Wednesday, April 1, 2015

Kecamatan Mojosongo

Kecamatan Mojosongo
Mojosongo merupakan salah satu kecamatan di wilayah Kabupaten Boyolali yang terbagi dalam 13 desa yaitu Dlingo, Metuk, Brajan, Kragilan, Butuh, Kemiri, Mojosongo, Tambak, Jurug, Manggis, Singosari, Madu, dan Karangnongko.  

Kecamatan Mojosongo yang terletak di sebelah ujung barat daya Kabupaten Boyolali memiliki fungsi utama sebagai pusat pelayanan sekaligus sebagai pusat kegiatan komersial. Adapun batas administrasi Kecamatan tersebut adalah sebagai berikut :


Sebelah Utara         : Kabupaten Semarang
Sebelah Selatan    : Kabupaten Klaten
Sebelah Timur        : Kecamatan Teras
Sebelah Barat        : Kecamatan Boyolali dan Kecamatan Musuk.

Kecamatan Mojosongo memiliki fungsi sebagai pusat pelayanan PKLp yang diarahkan sebagai pusat pemerintahan kecamatan, pengembangan permukiman, industri, tanaman pangan, tanaman perkebunan skala kecamatan/beberapa desa dengan luas wilayah 4341,164 Ha. Kecamatan yang berada pada ketinggian antara 400-700 m dan berada kelerengan 2-15% ini berdasarkan bentang lahannya memiliki morfologi yang bervariasi berupa dataran dan sebagian perbukitan. Satuan morfologi dataran adalah bentuk bentang alam yang didominasi oleh daerah yang relatif datar atau sedikit bergelombang.

Kecamatan ini juga dilalui oleh beberapa sungai yang tersebar di beberapa desa. Sungai terlebar  adalah Sungai Gandul dengan lebar 30 m. Pemanfaatan bendungan, mata air, dan sungai tidak hanya digunakan sebagai fungsi irigasi pertanian saja, namun juga digunakan oleh penduduk untuk pemanfaatan kebutuhan air bersih. Wilayah Kecamatan tersebut termasuk dalam wilayah dengan iklim tropis dan bertemperatur sedang dengan intensitas curah hujan 2.500-3.000 mm/tahun, kelembaban relatif rata-rata 80,8 % sehingga digolongkan sebagai kawasan dengan kelembaban yang cukup tinggi.
Jenis tanah yang terdapat di Kecamatan Mojosongo berupa tanah mediteran coklat tua, regosol kelabu, dan regosol coklat kelabu. Jenis tanah ini dapat digunakan untuk lahan terbangun (permukiman, industri, pertambangan, dan kawasan budidaya lainnya) dan lahan non-terbangun (lahan pertanian basah maupun perkebunan).

Keadaan masyarakat Mojosongo sebagian besar masih memegang kebudayaan dan adat istiadat Jawa, seperti contohnya di Desa Jurug  tepatnya di Dukuh Lawang yang masih memegang kepercayaan agar tidak membangun rumah yang pintunya menghadap ke arah selatan dan di Dukuh Slembi yang memegang kepercayaan untuk tidak menanam tanaman kacang panjang. Hal ini diyakini karena jika ada yang menanam kacang panjang bisa mengakibatkan keributan atau kerusuhan di desa tersebut. Selain itu sebagian besar penduduk yang mempunyai ternak seperti sapi lebih suka meletakkan kandang ternaknya di samping atau belakang rumah bahkan letaknya sangat berdekatan dengan rumah pemiliknya.

Beberapa komoditas yang mampu menunjang sektor perekonomian di wilayah tersebut antara lain pepaya, tembakau, padi, palwija dan lain sebagainya. Tanaman pepaya merupakan tanaman yang memberikan kontribusi terbesar terhadap pertanian di wilayah perencanaan Mojosongo, dimana Desa Karangnongko, Desa Madu, dan Desa Tambak merupakan desa yang paling unggul dalam hasil pertanian pepaya. Untuk Desa Karangnongko merupakan sentra perkebunan pepaya yang hasilnya mampu diekspor ke ke luar daerah seperti Jakarta, Tangerang, Jogjakarta, dan Bandung.Selain pepaya, tanaman tembakau juga merupakan salah satu tanaman yang menunjang perekonomian di wilayah Mojosongo terutama pengmbangan tembakau dari PT Indonesia Dwi Sembilan (IDS) di Desa Jurug dan Manggis.

Selain pertanian, potensi ekonomi lokal di wilayah ini  antara lain home industry pembuatan marning, mete, kerupuk, dan industri pembuatan jamu “Tilung”.  Industri Jamu Tilung terletak di Dukuh Sapiyan Desa Metuk yang merupakan industri kecil obat tradisional dalam kemasan kapsul yang berbahan baku dari cacing untuk mengobati berbagai penyakit khususnya tifus, maag, batuk dan lain-lain, yang dipasarkan mulai Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat dan DKI.

Selain komoditas yang telah dijelaskan di atas, potensi lokal yang mampu menopang perekonomian Mojosongo antara lain kerajinan ijuk dan peralatan kebersihan rumah tangga yang pemasarannya bisa diekspor sampai keluar Jawa seperti Bali dan Madura, kegiatan ini terletak di Desa Manggis. Sentra kerajinan yang lain adalah kerajinan motor antik yang terbuat dari kayu terletak di Desa Kemiri, selain miniatur motor juga terdapat produk yang lain seperti jam, pohon pisang, pohon pepaya, mobil-mobilan, sepeda motor dalam ukuran kecil.

Tags:

0 Responses to “Kecamatan Mojosongo”

Post a Comment

Subscribe

Mau berlanganan ? Silahkan masukkan emailmu di sini

© 2013 Fotopedia. All rights reserved.
Designed by SpicyTricks