratif Kabupaten SemarangSecara administratif, Luas wilayah Kabupaten Semarang adalah 95.020,674 Ha yang terdiri dari 19 kecamatan, yaitu: Kecamatan Getasan, Kecamatan Tengaran, Kecamatan Susukan, Kecamatan Kaliwungu, Kecamatan Suruh, Kecamatan Pabelan, Kecamatan Tuntang, Kecamatan Banyubiru, Kecamatan Jambu, Kecamatan Sumowono, Kecamatan Ambarawa, Kecamatan Bandungan, Kecamatan Bawen, Kecamatan Bringin, Kecamatan Bancak, Kecamatan Pringapus, Kecamatan Bergas, Kecamatan Ungaran Barat dan Kecamatan Ungaran Timur.
Gunung dan Bukit di Kabupaten Semarang
Salah satu keunikan Kabupaten ini adalah adanya 3 gunung, yaitu :
- Gunung Ungaran yang berada di wilayah Kecamatan Ungaran Barat, Bandungan, Sumowono, dan Bawen.
- Gunung Telomoyo di Kecamatan Banyubiru dan Getasan.
- Gunung Merbabu yang terletak di wilayah Kecamatan Getasan dan Tengaran.
Kelerengan Lahan Kabupaten Semarang
Di Kabupaten Semarang terdapat berbagai variasi kelas lereng di mulai dari datar (0 - 2%) sampai sangat curam (>40%). Sebagian besar wilayah Kabupaten Semarang didominasi oleh kelas lereng bergelombang dengan kemiringan 2-15% seluas 57.640 Ha, Curam dengan kemiringan 15-40% seluas 21.706 Ha, sedangkan untuk kelas lereng datar dan sangat curam dengan kemiringan 0-2% dan >40% hanya sebagian kecil dari wilayah Kabupaten Semarang dengan luasan 6.297 Ha dan 9.438 Ha. Sedangkan ketinggian Kabupaten Semarang berada pada ketinggian 2.068 mdpl.
Daerah datar dengan kemiringan 0-2% menempati wilayah sekitar Rawapening, untuk daerah perbukitan dengan kemiringan atau berdasarkan kelas lereng antara 15-40% atau lebih menempati bagian Utara sampai Tenggara wilayah Kabupaten Semarang yaitu sekitar dukuh Kaligawe (sekitar hutan Penggaron), Dadapayam dan sekitar Susukan. Sedangkan daerah pegunungan seperti Gunung Merbabu, Gunung Telomoyo, dan Gunung Ungaran umumnya kemiringannya mencapai 15-40%. Sebelah barat Kabupaten Semarang memiliki kemiringan lahan yang sangat bervariasi terutama di wilayah Kecamatan Ungaran Barat, Bandungan, dan Getasan karena Kecamatan-kecamatan tersebut memiliki kemiringan lahan antara 0-2%, 2-15%, 15-40% dan lebih besar dari 40%.
Hidrologi Kabupaten Semarang
Jika dilihat secara hidrologis kekayaan sumber daya air yang berada di Kabupaten Semarang dapat dikelmpkan seperti dibawah ini :
a. Sumber mata air dengan kapasitas air sebesar 7.331,2 lt/detik tersebar di 15 kecamatan.
b. Sumber Air Permukaan atau juga yang berasal dari Sungai, dengan jumlah aliran sungai sebanyak 51 sungai, dengan panjang keseluruhan 350 KM dan memiliki debit total sebesar 2.668.480 l/dt.
c. Cekungan Air dengan produktifitas air sedang dan tinggi. Cekungancekungan air tersebut banyak dimanfaatkan untuk obyek wisata kolam pancing dan rumah makan
d. Waduk, satu-satunya waduk yang dimiliki Kabupaten Semarang adalah Waduk Rawa Pening yang memiliki volume air + 65 juta m3 dengan luas genangan 2.770 Ha pada ketinggian muka air maksimal, dengan ketinggian permukaan air minimal memiliki volume + 25 juta m 3 dengan luas genangan 1.760Ha
Sungai di Kabupaten Semarang
Ada tiga utama yang melintasi daerah-daerah Kabupaten Semarang yaitu:
- Sungai Garang yang melintasi daerah di Kecamatan Ungaran Barat, Ungaran Timur dan Bergas.
- Kali Tuntang dimana sungai ini melintasi wilayah sebagian kecamatan Bringin, Tuntang, Pringapus dan Bawen.
- Kali Senjoyo yang melalui Kecamatan Tuntang, Pabelan, Bringin, Tengaran dan Getasan
Klimatologi Kabupaten Semarang
Kabupaten yang berada di sebelah selatan Kota Semarang ini memiliki iklim tropis dengan curah hujan rata-rata 2.383 mm/tahun dan memiliki suhu udara relatif sejuk yaitu berkisar antara 18-32 derajat C, kelembapan udara antara 38,5 % - 98 % dan kecepatan angin 0,37-0,71 Knot.
Wednesday, February 23, 2011
Sebelah Utara : Kota Banjarbaru
Sebelah Selatan : Laut Jawa
Sebelah Timur : Kabupaten Tanah Bumbu
Sebelah Barat : Laut Jawa
Kecamatan-kecamatan yang masuk dalam lingkup wilayah administrasi Kabupaten Tanah Laut antara lain: Kecamatan panyipatan, Kecamatan jorong, Kecamatan Batuampar, Kecamatan Kintap, Kecamatan Pelaihari, Kecamatan Takisung, Kecamatan Bati-Bati, Kecamatan Tambang Ulang, Kecamatan Kurau, Kecamatan Bumi Makmur dan Kecamatan Banjuin.
Jenis tanah Kabupaten Tanah Laut
Wilayah Kabupaten yang berbatasan langsung dengan laut Jawa ini didominasi jenis tanah Alluvial, Podsolik dan Laotosol. Sedangkan jenis tanah Gleisol hanya sebagian kecil saja, dan tersebar di 6 (enam) kecamatan, yaitu Kecamatan Kurau, Bati-Bati, Takisung, Tambang Ulang, Pelaihari dan Panyipatan. Untuk lebih jelasnya adalah sebagai berikut:
- Jenis tanal latosol memiliki solum tanah tebal sampai sangat tebal, kandungan bahan organic 3 – 9 %, pH tanah antara 4,5 – 6,5 yaitu dari masam sampai agak masam, struktur tanahnya lemah dan konsistennya gembur. Secara keseluruhan tanah ini mempunyai sifat fisika dan sifat kimia yang baik, sehingga produktivitas lahannya sedang sampai tinggi, menempati areal seluas 108.780 Ha (29,17 % dari luas daratan seluruhnya).
- Jenis tanah Alluvial disebut juga sebagai tubuh tanah endapan, kandungan bahan organiknya rendah, reaksi tanahnya masam sampai netral, struktur tanahnya pejal atau tanpa struktur dan konsistensinya keras waktu kering, teguh waktu lembab, kandungan unsure haranya relative kaya dan banyak tergantung pada bahan induknya. Secara keseluruhan tanah alluvial mempunyai sifat fisika kurang baik sampai sedang, sifat kimia sedang sampai baik, sehingga produktivitas tanahnya sedang sampai tinggi, menempati areal seluas 120.290 Ha (32,26 % dari luas lautan).
- Jenis tanah podsolik memiliki solum tanah yang paling tebal yaitu 90 – 180 cm, tekstur tanahnya lempung berliat hingga liat, konsistensinya gembur di bagian atas dan teguh di lapisan bawah, kandungan bahan organiknya kurang dari 5 %, kandungan unsure hara tanaman rendah, reaksi tanah (pH) sangat masam sampai sangan masam yaitu 4 – 5,5. Secara keseluruhan tanah ini memiliki sifat kimia kurang baik, sifat fisika tidak mantap karena sifat agregratnya kurang baik, sehingga mudah terkena erosi. Produktivitasnya adalah rendah sampai sedang, menempati areal satuan 123.010 Ha (32,98 % dari luas total daratan)
Kemiringan Lahan Kabupaten Tanah Laut
Kemiringan/kelerengan suatu lahan berkaitan dengan kepekaan tanah terhadap erosi tanah, Semakin tinggi/terjal lerengnya maka tanah semakin peka terhadap erosi. Bila dilihat dari kemiringan tanahnya, wilayah Kabupaten ini dapat dibedakan dalam 6 (enam) kelompok, yaitu sebagai berikut :
- 0 – 3 %, sebagian besar tersebar di wilayah Timur membentang dari bagian Barat hingga Timur, mulai dari Selatan (pantai) ke Utara (pedalaman) dengan luas 250.460 Ha (67,16 % dari luas total daratan)
- 3 – 8 %, sebagian besar tersebar di wilayah bagian Tengah, membentang dari bagian Barat hingga Timur, dengan luas 44.830 Ha (12,02 % dari luas total daratan).
- 8 – 15 %, sebagian besar tersebar di wilayah bagian Tengah, membentang dari bagian Barat hingga Timur, dengan luas 31.600 Ha (8,47 % dari luas total daratan)
- 15 – 25 %, sebagian besar tersebar di wilayah bagian Tengah, membentang dari bagian Barat hingga Timur, dengan luas 21.805 Ha (5,85 % dari luas total daratan)
- 25 – 40 %, sebagian besar tersebar di wilayah bagian Tengah dan Utara, membentang dari bagian Barat hingga Timur, dengan luas 10.690 Ha (2,87 % dari luas total daratan)
- > 40 %, sebagian besar tersebar di wilayah bagian Tengah dan Utara, membentang dari bagian Barat hingga Timur, dengan luas 13.545 Ha (3,63 % dari luas total daratan)
Kondisi Geologi Kabupaten tanah Laut
Berdasarkan tinjauan terhadap peta geologi Propinsi Kalimantan Selatan di Kabupaten Tanah Laut berumur antara mesozoik, tersier dan kuarter.
Secara fisiografis Kabupaten yang berada di pinggir laut jawa ini terletak di bagian ujung Barat Daya Pegunungan Meratus dan di bagian Selatan Cekungan Barito dan Anak Cekungan Asam-Asam. Pegunungan Meratus terutama ditempati oleh batuan pra tersier, sedangkan Cekungan Barito da Anak Cekungan Asam-Asam ditempati oleh batuan sediment tersier.
Morfologi wilayah dapat dibagi menjadi 4 (empat) satuan morfologi yaitu Satuan Morfologi Dataran, dataran bergelombang, perbukitan dan pegunungan.
Satuan Morfologi Dataran menempati bagian ujung Selatan dan ujung Barat. Ketinggian berkisar antara 0 – 10 m dpl. Satuan ini berupa endapan alluvium rawa dan pantai yang tersusun dari batuan sediment kwarter. Satuan Morfologi Dataran Bergelombang menempati bagian Barat dan Selatan, yaitu sekitar jalur jalan raya Bati-bati – Pelaihari – Asam-asam; Pelaihari – Batakan dan Pelaihari – Takisung.
Ketinggian berkisar antara 10 – 50 m dpl. Satuan ini tersusun oleh batuan sediment kwarter dan tersier. Satuan Morfologi Perbukitan menempati bagian tengah merupakan kaki dari Pegunungan Meratus. Ketinggian berkisar antara 50 – 250 m dpl. Satuan ini tersusun oleh batuan metamorf dn sediment serta sebagian kecil batuan beku.
Satuan Morfologi Pegunungan menempati bagian Utara, dicirikan oleh lereng yang terjal dengan ketinggian puncak lebih dari 250 m dpl. Beberapa puncaknya seperti Gunung Kematian (951 m dpl), Gunung Batu Belerang (921 m dpl), Gunung Batu Karo (621 m dpl).
Sunday, June 13, 2010
Sebelah Utara : Kabupaten Jepara
Sebelah Barat : Laut Jawa, Kota Semarang
Sebelah Selatan : Kabupaten Grobogan
Sebelah Timur : Kabupaten Kudus
Topografi Kabupaten Demak
Secara topografis, wilayah kabupaten ini terdiri atas dataran rendah, pantai serta perbukitan, dengan ketinggian permukaan antara 0-100 meter. Berdasarkan letak ketinggian dari permukaan air laut, wilayah Kabupaten Demak dibatasi atas 3 region meliputi:
- Region A : 0-3 meter, meliputi sebagian besar Kecamatan Bonang, Demak, Karang tengah, Mijen, Sayung dan Wedung.
- Region B : 3-10 meter, meliputi sebagian besar di tiap-tiap kecamatan yang ada di Kabupaten Demak; 10-25 meter, meliputi sebagian besar Kecamatan Dempet, Karangawen dan Mranggen; 25-100 meter, meliputi sebagian besar Kec. Karangawen dan Mranggen
- Region C : lebih dari 100 meter, meliputi sebagian kecil Kecamatan Karangawen dan Mranggen
Kemiringan Lahannya sebagian besar relatif datar, yaitu berada pada lahan dengan kemiringan 0 – 8 %. Sedangkan pada bagian selatan memiliki kemiringan lahan yang sangat bervariasi terutama di wilayah Desa Banyumeneng dan Sumberejo. Kedua desa ini memiliki lahan dengan kemiringan 0 – 2 %, 2 – 8 %, 8 – 15 %, 15 – 40 %, dan lebih besar dari 40 %.
Jenis Tanah Kabupaten Demak
Ada beberapa jenis tanah yang ada di wilayah kabupaten ini, yaitu:
- Alluvial hidromorf, terdapat di sepanjang pantai
- Regosol, terdapat di sebagian besar Kecamatan Karangawen dan Mranggen
- Gromosol kelabu tua, terdapat di Kecamatan Bonang, Wedung, Kebonagung, Mijen, Karanganyar, Gajah, Demak, Wonosalam, Dempet dan Sayung.
- Mediteran, terdapat di sebagian besar Kecamatan Karangawen dan Mranggen.
Sebagian besar kondisi tanah yang ada di Kabupaten Demak pada musim kemarau menjadi keras dan retak-retak, sehingga tidak dapat digarap secara intensif untuk pertanian. Pada musim penghujan tanahnya bersifat lekat sekali dan volumenya membesar, serta lembab sehingga agak sulit untuk digarap dan memerlukan sistem drainase yang memadai. Pada beberapa daerah tertentu kondisi air tanah yang asin dapat mempengaruhi usaha-usaha petani. Gejala-gejala yang disebabkan oleh air tanah yang asin terutama nampak pada dekat pantai dan sungai/saluran pembuangan yang pada musim kemarau dimasuki air laut.
Struktur Geologi Kabupaten Demak
Struktur Geologi kabupaten ini terdiri dari struktur Aluvium, miosen fasies sedimen, pliosen fasies sedimen, plistosen fasies gunung api dan pliosen fasies batu gamping.
- Struktur Aluvium terdapat hampir semua kecamatan yaitu di Kecamatan mijen, Bonang, Kecamatan Demak, Gajah, Karanganyar, Wonosalam, Karangtengah, Dempet, Sayug, Guntur, Mranggen dan Karangawen.
- Miosen, fasies sedimen terdapat di sebagian kecamatan karangawen yaitu di desa jragug dan sebagian di kecamatan mranggen.
- Pliosen, fasies sedimen terdapat di sebagian kecamatan karangawen yaitu di desa jragug dan sebagian di kecamatan mranggen.
- Plistosen, fasies gunung api terdapat di sebagian kecamatan karangawen yaitu desa margohayu dan wonosekar dan terdapat di kecamatan mranggen khususnya di Desa Sumberejo.
- Pliosen, fasies batu gamping yaitu hanya terdapat di kecamatan mranggen.
- Hidrologi/ Hidrogeologi (Keairan)
Sumber-sumber air di wilayah ini berupa sumber air di permukaan tanah dan air tanah. Sumber air di permukaan tanah berasal dari sungai-sungai, laut dan pantai. Sungai-sungai utama yang terdapat di wilayah Demak adalah sebagai berikut:
- Sungai Jragung, Kali Jragung berhulu di G. Ungaran dan mengalir menuju timur laut bermuara di Laut Jawa. Anak sungai Jragung yang berada di wilayah Kabupaten Semarang adalah Kali Klampok, K. Sililin, dan K. Trima.
- Sungai Tuntang, Hulu sungai ini berasal dari G.Ungaran di sebelah barat dan G.Merbabu di sebelah selatan menuju timur laut. Salah satu anak sungai Tuntang adalah Kali Senjoyo yang merupakan sungai terpanjang di Kabupaten Semarang (+35 km), dengan anak sungainya yaitu K. Tlogo, K. Taman, dan K. Macanan. Anak Sungai Tuntang yang lain adalah K. Kurmo, K. Bade, K. Ngromo/Bancak. Sungai ini dimanfaatkan oleh penduduk sebagai saluran pengairan terutama di daerah hilir di Kabupaten Demak, dan sebagai pembangkit tenaga listrik.
- Sungai Serang, Kali Serang merupakan sungai utama yang berhulu di sekitar G. Merbabu dengan beberapa anak sungai yang terletak di wilayah Kabupaten. Semarang, yaitu K. Gading, K. Regunung, K. Ngadirejo, K. Pepe. K. Klatak, dan K. Bandung.
Selain itu di kawasan tersebut juga memiliki potensi cekungan air tanah yang cukup tinggi yakni air tanah dangkal sebesar 166,2 juta m3/th dan air tanah dalam sebesar 4,1 juta m3/th.
Thursday, April 22, 2010
• Sebelah Barat : Laut Jawa
• Sebelah Timur : Kabupaten Kudus dan Kabupaten Pati
• Sebelah Utara : Laut Jawa
• Sebelah Selatan : Kabupaten Demak
Secara administratif kabupaten ini terdiri dari 16 kecamatan yang terbagi dalam 194 desa/ kelurahan. Adapun kecamatan-kecamatan yang masuk dalam lingkup administrasi Kabupaten Jepara antara lain: Kecamatan Kedung, Pecangaan, Kalinyamatan, Welahan, Mayong, Nalumsari, Batealit, Tahunan, Jepara, Mlonggo, Bangsri, Kembang, Keling, Karimunjawa, Pakisaji, Donorojo.
Kondisi Fisik Alam Kabupaten Jepara
Wilayah Kabupaten Jepara memiliki relief yang beraneka ragam, terdiri dari daerah dataran pantai yang tersebar disepanjang pantai utara meliputi Kecamatan Kedung, Jepara, Mlonggo, Bangsri, dan Keling, dataran rendah dan dataran sekitar Gunung Muria dan Gunung Clering. Kondisi topografi wilayah antara 0–1.301 meter diatas permukaan air laut, bagian terendah berada di pantai/pesisir dan bagian tertinggi terdapat di wilayah Kecamatan Keling atau pada kaki Gunung Muria. Berdasarkan kemiringan tanahnya, secara umum dibedakan dalam 4 (empat) kategori,yaitu :
- Daerah dengan kemiringan 0-2% lahan datar meliputi sebagian Kecamatan Mayong, sebagian Kecamatan Nalumsari, sebagian Kecamatan Welahan, sebagian Kecamatan Pecangaan, sebagian Kecamatan Kedung, sebagian Kecamatan Jepara, sebagian Kecamatan Tahunan, sebagian Kecamatan Mlonggo, sebagian Kecamatan Bangsri, sebagian Kecamatan Kembang, sebagian Kecamatan Keling, Kecamatan Karimunjawa dan sebagian wilayah Batealit.
- Daerah dengan kemiringan 2-15 % lahan landai meliputi sebagian Kecamatan Mayong, sebagian Kecamatan Nalumsari, sebagian Kecamatan Batealit, sebagian Kecamatan Jepara, sebagian Kecamatan Tahunan, sebagian Kecamatan Mlonggo, sebagian Kecamatan Bangsri, sebagian Kecamatan keling, sebagian kecil wilayah utara Pecangaan dan Kedung.
- Daerah dengan kemiringan 15-40 % lahan agak curam meliputi sebagian Kecamatan Mayong, Kecamatan Nalumsari, Kecamatan Batealit, sebagian kecil Kecamatan Mlonggo, sebagian Kecamatan Bangsri dan sebagian Kecamatan Keling. Merupakan daerah di sekitar gunung Muria, Trawean, Genuk, dan Pucang Pendawa.
- Daerah dengan kemiringan > 40 % lahan sangat curam meliputi wilayah puncak gunung Muria, Trawean, Genuk, dan Pucang Pendawa. Terletak di Kecamatan Mayong, Batealit, Mlonggo, Bangsri dan Keling
Kondisi Hidrologi Kabupaten Jepara
Kabupaten ini termasuk dalam wilayah Sub DAS Jratun Seluna (Jragung, Tuntang, Serang, Lusi, dan Juana). Aliran sungai ini titik beratnya diarahkan pada pemanfaatan secara optimal sekaligus rehabilitasi terhadap sumber alam hutan, tanah dan air yang rusak serta untuk meningkatkan pembangunan pertanian yang dapat memberikan pengaruh pada sektor lain. Sungai-sungai besar yang dijumpai di Kabupaten Jepara diantaranya Sungai Bakalan, Kaweden, Pecangaan, Troso, Sirahan, Mlonggo, Kancilan, Balong, Gelis, Pasokan, Tunggul, Mayong, Sengon, Kedung Bule, Tuk Abul, Bapangan, Kembar Rawi, Banjaran, Jeruk, Wangkong, Blitar, Wareng dan Suru. Selain sungai, juga terdapat 30 sumber mata air yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih.
Potensi air permukaan tanah dan air dalam tanah di daerah Kabupaten Jepara cukup besar. Air Permukaan umumnya berupa sungai. Air dalam tanah dapat dibagi 3 daerah menurut keadaan airnya, yaitu :
- Daerah air tawar, meliputi daerah kaki Gunung Muria, mempunyai mutu air yang baik dan digunakan sebagai sumber air minum.
- Daerah air tanah payau, meliputi daerah dataran rendah yang merupakan batas antara air tanah asin dengan air tanah tawar. Persebaran akuifernya tidak merata pada tiap tempat dengan ketebalan antara 2-7 m. Air ini relatif masih bisa digunakan.
- Daerah air asin, meliputi daerah dataran di pinggiran pantai atau pantai yang menjorok ke daratan.
Jenis Tanah Kabupaten Jepara
Jenis tanah yang ada di kabupaten ini dibedakan atas 5 jenis tanah. Secara rinci penyebaran jenis tanah dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Tanah Latosol
Jenis tanah ini paling dominan dengan luas tanah 65.659,972 Ha, atau 65,39%. Di Kabupaten ini terdapat dua jenis tanah latosol, yaitu latosol merah dan latosol coklat. Latosol merah terdapat di Kecamatan Pecangaan, Kalinyamatan, Mayong, Nalumsari, Batealit, Jepara, Tahunan, Mlonggo, Bangsri, Kembang, dan Keling. Sedangkan tanah latosol coklat terdapat di Kecamatan Batealit, Bangsri, Kembang, dan Keling.
Jenis tanah ini terdapat di Kecamatan Kedung, Pecangaan, Kalinyamatan, Mayong, Nalumsari, Jepara, Tahunan, Mlonggo, dan Bangsri dengan luas tanah 19.400,458 Ha, atau 19,32 %.
3. Tanah Alluvial.
Terdapat di Kecamatan Kembang dan Keling dengan luas tanah 525.469 Ha, atau 3,15%.
Tanah ini terdapat di Kecamatan Keling dengan luas tanah 2.700,857 Ha, atau 2,69 %.
Potensi Pariwisata Kabupaten Jepara
Di Jepara, terdapat beberapa potensi wisata baik itu wisata alam maupun buatan. Adapun potensi wisata tersebut antara lain: Pantai Kartini, Pantai Bandengan, Pantai Pailus, Pantai Mpu Rancak, Pantai Bondo, Pulau Panjang, Museum Kartini, Benteng Portugis, Desa wisata Plajan yang meliputi Museum Gong Perdamaian Dunia, Goa Sakti dan Akar Seribu serta obyek wisata religi seperti Makam Ratu Kalinyamat.
Thursday, January 21, 2010
Kabupaten Kendal merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang berbatasan langsung dengan Kota Semarang sebagai Ibukota Provinsi Jawa Tengah. Secara geografis letak Kabupaten ini berada pada posisi 109º 40’ - 110º 18’ Bujur Timur dan 6º 32’ - 7º 24’ Lintang Selatan dan secara administratif berbatasan dengan:
Sebelah Utara : Laut Jawa
Sebelah Timur : Kota Semarang
Sebelah Selatan : Kabupaten Semarang dan Kabupaten Temanggung
Sebelah Barat : Kabupaten Batang
Ditinjau dari letaknya di Pulau Jawa wilayah kabupaten yang berada di kawasan pesisir laut Jawa inil berada pada posisi yang strategis karena berada pada Jalur Pantai Utara (Pantura) yang menghubungkan antara Jakarta dan Surabaya. Kabupaten ini terdiri dari 20 kecamatan, 286 desa, 1.139 dukuh, 1.487 RW, 6.375 RT, dengan luas total wilayah adalah 1.002,23 Km2
Topografi Kabupaten Kendal
Kabupaten yang berbatasan dengan semarang ini memiliki topografi yang sangat beragam, yaitu topografi datar sampai dengan topografi curam. Kecamatan Rowosari merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Kendal yang mempunyai topografi datar yaitu 0-2%. Kecamatan yang memiliki topografi curam yaitu sebagian Kecamatan Plantungan, Kecamatan Sukorejo, Kecamatan Kaliwungu Selatan, Kecamatan Singorojo, Kecamatan Limbangan.
Curah Hujan Kabupaten kendal
Curah hujan yang ada dimulai dari curah hujan < 1500 mm/th sampai dengan >2500 mm/th. Kecamatan yang memiliki tingkat curah hujan rendah yaitu sebagian Kecamatan Rowosari, Kecamatan Weleri, Kecamatan Ringinarum, dan Kecamatan Kangkung
Jenis dan tekstur Tanah Kabupaten Kendal
Apabila dilihat dari jenis dan tekstur tanahnya kabupaten ini memiliki variasi jenis tanah yang cukup beragam antara lain sebagai berikut:
- Alluvial, jenis tanah ini bersifat hidromorf dan berwarna kelabu, coklat dan hitam. Jenis tanah ini dapat ditemui di wilayah Kecamatan Cepiring, Patebon, Kecamatan Brangsong, sebagian Kecamatan Weleri, Gemuh, Kecamatan Pegandon, Brangsong dan Kaliwungu.
- Latosol, tanah ini berwarna netral sampai asam berwarna coklat, coklat kemerahan sampai merah. Jenis tanah ini dapat ditemui di wilayah Kecamatan Limbangan, Singorojo, Pegandon, Gemuh, Weleri, Plantungan, Sukorejo, Boja, Pageruyung, Patean dan sebagian Kecamatan Kaliwungu.
- Andosol dan Regosol, jenis tanah ini bersifat netral sampai asam dengan warna putih, coklat kekuning – kuningan, coklat atau kelabu serta hitam. Jenis tanah ini meliputi Kecamatan Plantungan dan Sukorejo.
- Mediteran Coklat Kemerahan, tanah ini merupakan jenis tanah peralihan antara alluvial dan latosol, bersifat agak netral dengan warna merah sampai coklat. Jenis tanah ini meliputi Kecamatan Gemuh, Pegandon dan Kecamatan Kaliwungu
Suplai air tanah maupun air tawar seluruhnya datang dari hujan yang berasal dari penguapan air laut, yang merupakan bagian dari proses siklus hidrologi. Hujan yang jatuh akan meresap ke dalam tanah, sebagian menjadi air tanah yang mengisi aquifer (formasi tanah yang mengandung dan menghantarkan air tanah) dan sebagian besar mengalir di permukaan sebagai run off (surface flow dan sub surface flow). Kabupaten Kendal memiliki sekitar 20 mata air dengan debit yang beraneka ragam. Mata air yang ada tersebut pada umumnya terletak di Kecamatan Sukorejo, Plantungan, Singorojo, Limbangan, dan Patehan









