Recent Articles
Home » All posts
Tuesday, July 23, 2013
Kecamatan Satui Kabupaten Tanah Bumbu
Kecamatan Satui merupakan salah satu Kecamatan dalam wilayah adminsitratif Kabupaten Tanah Bumbu berdasarkan Undang – Undang Nomor 2 Tahun 2003, tentang Pembentukan Kabupaten Tanah Bumbu dan Kabupaten Balangan di Provinsi Kalimantan Selatan. Kecamatan Satui terdiri dari 16 desa, yaitu Desa Satui Timur, Desa Satui Barat, Desa Sungai Cuka, Desa Jombang, Desa Bukit Baru, Desa Sungai Danau, Desa Setarap, Desa Sekapuk, Desa Tegal Sari, Desa Sumber Makmur, Desa Wonorejo, Desa Sumber Arum, Desa Makmur Mulia, Desa Al Kautsar, Desa Sinar Bulan dan Desa Pendamaran Jaya.
Pembangunan di Satui sangat cepat, penghasilan penduduknya pun dapat dibilang tinggi karena Kota kecamatan tersebut berada di jalur strategis provinsi yang menghubungkan Banjarmasin-Tanah Bumbu-Kota Baru. Sebagian besar penduduknya merupakan pendatang dari daerah lain, sedangkan penduduk aslinya adalah orang dari Desa Satui Barat, atau yang biasa disebut Satui Kampung. Karena banyak terdapat bahan tambang berupa batu bara, maka banyak pula terdapat pertambangan di kawasan Kecamatan Satui. Penggunaan lahan di dominasi oleh hutan, kebun sawit dan pertambangan. Dimana penggunaan lahan pertambangan paling banyak berada di Sungai Danau. Sedangkan untuk penggunaan lahan pemukiman berada di sepanjang jalan utama di Kecamatan Satui.
Adapun batas wilayah Kecamatan Satui adalah:
- Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Kusan Hulu;
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Jawa;
- Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Angsana; dan
- Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Tanah Laut.
Kecamatan Satui mempunyai ibukota Sungai Danau dengan luas wilayah sebesar 876,55 km2, dengan desa terluas adalah Desa Jombang yaitu 277,74 km2 dan desa yang mempunyai luasan terkecil adalah Desa Tegal Sari sebesar 3,60 km2.
Kondisi topografi kawasan ini cenderung datar karena berada pada daerah pantai. Ketinggian kawasan dibagi menjadi 4 (empat) bagian yaitu ketinggian 0 – 150 meter dpl, ketinggian 150 – 350 meter dpl, ketinggian 350 – 625 meter dpl, dan ketinggian 625 – 1.225 meter dpl. Dari keempat bagian ketinggian tersebut, didominasi oleh ketinggian 0 – 150 meter dpl yang menyebar hampir seluruh wilayah Kecamatan dengan luas sebesar 82.787,74 hektar atau sekitar 94%. Dan secara hidrologi terdapat 2 (dua) Daerah Aliran Sungai (DAS) besar yaitu DAS Satui dan DAS Kintap, dengan sungai – sungainya meliputi Sungai Satui , Sungai Danau, dan Sungai Setarap
Kondisi iklim di Kecamatan Satui pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan Kabupaten Tanah Bumbu, dimana suhu udara berkisar antara 260C – 340C dengan curah hujan yang cukup rendah yaitu berkisar antara 18 mm – 21 mm. Kelembaban udara rata – rata berkisar antara 86 % - 93 % dengan kecepatan angin rata – rata sekitar 2 m/detik.
Jenis tanah yang ada terdiri dari 4 (empat) jenis yaitu jenis tanah alluvial, podsolik merah kuning lato – lito, podsolik merah kuning laterik, dan latosol. Jenis tanah yang mendominasi di Kecamatan Satui ini adalah jenis tanah podsolik merah kuning laterik dengan luas 57.356,34 hektar atau sekitar 65,43 %
Wednesday, July 17, 2013
Kecamatan Pecangaan
Kabupaten Jepara
Kecamatan Pecangaan merupakan salah satu kecamatan yang berada di Kabupaten Jepara yang memiliki luas wilayah 3.539,896 Ha atau sekitar 35,41 km2 dengan wilayah administrasi terdiri atas 12 desa. Jarak dari Kecamatan Pecangaan ke Ibukota Kabupaten Jepara adalah 15 km. Kecamatan ini terletak di sebelah Tenggara Ibukota Kabupaten Jepara dengan batas-batas administrasi sebagai berikut:
Sebelah Timur : Kec. Kalinyamatan dan Kec. Batealit
Sebelah Barat : Kecamatan Kedung
Sebelah Utara : Kec. Tahunan dan Kec. Batealit
Sebelah Selatan : Kecamatan Batealit
Kecamatan ini memiliki posisi yang strategis, dilewati oleh jalan utama penghubung Jepara – Pati. Selain itu, Kecamatan Pecangaan dilalui oleh jalan lingkar yang berperan memecah pergerakan dalam dan luar kota. Posisi ini membuat kecamatan dengan potensi “Tenun Troso” ini berkembang cukup baik dan menjadi salah satu pusat kegiatan masyarakat di Kabupaten Jepara. Adapun pembagian administrasi wilayah Kecamatan Pecangaan adalah sebagai berikut:
Kecamatan Pecangaan memiliki kelerengan antara 2 – 17 %. Topografi seluruh Kecamatan Pecangaan merupakan dataran dengan ketinggian wilayah < 500 mdpl. Kondisi hidrologi di Kecamatan Pecangaan terdiri atas air tanah dan air permukaan. Adanya sungai-sungai besar seperti Sungai Troso dan Sungai Pecangaan menjadi salah satu sumber air/ hidrologi di kecamatan ini. Air bersih untuk masyarakat banyak berasal dari air tanah, dan menggunakan sumber air dari PDAM.
Kondisi iklim di Kecamatan Pecangaan dapat dilihat dari klimatologi Kabupaten Jepara. Kabupaten Jepara termasuk dalam golongan iklim tipe D (sedang) dengan musim hujan dan kemarau silih berganti. Sementara temperatur rata – rata 25,72 oC dengan kelembaban rata – rata 5,87 %. Jenis tanah yang terdapat di Kecamatan Pecangaan didomonasi oleh jenis tanah latosol.
Penggunaan lahan di Kecamatan Pecangaan terdiri atas lahan sawah dan lahan kering (non sawah). Luas penggunaan lahan sawah di Kecamatan Pecangaan pada tahun 2010 adalah 1.536 Ha, sedangkan penggunaan lahan kering adalah 2.052,324 Ha.
Jumlah penduduk Kecamatan Pecangaan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat dari jumlah penduduk sebesar 74.707 jiwa pada tahun 2007 menjadi 77.172 jiwa pada tahun 2010. Jika dihitung menurut tingkat pertumbuhan penduduk, maka terjadi peningkatan sebesar 0,03 % dalam kurun waktu 4 tahun tersebut.
Friday, April 12, 2013
Kecamatan Lasem
Kabupaten Rembang
Kecamatan Lasem merupakan salah satu kecamatan yang terletak di Kabupaten Rembang dan merupakan kota terbesar kedua setelah Kecamatan Rembang. Lokasi Kecamatan ini berada di sebelah timur Kecamatan Rembang dan dilalui oleh jalur Pantai Utara (Semarang-Surabaya) sehingga memiliki posisi yang strategis dari segi ekonomi dan infrastruktur. Kecamatan yang berada di pesisir pantai Laut Jawa ini memiliki luas 4.503,8 hektar dengan 26,71% merupakan lahan sawah dan 73,29% adalah lahan kering. Kondisi topografi Kecamatan Lasem relatif datar yaitu 0-40%. Adapun batas administrasi Kecamatan Lasem adalah sebagai berikut :
Sebelah Utara : Laut Jawa
Sebelah Timur : Kecamatan Sluke
Sebelah Selatan : Kecamatan Pancur
Sebelah Barat : Kecamatan Rembang
Sebelah Utara : Laut Jawa
Sebelah Timur : Kecamatan Sluke
Sebelah Selatan : Kecamatan Pancur
Sebelah Barat : Kecamatan Rembang
Secara administratif Kecamatan Lasem terdiri dari 20 desa yaitu Desa Karasgede, Jolotundo, Sumbergirang, Karangturi, Babagan, Dotokandang Gedongmulyo, Dasun, Soditan, Ngemplak, Selopuro, Sendangcoyo, Ngargomulyo, Kajar, Gowak, Sendangasri, Tasiksono, Sriombo, Bonang, dan Binangun. Setiap desa terbagi menjadi beberapa Rukun Warga (RW) dan Rukun Tetangga (RT) masing-masing sejumlah 84 RW dan 226 RT.
Penggunaan lahan pada tahun 2012 sebagaimana dirilis dari data yang dikeluaran BPS Kabupaten Rembang terdiri atas lahan non sawah/kering sebesar 73,29% dan lahan sawah sebesar 26,71%. Penggunaan lahan sawah terdiri dari sawah irigasi teknis, setengah teknis, sederhana, non PU (desa), dan tadah hujan. Sedangkan untuk tanah kering terdiri atas bangunan, tegalan, tambak, rawa, hutan negara, dan lain-lain
Jumlah penduduk yang ada di Kecamatan Lasem pada tahun 2012 berjumlah 47.757 jiwa. Untuk jumlah penduduk laki-laki terdiri dari 23.815 jiwa dan 23.942 adalah penduduk perempuan. Serta Kecamatan Lasem memiliki sex ratio sebesar 99,47. Jumlah penduduk tersebut telah mengalami peningkatan 450 jiwa dari tahun 2011.
Penggunaan lahan pada tahun 2012 sebagaimana dirilis dari data yang dikeluaran BPS Kabupaten Rembang terdiri atas lahan non sawah/kering sebesar 73,29% dan lahan sawah sebesar 26,71%. Penggunaan lahan sawah terdiri dari sawah irigasi teknis, setengah teknis, sederhana, non PU (desa), dan tadah hujan. Sedangkan untuk tanah kering terdiri atas bangunan, tegalan, tambak, rawa, hutan negara, dan lain-lain
Jumlah penduduk yang ada di Kecamatan Lasem pada tahun 2012 berjumlah 47.757 jiwa. Untuk jumlah penduduk laki-laki terdiri dari 23.815 jiwa dan 23.942 adalah penduduk perempuan. Serta Kecamatan Lasem memiliki sex ratio sebesar 99,47. Jumlah penduduk tersebut telah mengalami peningkatan 450 jiwa dari tahun 2011.
Tuesday, September 18, 2012
Jl Yos Sudarso Batang
Jika kita berjalan dari alun-alun Batang ke sebelah utara (setelah menyeberang Jalan pantura tentunya), kita akan melewati satu ruas jalan yang memiliki perkembangan cukup pesat di kawasan Kota Batang Bagian Utara, yaitu Jl Yos Sudarso. Jalan yang menghubungkan Jalur Pantura dengan kawasan pelabuhan Batang ini merupakan salah satu jalur jalan utama yang ada di Kota Batang.
Apabila di lihat di kondisi riil lapangan, kawasan kanan-kiri jalan Yos Sudarso Batang yang masuk dalam administrasi Kelurahan Proyonanggan Tengah, Proyonanggan Utara dan Karangasem Selatan Kecamatan Batang ini merupakan kawasan permukiman dengan kepadatan tinggi.
Seiring dengan semakin berkembangnya kawasan alun-alun Batang, kawasan sepanjang ruas Jl Yos Sudarso Batang ini juga semakin menggeliat. Banyak aktivitas perdagangan dan jasa baik formal maupun informal yang berkembang. Banyak bermunculan ruko, pertokoan, kios-kios PKL dan lain sebagainya yang berimplikasi positif terhadap peningkatan ekonomi masyarakat.
Namun demikian, perlu dijadikan perhatian karena perkembangan kawasan yang pesat itu akan menciptakan masalah baru berupa kekumuhan apabila tidak diimbangi dengan perencanaan kawasan yang matang. Banyak bangunan yang dibangun tanpa memperhatikan sempadan jalan, sehingga tidak mengakomodir kebutuhan akan kantong parkir. Selain itu estetikanya juga kurang sedap dipandang mata.
Sunday, September 2, 2012
Kecamatan Batang Kabupaten Batang
Jika kita menelusuri jalur Pantura Pulau Jawa dari Semarang menuju Jakarta, pasti akan melewati salah satu kecamatan yang menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Batang yaitu Kecamatan Batang. Kecamatan Batang merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Batang yang terletak pada ketinggian tanah 6 meter dpl. . Secara administratif Kecamatan Batang berbatasan dengan:
1. Sebelah Utara : Laut Jawa
2. Sebelah Timur : Kecamatan Kandeman
3. Sebelah Selatan : Kecamatan Warungasem dan Kecamatan Wonotunggal
4. Sebelah Barat : Kecamatan Pekalongan
Berdasarkan data yang dirilis dari BPS Kabupaten Batang 2012, Kecamatan Batang memiliki luas 3.434,54 Ha yang terbagi dalam 21 Desa/Kelurahan dan memiliki 80 Dusun, 103 Rukun Warga (RW) dan 494 Rukun Tetangga (RT).
Topografi
Kecamatan batang merupakan salah satu wilayah Kabupaten Batang yang berada di dataran rendah dengan ketinggian 0-25 mdpl dan kemiringan lahan 0-8 %.
Jenis Tanah
Klasifikasi jenis tanah pada umumnya dibagi menjadi dua, yaitu klasifikasi teknis dan klasifikasi alami. Klasifikasi teknis adalah klasifikasi tanah yang didasarkan pada sifat-sifat tanah yang berpengaruh pada kemampuan tanah untuk penggunaan tertentu. Klasifikasi teknis sering disebut klasifikasi kemampuan atau kesesuaian lahan.
Klasifikasi alami adalah klasifikasi tanah yang berdasarkan atas sifat tanah yang dimilikinya tanpa menghubungkan dengan tujuan penggunaan tanah tersebut. Klasifikasi ini memberikan gambaran dasar sifat fisik, kimia dan minerologi tiap-tiap tanah yang dapat digunakan sebagai dasar pengolahan untuk berbagai penggunaan lahan.
Jenis tanah yang terdapat di Kecamatan Batang antara lain: Tanah Latosol Coklat, Tanah Asosiasi Latosol Merah dan Latosol Coklat, serta Tanah Kompleks Latosol Merah Kuning dan Latosol
Geologi
Secara garis besar pengolahan tanah yang terdapat di Kabupaten Batang khususnya di Kecamatan Batang terdiri dari endapan permukaan yang sebagian besar terdapat di sepanjang pantai utara dan batuan sedimen. Sebagian besar tanah terdiri dari breksi gunung api andesit muda
Hidrologi
Secara hidrologis, Kecamatan Batang memiliki berbagai sumber air yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga, irigasi dan industri .
Klimatologi
Iklim merupakan kondisi rata-rata dari semua peristiwa yang terjadi di atmosfer yang terdapat pada suatu daerah yang luas serta pada waktu relatif lama. Kabupaten Batang yang terletak di jalur Pantai Utara Pulau Jawa (Pantura) memiliki iklim tropis dengan jumlah hari hujan pada bulan Oktober-April dan musim kemarau pada bulan April-Oktober, dimana kedua musim ini silih berganti sepanjang tahun. Kecamatan Batang mempunyai rata-rata curah hujan lebih rendah, yaitu rata-rata 4.014 mm dengan jumlah hari hujan rata-rata 151 hari. Keadaan ini sangat mempengaruhi kegiatan masyarakat terutama kegiatan pertanian, yang merupakan aktivitas dominan penduduk setempat. Kondisi iklim di Kabupaten Batang tergolong baik untuk pengembangan kegiatan pertanian sawah maupun pertanian yang dilakukan di lahan yang bukan berupa sawah (tegalan, kebun, dan lain-lain).
Sumber daya Mineral (Potensi Galian Tambang)
Bahan galian tambang yang terdapat di Kecamatan Batang berdasarkan Hasil Penelitian Studi Kelayakan Potensi Pertambangan Kabupaten Batang Tahun 2002 adalah Tanah urug yang merupakan tanah hasil pelapukan batuan dasar dan menjadi tanah dengan bagian-bagian tertentu masih dijumpai batuan asalnya yang berukuran kerikil sampai kerakal (2 m - 20 mm) berwarna coklat agak kekuningan. Kawasan pertambangan tanah urug ini terdapat di Desa kecepak dengan potensi cadangan 4.050.000 M3 dan dilakukan melalui penambangan rakyat.
PERUNTUKAN DAN PEMANFAATAN LAHAN
Pola penggunaan lahan di Kecamatan Batang didominasi oleh lahan kering yang jumlahnya semakin meningkat dari tahun 2008-2011. Pada Tahun 2008, luas tanah kering di Kecamatan Batang adalah 2.005,64 Ha dan pada tahun 2011 bertambah menjadi 2011,14 Ha. Penambahan tanah kering tersebut terjadi karena adanya alih fungsi lahan dari tanah pertanian.
Lahan pertanian berupa sawah yang ada di Kecamatan Batang terbanyak berada di Denasri Wetan dengan luas lahan 156,366 Ha dan di desa/kelurahan Kecepak, Proyonanggan Tengah, Proyonangan utara dan Karangasem Utara tidak terdapat lahan sawah karena terletak di daerah perkotaan.
Tanah kering yang terdapat di Kecamatan Batang terdiri dari kahan tegal/kebun, pekarangan/permukiman, kolam/tambak serta peruntukan lainnya. Apabila dibandingkan dari tahun 2008-2011, peningkatan luasan lahan kering terbesar terjadi pada peruntukan lahan pekarangan/permukiman sebagai implikasi dari perkembangan Kecamatan Batang yang juga merupakan ibukota Kabupaten Batang. Pertambahan luasan pekarangan sebesar 3,63 Ha dengan perubahan terbesar berada di Kelurahan Batang, Sedangankan pertambahan lahan tegalan/kebun yang terbesar di Desa Kecepak sedangkan di Desa Wates alit terjadi perubahan pola penggunaan lahan berupa penambahan lahan tambak/kolam dengan jumlah terbesar yaitu 7,83 Ha.
Thursday, September 15, 2011
Desa Plajan
Pakis Aji Jepara
Berada di kaki Gunung Muria, Desa Plajan terletak di sebelah timur Ibukota Kabupaten Jepara. Jarak tempuh ke Ibu kota Kecamatan Pakis Aji kurang lebih 5 Km dan ke Ibu Kota Kabupaten kira-kira 22 Km dan dapat ditempuh kendaraan dengan waktu tempuh ± 30 menit. Letak Pusat Pemerintahan Desa berada pada 06.58315 LS dan 110.78576 BT (diukur dengan alat GPS pada tanggal 25 Juli 2009 oleh Tim Pemerintah Desa).
Desa Plajan memiliki luas wilayah daratan 1,0445 Km² dan tidak memiliki wilayah pantai. Secara administratif, wilayah Desa Plajan terdiri atas 43 RT dan 7 RW, meliputi 24 dukuh dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:
1. Desa Guyangan Kecamatan Bangsri, Desa Lebak Kecamatan Pakis Aji di sebelah barat,
2. Desa Kepuk Kecamatan Bangsri di sebelah utara,
3. Desa Tanjung Kecamatan Pakis Aji di sebelah selatan, dan
4. Desa Tanjung Kecamatan Pakis Aji di sebelah timur.
Secara topografi, Desa Plajan dapat dibagi dalam dua wilayah, yaitu wilayah daratan rendah dan wilayah perbukitan. Wilayah terendah adalah wilayah RT 43, RW II, dan daerah yang tertinggi adalah di wilayah RT 39, RW VI yang merupakan daerah perbukitan. Desa Plajan memiliki variasi ketinggian antara 200 m sampai dengan 400 m dari permukaan laut. Suhu udara sekitar 18 – 25 °C dengan curah hujan berkisar 4 – 25 mm.Air permukaan berupa sungai-sungai yang bersumber dari Gunung Muria. Aliran air permukaan lancar karena pengaruh kontur (topografi) yang memungkinkan tidak muncul genangan. Selain air sungai yang bersumber dari gunung, juga terdapat air permukaan yang bersumber dari mata air (masyarakat Plajan menyebutnya belik). Belik-belik tersebut sebagian mengalir membentuk sungai-sungai kecil. Belik merupakan salah satu sumber utama bagi kebutuhan air bersih warga desa
Struktur ruang Desa Plajan terbentuk dari permukiman dan jaringan jalan yang terbentuk secara organik (alami) tanpa didahului dengan perencanaan menyeluruh, seperti ciri struktur ruang wilayah pedesaan pada umumnya di Indonesia. Pusat-pusat permukiman ditandai dengan mengumpulnya rumah-rumah (hunian) yang menyatu dengan tegalan yang mengikuti pola jaringan jalan. Pusat permukiman yang utama adalah pasar desa (Pasar Suwaluh) yang terletak di bagian tengah desa dan berfungsi sebagai pusat kegiatan ekonomi desa. Selain itu pusat permukiman yang utama adalah Balai Desa Plajan yang berlokasi tidak jauh dari pasar (+ 700 meter) sebagai pusat pelayanan administrasi pemerintahan desa.
Pola ruang desa dicirikan dengan fungsi budidaya dan fungsi lindung. Fungsi budidaya meliputi fungsi rumah sebagai hunian, fungsi perdagangan (dicirikan dengan pasar dan kios/toko), fungsi pemerintahan (dicirikan dengan Balai desa), fungsi pelayanan sosial dan budaya (dicirikan dengan sekolah, puskesmas, dan tempat ibadah), fungsi ekonomi (dicirikan dengan usaha/industri). Sedangkan fungsi lindung yang paling menonjol adalah daerah sempatan sungai yang bertebing curam.
Jumlah penduduk Desa Plajan berdasarkan pemetaan swadaya tahun 2010 adalah 7098 jiwa, terdiri dari 3533 penduduk laki-laki dan 3565 penduduk perempuan dengan komposisi sebagai berikut:
1. Usia produktif atau usia kerja merupakan kelompok terbesar dengan prosentase 59,2%.
2. Usia sekolah memiliki prosentase terbesar kedua dengan 18,9%.
3. Usia tua memiliki prosentase 12,6%.
4. Usia balita dengan prosentase terkecil 9,3%.
Pemeluk agama mayoritas adalah Islam dengan 93,7%, disusul pemeluk Kristen sebesar 0,6%, Pemeluk Hindu sebesar 5,6% dan Pemeluk Budha sebesar 0,1%. Sebuah fakta yang menarik bahwa di sebuah desa yang berada di kaki Gunung Muria ini memiliki keberagaman agama dan kepercayaan yang masing-masing memiliki aktivitas beribadah dan memiliki tempat ibadah masing-masing yang tersedia di Plajan (kecuali Wihara di desa tetangga, Desa Tanjung). Keberagaman agama tercermin dalam sikap saling menghormati aktivitas ibadah masing-masing dan menjadi nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Plajan
Monday, July 4, 2011
Kecamatan Kaliwungu Selatan
Kecamatan Kaliwungu Selatan merupakan salah satu kecamatan yang berada di wilayah Kabupaten Kendal yang mempunyai tujuh desa yaitu Desa Kedungsuren, Desa Jerukgiling, Desa Darupono, Desa Protomulyo, Desa Magelung, Desa Plantaran, dan Desa Sukomulyo yang luas wilayahnya yaitu 65,19 km2. Secara administrasi, batas dari Kecamatan Kaliwungu Selatan adalah berikut :
- Sebelah Utara : Kecamatan Kaliwungu
- Sebelah Selatan : Kecamatan Singorojo
- Sebelah Timur : Kota Semarang
Ketinggian rata-rata Kecamatan Kaliwungu Selatan dari permukaan air laut adalah 12 meter. Klimatologi di Kecamatan Kaliwungu Selatan sebagian besar curah hujannya banyak terjadi pada bulan januari dan februari. Pada tahun 2009 curah hujannya sejumlah 59 mm dengan rata - rata tiap Bulan 5 mm.
Ditinjau dari jenis tanahnya, yang terdapat di wilayah perencanaan adalah
- Alluvial, jenis tanah ini bersifat hidromorf dan berwarna kelabu, coklat dan hitam. Produktifitas tanah ini dari rendah sampai tinggi dan digunakan untuk pertambakan, pertanian padi dan palawija, serta permukiman.
- Latosol, tanah ini berwarna netral sampai asam berwarna coklat, coklat kemerahan sampai merah. Produktifitasnya sedang sampai tinggi dan digunakan untuk lahan pertanian padi, tembakau dan perkebunan.
- Mediteran Coklat Kemerahan, tanah ini merupakan jenis tanah peralihan antara alluvial dan latosol, bersifat agak netral dengan warna merah sampai coklat. Produktifitasnya sedang sampai tinggi dan biasa digunakan untuk sawah, tegal, kebun buah – buahan, padang rumput dan permukiman.
Dari ketujuh desa di Kecamatan Kaliwungu Selatan, sebagian besar wilayahnya merupakan rawan akan bencana. Rawan bencana ini dapat berupa tanah longsor dan banjir yang disebabkan adanya kondisi topografi dan adanya pengaruh iklim.
Di Kecamatan tersebut terdapat kawasan rawan banjir yang berada di Desa Protomulyo, Desa Plantaran, dan di Desa Magelung. Banjir di desa Protomulyo tepatnya berada di sungai berbatasan dengan Krajan Kaliwungu, sedangkan di Desa Plantaran tepatnya di pertigaan jalan Gladagsari ke Boja (Pasar Gladag) sampai ke pertengahan jalan menuju sawah yang diakibatkan pendangkalan sungai Aji Bawah serta pada Desa Magelung tepatnya berada sedikit di Karangsari.
Subscribe to:
Posts (Atom)






